
"Apa kau masih ingin membalaskan dendam saudaramu?"
"Tentu saja bajingan tua!!! Aku tidak akan hidup dengan tenang sebelum ku balaskan kematian saudara ku!!!"
"Kalau begitu kita akhiri sekarang!!! Kita akan lihat siapa yang lebih dulu menyusul saudaramu itu, aku atau kau!!!"
"Tua bangka!!! Maju kau sialan!!!"
Keduanya bergerak bersamaan mempersempit jarak dan ketika sudah dekat tombak serta pedang mereka kini saling beradu dengan cepat. Pertarungan keduanya kemudian berlanjut dan mereka saling bertukar serangan sehingga membuat suasana pertempuran semakin meriah.
Nafas Patih Purno sudah mulai membaik setelah istirahat yang ia dapatkan barusan, pertarungan diantara keduanya terus berlanjut dan belum menandakan pihak mana yang mendominasi pertarungan tersebut.
Patih Purno dengan gencar melancarkan serangan sementara lawannya juga tidak kalah dalam hal yang sama. Tombak Patih Purno kini mengincar posisi pergerakan lawannya dengan cepat, ia terus mengarahkan serangannya ke tempat yang sama secara terus-menerus.
Sementara itu pendekar pedang kembar tidak tinggal diam, dengan cekatan ia menghindari serangan dari lawannya. Ia terus menghindari serangan itu tanpa mengetahui bahwa ada maksud dari serangan yang dilancarkan oleh lawannya tersebut.
Patih Purno awalnya memang mengincar posisi kaki dari lawannya agar ia bisa menggunakan sebuah siasat yang ia baru dapatkan saat sedang istirahat tadi. Ia ingin mencoba siasat itu, instingnya mengatakan jika berhasil akan berbuah manis untuknya.
Ia menunggu waktu yang tepat untuk mebgelabuhi lawannya ini, sementara pendekar pedang kembar terus-menerus menghindari serangan tombak yang tertuju kepadanya tepat di kakinya. Serangan-serangan itu ia hindari dengan cukup mudah dan berakhir dengan tombak itu menusuk tanah tempat ia berpijak.
Ia memang sengaja melancarkan serangan demi serangan ke arah kaki pendekar pedang kembar, walaupun serangan berhasil dihindari lawannya dan berakhir menancap di tanah nyatanya ia tidak berhenti. Ia tidak membiarkan lawannya bergerak kemanapun dari posisinya, Patih Purno terus bergerak mengelilingi lawannya sambil melancarkan serangannya.
Dengan jangkauan tombaknya yang panjang ia lebih leluasa melakukan aksinya sehingga lawannya hanya bisa menghindar tanpa bisa melakukan serangan balasan. Saat waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba ia segera menjalankan siasatnya.
"Kena kau!", Patih Purno tersenyum setelah lawannya berhasil masuk jebakan yang telah ia buat.
__ADS_1
Tanah tempat pendekar pedang kembar berpijak kini sudah menjadi sedikit gembur karena terus mendapat tusukan dari tombak Patih Purno. Debu dari tanah tersebut mulai sedikit beterbangan di udara, senyuman Patih Purno kini terlukis di wajahnya.
Ia kemudian mengumpulkan tenaga dalam yang cukup besar di tangannya dan segera meloncat ke udara menuju ke arah lawannya. Dengan gerakan hendak menusuk dengan sebelah tangan mata tombak Patih Purno melesat menuju dada lawannya.
Pendekar pedang kembar terkejut dengan aksi yang ditunjukkan oleh lawannya, ia kemudian mengangkat pedangnya untuk menahan mata tombak tersebut. Karena tidak sepenuhnya siap tombak Patih Purno berhasil memukul mundur lawannya beberapa langkah dan kini Patih Purno berada di dekat tanah yang sudah gembur tersebut.
Belum sempat lawannya mengatur posisinya dengan baik, Patih Purno lantas melakukan sebuah gerakan memukul dengan tombaknya tepat ke tanah yang sudah gembur. Karena tanah yang sudah gembur tersebut berukuran kecil sehingga ketika dipukul oleh Patih Purno tanah itu berubah menjadi debu yang cukup pekat.
Debu itu kemudian mengarah tepat ke tempat pendekar pedang kembar berada. Alangkah terkejurnya pendekar pedang kembar setelah mendapati bahwa debu yang berasal dari tanah begitu pekat menuju ke arahnya.
