
Keduanya tidak menyangka bahwa dalam perang tersebut mereka dihadapi bahwa kombinasi mereka dapat dipatahkan oleh seorang Patih yang sangat terkenal di kerajaan Gundala. Patih tersebut tidak lain adalah Patih Purno sendiri, pertarungan mereka cukup membuat suasana perang kala itu menjadi semakin meriah.
Lawannya yang beranggapan bahwa Patih Purno tidak akan mempu menahan kombinasi mereka harus dibuat menelan ludah sebab Patih Purno mendominasi pertarungan saat itu.
Karena kecerdasan yang Patih Purno miliki serta siasat jitu yang ia jalankan akhirnya pertarungan itu ia menangkan dengan salah satu dari lawannya harus merenggut nyawa di tangannya.
Karena itulah salah satu pendekar pedang kembar yang selamat menaruh dendam kesumat kepada Patih Purno dan bertekad membalaskan kematian saudaranya tersebut.
Saat ia mendengar pihak kerajaan Kendala kembali menghadapi perang yang mungkin saja bertemu dengan pasukan yang dipimpin Patih Purno, dia adalah orang pertama yang menjadi sukarelawan dalam perang tersebut.
***
Senyuman Patih Purno membuat orang yang disebut sebagai pendekar pedang kembar ini menjadi begitu emosi, ia tidak bisa lagi menahan luapan amarahnya, "Serang dia dengan kekuatan penuh!!! Pastikan ia mati dengan ribuan luka tusukan ditubuhnya!!!", orang itu memberi perintah kepada pasukan yang tak lain adalah pasukan serigala hitam.
Pasukan serigala hitam bergerak serempak untuk menyerang Patih Purno dengan dipimpin oleh pendekar pedang kembar tersebut. Pertarungan diantara mereka mulai menimbulkan dentingan pedang yang bertemu tongkat besi tombak milik Patih Purno.
Kombinasi yang digunakan dalam formasi pengepungan itu membuat Patih Purno sempat menahan nafas beberapa saat. Ia dapat merasakan setiap orang dari pasukan ini setara dengan pendekar harimau belang dan beberapa lagi baru saja masuk dalam tingkatan pendekar harimau putih.
Itu merupakan kekuatan yang besar yang pernah ia hadapi sampai saat ini, ia tidak habis pikir mengapa pasukan seperti ini tidak diturunkan sejak awal peperangan dimulai. Bak seperti digambarkan petir ia baru menyadari alasan mengapa pasukan ini baru digunakan sekarang.
Musuhnya sengaja menyembunyikan pasukan dengan kekuatan sebesar ini untuk detik-detik terakhir dalam perang disaat kekuatan mereka sudah berkurang separuhnya. Dengan itu musuh mereka akan mudah menaklukkan pasukan yang sudah kehilangan separuh dari kekuatan penuhnya.
__ADS_1
Patih Purno tersenyum pahit melihat formasi dari lawannya yang kini terus menekannya tanpa jeda sedikitpun. Pasukan serigala hitam tidak membiarkan Patih Purno mengambil kesempatan bernafas banyak, mereka terus menyerang dari segala arah dan berakhir dengan terdesaknya Patih Purno.
"Mati kau bajingan tua!", pendekar pedang kembar berseru lantang ketika pedangnya kembali mengarah ke leher Patih Purno dari belakang.
"Sial!!!"
Patih Purno hendak menghindari serangan itu namun pasukan serigala hitam yang lain terus menyerangnya sehingga tidak ada celah untuknya menghindar.
Saat ia rasa nyawanya tidak akan tertolong malam ini namun sebuah harapan tiba-tiba saja datang menghampirinya. Pedang yang tertuju ke lehernya kini sudah terjatuh ke tanah karena pemiliknya segera bergerak mundur karena sebuah golok lebih dulu mengancam leher pemilik pedang kembar tersebut.
Subani datang disaat yang paling tepat, ia sebelumnya masih sibuk dalam menghadapi lautan musuh yang mencoba menghadangnya. Saat itulah ia menyadari ada perasaan yang aneh dimana seharusnya musuh tidak datang sebanyak ini ke arahnya.
