
Hati Aryo terhenyak saat mendengar kata-kata terakhir dari pria sepuh. Sebuah perkataan yang biasa saja namun mengandung makna yang sangat dalam.Dia kemudian memejamkan mata seraya menghembuskan nafas pelan, hatinya yang awalnya gundah kini sudah bisa tenang lewat perkataan lawan bicaranya barusan.
Mati adalah pasti, setiap insan akan mengalami kematian baik ketika masih muda atau sudah tua. Melihat kesungguhan dari kata-kata pria sepuh membuat hatinya bergetar sesaat sebelum kemudian timbul rasa hormatnya kepada pria sepuh.
Keduanya terus berdiri memandangi kobaran api itu sampai sinar surya mentari mulai menunjukkan wujudnya. Kobaran api itu pun sekarang sudah kecil dan sebentar lagi mungkin akan padam. Dari awal upacara pemakaman hanya Aryo dan pria sepuh yang masih berdiri bertahan sampai pagi tiba.
Setelah dirasa api akan padam keduanya kemudian berjalan menuju tempat istirahat mereka masing-masing, kejadian malam tadi takkan pernah mereka lupakan. Sebuah pertarungan dan sekaligus pembelajaran tentang hidup sebagai seorang pendekar sejati.
***
“Patih Purno diminta menghadap tuan muda di ruangan rapat segera”, ucap seorang Patih yang pernah menemui Patih Purno sebelumnya.
“Baik, mari segera berangkat”, ajak Patih Purno.
Keduanya kemudian berjalan beriringan sembari bercerita tentang kejadian barusan yang terjadi. Dalam perbincangan tersebut teman bicaranya Patih Purno mengungkapkan rasa kagumnya kepada dirinya, menurutnya akan ada sebuah harapan bahwa kemenangan akan dapat diraih jika Patih Purno bersama mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama Patih Purno kini sudah sampai di ruangan rapat yang kini sudah ramai diisi oleh petinggi-petinggi dari aliansi pemberontak. Setelah kehadiran Patih Purno rapat itupun dimulai dengan dipimpin oleh Aryo sendiri. Rapat itu membahas tentang kejadian tadi malam, menurut mereka itu perlu dicarikan sebuah solusi untuk melawan orang-orang seperti itu.
“Satu saja seperti itu sudah merepotkan, apalagi jika ada ratusan bahkan ribuan!”, ucap salah satu Patih yang tergabung dalam aliansi.
“Benar, lawan kita terlalu berat. Apakah kita sanggup melawannya nanti?”, timpal seorang pendekar yang sudah berumur.
Suasana menjadi sedikit ribut dengan berbagai argumen yang terus mempermasalahkan kejadian tadi malam. Ini wajar terjadi mengingat kekuatan orang asing tersebut cukuplah besar dan itu tidak akan menjadi hal baik jika jumlah mereka ada ratusan atau ribuan.
Namun itu tidak berlangsung lama setelah suara dari Patih Purno keluar semuanya terdiam, “Lawan kita bukan dewa, tapi manusia seperti kita juga!”, Patih Purno buka suara memecah keributan.
"Memang benar orang asing tersebut bukan dewa tapi beberapa dari petinggi-petinggi disini memiliki pasukan yang cukup jauh kekuatannya dari orang asing tersebut!"
__ADS_1
"Benar, aku tidak ingin pasukan ku menghadapi keganasan dari orang asing itu!"
"Para bawahan ku akan mengalami kesulitan jika bertemu dengan mereka di medan perang!"
Banyak para petinggi pasukan aliansi memberikan komentar atas ucapan dari Patih Purno barusan. Mereka tidak ingin menderita kerugian yang besar dalam perang tersebut, namun bukannya panik Patih Purno malah tersenyum menanggapi reaksi dari para petinggi pasukan pemberontak.
"Bukankah itu bagus, dengan melihat kekuatan dari lawan kita barusan akan menyadarkan para prajurit kita bahwa lawan benar-benar serius menghabisi kita", terang Patih Purno.
"Apa maksud patih?"
"Pendekar sejati terlahir dari pertarungan yang sengit, bukankah begitu?"
Pertanyaan Patih Purno membuat seisi ruangan rapat menjadi hening, para tamu rapat mengingat kembali semboyan yang biasa di dengar mereka ketika akan menjadi seorang pendekar.
