
Pria misterius buru-buru menengahi keduanya, kalau tidak telat sedikit saja bisa berakibat fatal. Dia coba melerai agar keduanya tidak saling menumpahkan darah karena sesama rekan untuk penyerangan malam ini.
“Aku sudah menyelesaikan tugas ku, aku ingin imbalan yang telah dijanjikan dan harus segera dipenuhi. Aku beri waktu kepada kalian selama dua hari, jika sampai waktu ditentukan tidak aku terima maka aku tidak akan segan membuat perhitungan!”, setan merah mengingatkan kepada pria misterius akan kesepakatan yang telah dia buat dengannya sebelum penyerangan.
Pria misterius mengiyakan permintaan setan merah dan berjanji akan menepati kesepakatan tersebut. Sementara raut wajah menteri Balda terlihat sangat penasaran sambil mendengarkan percakapan keduanya.
“Apa yang disepakati oleh keduanya? Apakah itu adalah hal yang penting?”, batin menteri Balda seolah berkecamuk karena rasa penasaran tersebut.
“Aku akan kembali ke padepokan sekarang. Aku tidak ingin berurusan dengan hal politik, cukup dengan imbalan yang telah dijanjikan aku akan tutup mulut”, setan merah kembali menjelaskan dan berniat meninggalkan tempat tersebut.
Karena merasa semua masalah telah usai diselesaikan, setan merah lantas beranjak pergi dari tempat itu. Menteri Balda dan pria misterius melihat setan merah pergi menjauh dan setelah wujudnya hilang digelapnya malam mereka berdua kembali memperhatikan situasi disekitar.
Kumpulan mayat bergelimpangan disertai amis darah yang membasahi tempat pelaminan. Untuk orang biasa yang melihat hal seperti itu pasti akan tertekan dan mungkin akan kehilangan nafsu makan selama beberapa hari.
“Lapor menteri, pasukan kerajaan Adipura telah berhasil dilumpuhkan dan hanya sedikit yang menyatakan menyerah. Bagaimana kami menyikapi mereka?” laporan seorang prajurit penyerang memecahkan lamunan menteri Balda dan pria misterius.
“Ikat mereka lalu kumpulkan di depan ku. Dan panggilkan juga pangeran Jaka untuk menghadap ku!”, perintah menteri Balda.
“Baik menteri”, prajurit itu pun pergi untuk menjalankan tugasnya.
“Kenapa aku hanya melihat menteri disini? Dimana istri menteri sekarang?”, setelah keadaan tenang pria misterius bertanya perihal istri dari menteri Balda.
__ADS_1
“Seharusnya pertanyaan itu aku tunjukkan padamu. Dia datang dengan murid Jaka yang terluka lalu memintaku untuk menolong murid Jaka. Setelah itu dia meminta izin agar pergi membantu disini, aku pikir ia sudah disini. Lantas dimana dia sekarang?”, menteri Balda balik bertanya karena keheranan.
Pernyataan dari menteri Balda membuat pria misterius terkejut, ia bahkan belum melihat adik seperguruannya tersebut. Terakhir kalinya ia melihat pisau darah mundur untuk membawa pangeran Jaka ke tempat yang aman.
Tak pernah ia sangka bahwa keberadaan pisau darah tidak diketahui oleh siapapun membuat suasana menjadi sedikit panik. Buru-buru ia memberi perintah kepada prajuritnya agar mencari keberadaan dari pisau darah.
***
Raja Aryo sedang menemani istrinya yang sedang tertidur lelap, ia masih saja mengelus rambut dari istrinya. Kondisi istrinya yang sempat pucat dan lemas perlahan mulai membaik, dalam keadaan tidur ada secerca senyuman yang terlihat di bibir istrinya.
Pikiran raja Aryo tidak hanya tentang istri di depannya namun juga keadaan di istana, dia memerintahkan beberapa prajurit untuk melihat situasi disana dan setelahnya segera memberitahukan kepadanya.
“Mengapa mereka lama sekali? Apa situasi semakin memburuk? Apakah Patih Yarna dan yang lain masih selamat disana?”, pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiran raja Aryo.