Subani lantas bergegas ke arah rekannya dan berniat membantu, tentu saja pasukan musuh yang bertugas menghadangnya tidak tinggal diam. Dengan segala cara mereka mencoba menghentikannya namun Subani layaknya seperti ombak menyapu bersih apa yang ia temui di depannya.
***
Pendekar pedang kembar menyadari sebuah serangan yang datang mengarah kepada dirinya, ia hampir saja menebas leher musuhnya namun disaat genting sebuah tebasan golok mengarah ke tangan yang ia gunakan untuk mengayunkan salah satu pedang kembarnya.
Tebasan golok itu lebih cepat daripada tebasan pedang yang ia arahkan kepada leher lawannya sehingga membuatnya harus melepaskan pedang yang ia pegang dan bergerak mundur untuk mengambil jarak.
Setelahnya ia menemukan seorang pria paruh baya dengan pakaian serba merah dilengkapi sarung yang terikat rapi di pinggangnya. Namun perhatiannya tertuju kepada golok yang dipegang oleh orang itu, begitu tajam bahkan dikegelapan malam mata golok tersebut dapat terlihat.
__ADS_1
"Maaf aku datang terlambat", Subani berdiri membelakangi Patih Purno.
"Haaahh... Haahhh..."
Kedatangan Subani begitu tepat sehingga membuat dirinya masih bia bernafas hingga saat ini. Patih Purno hendak berbicara namun nafasnya sudah berat dan ngos-ngosan sehingga ia butuh waktu untuk menanggapi omongan rekannya.
"Tidak perlu memaksakan diri, istirahatlah dulu disini sebentar. Aku yang akan memberikan mereka pelajaran penting malam ini", Subani kembali berbicara.
Patih Purno hendak menghentikan rekannya yang ingin menghadapi gerombolan pasukan serigala hitam ini. Namun seperti bisa membaca pikiran Subani lantas tersenyum, "Kau tidak perlu khawatir, bukan hanya mereka yang punya kekuatan besar seperti ini. Kita juga memilikinya kawan"
Setelah ucapan dari Subani selesai, tidak lama kemudian segerombolan pasukan berpakaian serba merah datang mendekat ke area pertarungan Patih Purno. Pasukan itu ialah pasukan yang Subani bawa dari padepokannya sendiri dan sebagian dari mereka merupakan rekan serta murid padepokannya yang terkenal sebagai padepokan tangan besi.
Jumlah mereka hampir menyamai jumlah pasukan serigala hitam yang mengepung Patih Purno barusan. Tidak ingin membuang waktu Subani lantas maju tanpa berbincang lagi dengan rekannya, melihat pemimpinnya yang sudah maju membuat pasukan Subani juga mengambil langkah yang sama.
Pertarungan antara dua kekuatan besar itu akhirnya terjadi, tiap-tiap pasukan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghadapi lawannya. Sedangkan Subani bergerak ke arah pendekar pedang kembar yang hampir saja merenggut nyawa rekannya.
Ia ingin membuat perhitungan kepada pendekar tersebut, namun baru beberapa saat mereka saling bertukar serangan ia mendengar suara lantang dari arah belakang, "Itu sudah cukup! Aku yang akan menghadapinya kembali, ia masih ada hutang yang harus dibayar!", Patih Purno berdiri di tengah riuhnya suasana perang.
Subani tersenyum pahit, walaupun ia hendak menutup telinga karena ia sudah merasa diatas angin namun ia sangat paham akan maksud dari perkataan lawannya. Ia lantas menyerang sekali lagi dan kemudian bergerak mundur sekaligus mengincar pasukan serigala hitam yang berkekuatan setara pendekar harimau putih.
Pendekar pedang kembar tersenyum terkekeh, ia yang hampir terdesak kini bisa bernafas lega. Ia memandangi musuh lamanya yang kini menantangnya kembali dalam duel yang terasa cukup adil.
__ADS_1