"Kalian terlalu fokus terhadap kekuatan lawan sampai lupa akan kekuatan dari pasukan kita sendiri, memang kita kalah dalam jumlah tapi ada hal yang lebih penting! Memang benarumlah memang menguntungkan dalam suatu peperangan, tapi pikiran yang jernih lebih bagus daripada otot dalam sebuah pertarungan."
Patih Purno kembali menerangkan maksudnya yang tidak lain adalah untuk membuat para petinggi aliansi pemberontakan lebih memahami kekuatan yang ada bersama mereka dan memanfaatkannya sebaik mungkin dalam medan perang nanti.
"Terima kasih atas nasihat yang telah Patih Purno berikan", Aryo tersenyum sekaligus memberi hormat kepada Patih Purno.
"Tidak perlu sungkan tuan muda, kita disini datang dengan satu tujuan dan tentu saja tujuan itu harus kita lakukan sebaik mungkin", balas Patih Purno dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Tapi bagaimana kita akan mengatasi masalah ini jika memang kita akan bertemu dengan orang-orang kulit hitam itu?", pria sepuh ikut berkomentar.
“Untuk urusan suku kulit hitam serahkan saja pada kami, namun aku juga akan meminta sedikit bantuan dari para petinggi pasukan yang lain", Patih Purno mulai menjelaskan strategi nya, "Dan untuk strategi yang sudah disusun kemarin akan ada sedikit perubahan”, tambahnya.
“Perubahan seperti apa yang akan Patih lakukan?”, Aryo bertanya.
__ADS_1
Aryo pikir strategi yang telah disusun kemarin bersama pria sepuh dan Patih Purno sudah sangat bagus tapi mendengar pernyataan Patih Purno barusan membuatnya sedikit bingung. Reaksi yang dibuat oleh Aryo membuat Patih Purno tersenyum, dia kemudian mulai menjelaskan strategi baru yang telah ia susun.
"Baiklah, tolong semuanya mendengarkan karena ini akan sedikit rumit. Pada bagian ini nantinya..."
Semua orang mendengarkan tiap-tiap penjelasan dari Patih Purno itu dengan seksama. Awalnya mereka merasa tidak senang dengan strategi baru tersebut, wajar saja karena strategi itu sangat liar bahkan bisa dibilang nekat.
Patih Purno meminta agar para petinggi pasukan pemberontak tetap diam dan mendengarkan penjelasannya. Raut wajah para tamu rapat yang awalnya menunjukkan rasa tidak senang perlahan berubah setelah penjelasan akhir dari Patih Purno.
Aryo, pria sepuh dan para petinggi pasukan pemberontak akhirnya mengetahui maksud dari strategi baru yang telah dibuat oleh Patih Purno. Walaupun terkesan nekat namun sepertinya strategi tersebut layak dicoba ketika di dalam perang nanti.
Sebab dari pernyataan Patih Purno yang telah melewati berbagai peperangan yang berat para pasukan musuh akan terpancing ke dalam strategi mereka nantinya.
"Kami akan membantu sebaik mungkin"
"Jika memang strategi itu berhasil kita akan memiliki kekuatan untuk menghadapi lawan"
"Benar, sebaiknya kita serius dalam menjalankan strategi ini"
Para petinggi pasukan pemberontak memberikan komentar setelah penjelasan dari Patih Purno selesai, mereka sepakat akan mengikuti semua arahan dalam strategi yang telah disusun.
Sebagai pemimpin pasukan pemberontak, Aryo lantas meminta agar Patih Purno yang menjadi pemimpin di dalam perang nantinya.
"Saya tidak bisa menerimanya tuan muda"
"Tidak perlu sungkan Patih, yang lebih memahami strategi ini adalah Patih Purno sendiri. Kami akan mengikuti setiap arahan yang Patih berikan nantinya, dan semuanya pasti setuju jika Patih Purno yang memimpin nantinya, betul bukan?
"Iya benar, tolong terima tempat itu patih"
__ADS_1
"Kami percaya kepada Patih Purno"
Patih Purno tersenyum canggung dengan reaksi dari para tamu rapat tersebut, akhirnya ia menerima tanggung jawab tersebut dengan syarat Aryo yang menjadi wakilnya dalam perang tersebut.