Pandangannya menjadi terhalang karena debu itu sehingga ia tidak bisa melihat dimana lawannya sekarang berada. Ia kemudian menutup pandangannya menggunakan kedua lengannya namun dengan posisi hendak bertahan.
Pedangnya masih ia pegang erat untuk berjaga-jaga kalau saja ada serangan mendadak dari lawannya. Debu yang mengarah kepadanya kini mulai menerpa sehingga pandangannya menjadi kabur.
Melihat lawannya sudah masuk dalam perangkatnya membuat Patih Purno tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ia segera melompat ke udara dan menggunakan jurus andalannya yaitu jurus pematah besi.
Pendekar pedang kembar yang tidak siap dan masih dalam kondisi berlindung dari debu yang menerpanya tidak menduga bahwa nyawanya kini sedang terancam. Tidak lama setelah debu itu menerpanya tiba-tiba saja tangannya terasa amat sakit karena sebuah tongkat besi menerjang tepat dari arah atas.
Kraaagghkkkk....
Jurus mematikan dari Patih Purno mendarat telak kepada lawannya, ia tidak menduga bahwa tombaknya tepat mengenai lengan lawannya sehingga bunyi tulang patah terdengar jelas di telinganya.
Lengan pendekar pedang kembar seketika patah karena tidak mampu menahan serangan tombak dari Patih Purno. Karena hal itu pulalah akhirnya tombak tersebut terus menerjang turun dan akhirnya mengenai tepat di kepala pendekar pedang kembar sehingga membuatnya jatuh terduduk dengan darah merembes keluar dari kepalanya.
Mulutnya terbuka lebar dan upil matanya kini tak terlihat, ia belum mati namun sudah kehilangan kesadaran karena menerima serangan fatal tersebut. Patih Purno baru saja mendarat dari udara tepat di depan lawannya yang sudah jatuh berlutut.
__ADS_1
Nafas Patih Purno kembali ngos-ngosan dengan tangannya yang tak berhenti bergetar. Serangan mematikan yang ia gunakan tadi menggunakan sisa-sisa tenaga dalam yang ia miliki. Kini semua tenaga dalam yang ia punya sudah habis tak bersisa, hanya kekuatan fisik seorang pria paruh baya yang ada bersamanya sekarang.
Ia melihat lawannya yang sudah tak berdaya karena menerima serangannya, sementara ia juga merasakan sesak di dadanya sesaat kemudian. Alangkah terkejutnya dia karena setelah itu tiba-tiba saja ia batuk hebat dengan darah keluar dari mulutnya.
Tubuh Patih Purno sempat bergetar karenanya dan pandangan ia mulai sedikit kabur. Jika saja pertarungan ini hanya ada mereka berdua ia mungkin akan memilih jatuh pingsan daripada memaksakan berdiri dengan kondisinya yang seperti itu.
Namun suasana perang tidak pernah berubah sedikitpun, hiruk pikuk dan kengerian terus mengisi kelengangan malam yang gelap. Ia mencoba mempertahankan dirinya agar tetap tersadar dari perang yang terus berkecamuk.
Patih Purno lantas bergerak dan mengambil sikap seperti hendak menusuk dengan tombaknya tepat ke arah jantung lawannya berada. Karena tidak ada lagi yang menghalanginya tusukan itu kini menembus dada lawannya sehingga membuat lawannya kemudian mati di tangannya.
Akhirnya malam itu menjadi riwayat terakhir dari kisah pendekar pedang kembar yang tersohor di kerajaan Kendala, mereka mati secara mengenaskan oleh tangan seseorang yang memiliki kejeniusan dalam siasat perang.
Setelah menghabisi lawannya pandangan Patih Purno kemudian menjadi semakin kabur, karena tidak dapat menahan keseimbangannya akhirnya Patih Purno terjatuh ke tanah dengan posisi setengah terbaring.
Ia mencoba bertahan agar dirinya tidak pingsan saat masih di dalam medan perang sebab jika ia sampai pingsan tidak menutup kemungkinan musuhnya akan bergerak ke arahnya yang sedang lengah tersebut.
_____________________________________________
Terima kasih sudah mengikuti cerita Takdir Kerajaan Adipura hingga sekarang, mohon maaf jika episodenya sedikit lama dalam proses upload episode baru.
Saya akan usahakan setiap hari minimal satu episode yang akan hadir menemani para pembaca, semoga anda semua terhibur dengan cerita yang saya sajikan.
Terima kasih atas like dan komentar anda yang membuat saya terus semangat dalam berkarya, sampai jumpa di episode selanjutnya.
Salam hangat dari author :)
__ADS_1