“Raja... Raja... Cepat pergi sebel...”, kata-kata itu tidak sempat diselesaikan oleh salah satu orang yang berlari. Orang yang berbicara itu sekarang terjatuh karena tersandung akar pohon di depannya, karena gelapnya malam serta tidak memperhatikan sekitar akibat ketakutan membuat ia tidak fokus.
Raja Aryo buru-buru menghampiri orang tersebut untuk membantunya, setelahnya ia baru menyadari bahwa tiga orang itu adalah prajurit yang ia tugaskan untuk melihat situasi di istana.
“Apa yang terjadi? Kenapa kalian tergesa-gesa seperti ini? Dan dimana pakaian prajurit kalian?”, pertanyaan bertubi-tubi itu raja Aryo arahkan kepada prajurit yang kini berlutut di depannya dengan nafas ngos-ngosan setelah berlari sekuat tenaga.
"Pasukan penyerang berhasil memergoki kami, mereka mengejar dengan jumlah ratusan orang. Kami melepaskan pakaian prajurit agar lebih cepat berlari untuk memberitahukan laporan ini", prajurit yang terjatuh tadi menjelaskan apa yang telah terjadi.
__ADS_1
“Pasukan kita dikalahkan raja, tidak ada harapan untuk kembali kesana”, sambung salah satu prajurit lain.
Prajurit itu kembali menjelaskan apa yang telah mereka saksikan. Penyerangan yang terjadi di dalam istana begitu mengerikan bahkan tidak bisa dibilang penyerangan namun sebuah pembantaian.
Lautan mayat bergelimpangan dengan kondisi yang tidak enak dipandang baik anak-anak, laki-laki, perempuan semuanya tewas mengenaskan. Tidak ada yang tersisa dari tamu undangan dan terakhir prajurit itu menjelaskan proses kematian Patih Yarna kepada raja Aryo.
Patih Yarna bertarung mati-matian bersama Patih yang lain dibantu prajurit di istana karena kekuatan musuh jauh diatas akhirnya membuat mereka harus gugur malam ini.
Mata raja Aryo memerah menahan amarah sebab dari penyampaian prajuritnya setan merah begitu sadis menghabisinya. Hubungan raja Aryo dan Patih Yarna amatlah dekat karena Patih Yarna sudah mengabdi semenjak ayahandanya masih menjadi raja.
Sosok yang bisa menjadi panutan sebab disiplin dalam menjalankan tugas serta memiliki sifat rendah hati dan dekat dengan para prajurit.
Dan saat Aryo diangkat menjadi raja baru, Patih Yarna adalah orang pertama yang memberikan selamat kepadanya serta berjanji akan melayani sampai akhir hayatnya.
"Semoga beliau tenang menghadap dewa", raja Aryo berharap kematian Patih Yarna tidaklah sia-sia. Dia mengepalkan tangan erat dan berjanji akan balas dendam atas kematian Patih Yarna.
“Beritahu yang lain agar segera bersiap bergerak. Kita akan ke wilayah kerajaan Gundala untuk meminta perlindungan disana. Kejadian hari ini akan kita balas dikemudian hari!”, perintah raja Aryo kepada prajuritnya.
Para prajurit segera bergerak untuk melaksanakan perintah dari rajanya tersebut, mereka bergerak cepat untuk memberi tahu yang lain serta mengemasi barang-barang yang bisa dibawa.
Dalam hening raja Aryo menatap langit dengan tatapan penuh kesedihan, tanpa disadarinya tangannya bergetar seperti kedinginan. Karma apa yang telah dibuat kerajaan Adipura sehingga semua ini terjadi, bahkan menjadi orang baik pun masih ada saja orang yang membenci kita.
__ADS_1
Dia memandangi langit seraya berucap, "Bagaimana cara kami untuk menyelesaikannya? Tidak kah ini terasa tak adil! Mengapa ini semua terjadi kepada kami!", raja Aryo berteriak sekuat tenaganya ke arah langit, berharap para dewa mendengarkan jeritan hatinya tersebut.