Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
13. Berteduh


__ADS_3

Dalam derasnya hujan Aryo menghentikan langkah kudanya dan menoleh ke arah desa tempatnya. Dia berniat pulang untuk memeriksa keadaan istrinya namun niat tersebut segera dihadang oleh pria sepuh yang bersamanya.


“Ampun tuan muda, hamba mengerti kekhawatiran tuan muda. Tapi ada hal yang sangat membutuhkan kehadiran tuan muda, kita serahkan saja pada dewa dan berharap istri tuan muda tidak mengalami apapun atas kejadian ini”, pria sepuh mencoba mengingatkan Aryo.


“Baik paman, semoga dewa mendengarkan permintaan kita. Mari kita sambung perjalanan kita yang tertunda”, Aryo kembali memacu kudanya dengan cepat sebisq yang kudanya mampu. Hujan yang begitu lebat mengakibatkan jarak pandang mereka menjadi terbatas.


Langit masih terus menurunkan airnya dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Tak terasa sekarang sudah tepat tengah malam dan seharusnya mereka sudah tiba di markas pemberontak.


Akibat curah hujan yang sangat tinggi membuat kuda yang ditunggangi pria sepuh tergelincir dan jatuh ke lereng bukit. Pria sepuh berhasil selamat namun kudanya terus terjatuh ke bawah bukit dan hanyut dibawa derasnya banjir.


Aryo yang melihat kejadian itu buru-buru menghampiri tempat pria sepuh terjatuh dan menolongnya. Karena dipastikan teman perjalanannya tidak mengalami luka apapun Aryo berniat mengajaknya untuk mencari tempat berteduh.


“Paman sebaiknya kita lanjutkan dengan berjalan kaki. Kita juga tidak bisa meneruskan perjalanan dalam hujan selebat ini, aku yakin tidak jauh dari sini pasti ada tempat untuk kita berteduh”, ajak Aryo kepada pria sepuh tersebut.


“Maaf tuan muda, perjalanan kita terhenti karena kesalahan hamba”, balas pria sepuh.


“Ini bukan salah paman, keadaan yang membuat kita begini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita”, ajak Aryo kembali.


Keduanya kini menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, perlahan namun pasti mereka yakin akan sampai walau sedikit terlambat. Saat ini harapan mereka adalah menemukan tempat berteduh dari hujan yang sangat lebat ini.


Saat mereka menuruni bukit dari jauh tampak ada sebuah pondok kecil dengan penerangan berupa obor. Keduanya mempercepat langkah agar sampai disana untuk menumpang berteduh. Perlahan pondok itu dapat mereka lihat dengan jelas namun setelah cukup dekat mereka melihat ada kejanggalan yang terjadi di pondok kecil itu.


“Paman apakah engkau pernah melihat yang seperti ini?”, Aryo bertanya dengan mata melotot seakan tak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya sendiri.

__ADS_1


“Hamba baru kali ini melihatnya tuan muda, ini benar-benar tidak masuk akal”, jawab pria sepuh sambil mengusap matanya berharap yang dilihatnya hanya lah mimpi.


Keduanya mematung diderasnya hujan tidak jauh dari pondok tersebut. Fenomena yang dilihatnya begitu asing dan sangat tidak wajar, seumur hidup mereka baru kali ini mereka menemukan hal seperti ini.


Penyebab dari reaksi keduanya dikarenakan pondok tersebut tidak terkena hujan sedikitpun dan diatas pondok tersebut seperti ada dinding tembus pandang yang menahan tetesan air hujan yang mengarah menuju pondok.


Karena terlalu terkejut membuat mereka melamun, namun lamunan mereka akhirnya buyar ketika melihat sosok yang keluar dari balik pintu pondok tersebut. Sosok itu memakai jubah kuning dengan tongkat hanya setinggi pahanya.


Aryo mengernyitkan matanya untuk memperhatikan lebih teliti sosok di depannya, dan ternyata sosok itu adalah seorang kakek-kakek dengan jenggot putih serta posisi tubuh sudah membungkuk, mungkin faktor usia menurutnya.


***


Ki Ratno sedang duduk bersemedi di dalam pondoknya, hujan yang lebat tidak membuat konsentrasinya buyar sedikit pun. Namun tidak lama dari arah bukit samar-samar dia merasakan ada dua orang yang mendekat ke pondoknya. Setelah dirasanya kedua orang itu sudah dekat, dia membuka mata dan meraih tongkatnya sebagai bantuan untuk berdiri.


Dia tersenyum hangat seraya melambaikan tangan agar keduanya mendekat ke pondoknya, “Apakah aku bermimpi atau memang orang tua itu melambaikan tangan kepada kita tuan muda?”, pria sepuh spontan bertanya setelah melihat lambaian tangan dari sosok yang mereka lihat.


“Bukan mimpi paman tapi memang nyata terjadi, orang tua itu menginginkan kita kesana menemuinya” balas Aryo.


Keduanya saling berpandangan dan tidak lama mereka memutuskan untuk menghampiri orang tersebut. Ketika sudah dekat orang itu tersenyum ramah dan segera mempersilahkan keduanya masuk ke dalam pondok.


"Silahkan masuk", orang tua itu mengajak pra tamunya. Aryo dan pria sepuh menerima ajak tersebut dan ketiganya kini sudah berada di dalam pondok.


Suasana di dalam pondok sangat sederhana dan bisa dibilang sedikit tidak nyaman ditinggali untuk beberapa orang. Mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana ada orang yang mendiami pondok ini yang jauh dari keramaian. Keduanya masih menatapi keadaan pondok sampai suara asing mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


“Hujan lebat seperti ini akhirnya membawakan ku tamu. Maaf kalau pondok ku kurang nyaman untuk kalian, sejujurnya aku tak menyangka akan kedatangan dua orang dengan basah kuyup seperti ini”, orang itu mulai mengajak bicara para tamunya.


“Justru kami yang minta maaf paman, kami disini ingin menumpang berteduh sesaat sampai hujan berhenti dan meneruskan perjalanan kami” jawab Aryo dengan sopan kepada orang di depannya.


“Dalam sebuah perjalanan? Bolehkah aku bertanya kemana tujuan kalian”, orang tua itu kembali bertanya.


Kini pria sepuh dan Aryo saling memandang satu sama lain, sebenarnya mereka pikir tujuan mereka tidak boleh ada yang tahu karena merupakan tempat yang amat rahasia. Melihat gelagat tamunya seperti itu orang tua tersebut tertawa dan mencoba mencairkan suasana.


“Hahahaha.... Tidak apa-apa pria tua ini mengerti, sepertinya kalian akan melakukan tugas penting. Sebelum itu mari keringkan tubuh kalian terlebih dahulu”, sambung orang tua tadi.


"Mohon maaf paman, bolehkah kami tahu nama dari paman?", Aryo mencoba mencarikan suasana akibat sikap mereka yang sebelumnya diam ketik ditanya.


Orang tu itu tersenyum ke arah Aryo, "Sudah lama tidak ada yang menanyakan namaku, baiklah nama pria tua ini ialah Bayuratno. Anak mudah seperti mu lebih bagus memanggilku dengan sebutan ki Ratno", jelas orang tua tersebut dengan tawa mengakhiri omongannya.


"Terima kasih ki telah membantu kami disaat hujan yang tampak tidak akan habis hari ini"


"Tidak perlu sungkan aku senang membantu"


"Apakah ki Ratno tinggal sendirian disini?", Aryo bertanya penasaran.


"Oohhooo... Pria tua ini selalu sendiri anak muda, sebab sudah takdir dari langit", balas ki Ratno.


Aryo terdiam setelah mendengar penjelasan dari ki Ratno barusan, hidup sendirian tanpa seorang teman pun, bahkan tak memiliki rumah yang bagus serta kondisinya yang cukup memprihatinkan.

__ADS_1


"Aku tahu pikiran mu anak muda, tapi engkau harus tahu tubuh dulunya merupakan idaman setiap wanita yang melihatnya", ki Ratno tertawa keras sampai air matanya keluar.


__ADS_2