
“Ibu, aku takut”, Sinta yang masih kecil mendekapkan wajahnya ke dalam pelukan ibunya. Tubuhnya tidak berhenti bergetar karena melihat pertarungan ayahnya.
“Jangan takut, ibu akan melindungi mu”, ibu Sinta memeluk anaknya erat-erat sambil mengamati pertarungan suaminya dengan setan merah.
Walaupun dia merasa takut namun dia lebih memikirkan keadaan anaknya. Dia harus bersikap tenang agar anaknya tidak terus-menerus merasa ketakutan. Dengan lembut dia membelai rambut Sinta dalam gendongannya berharap agar Sinta berhenti ketakutan.
Badan Sinta yang sedari tadi bergetar hebat kini perlahan mulai tenang. Belaian dari ibunya membuat hatinya menjadi tentram, tidak hanya dengan belaian tangannya saja, ibu Sinta juga menenangkannya dengan lantunan lagu yang biasa ibu Sinta nyanyikan ketika akan menidurkan Sinta.
Akhirnya lewat kebiasaan itu kini Sinta sudah dapat tenang, kepalanya kini mengadah ke atas melihat wajah ibunya. Ibunya lantas tersenyum lembut ke arahnya dan dia balas dengan senyuman manisnya.
“Ibu, kenapa ada orang yang ingin berbuat jahat kepada kita?”, tanya Sinta polos, “Kita kan tidak pernah berbuat jahat ibu, ayah dan ibu selalu baik kepada orang lain. Apa ada orang lain yang membenci kita?”, Sinta terus bertanya kepada ibunya dengan suara mungilnya.
Ibunya tersenyum hangat sebelum menjawab pertanyaan Sinta, “Sebaik apapun kita kepada orang lain pasti akan ada orang yang membenci kita. Bahkan keluarga sendiripun akan menjadi racun dalam tubuh”, ibu Sinta kini memandang ke depan, “Orang yang membenci kita akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan kita. Seharusnya ibu tidak mengambil hak itu....”.
“Ibu... Apa kita tidak bisa meminta maaf saja kalau kita memiliki salah dengan orang yang membenci kita?”, tanya Sinta lagi.
Ibu Sinta terdiam, ia tidak menyangka bahwa kata-kata itu telah keluar dari mulut anaknya yang masih kecil. Sebelum ia mulai bereaksi suara mungil Sinta kembali terdengar.
"Meminta maaf terlebih dahulu tidak akan merendahkan kita kan bu?"
__ADS_1
Ibu Sinta tersenyum ke arah anaknya, “Perkataan mu benar, meminta maaf kepada orang yang membenci kita itu adalah perbuatan mulia. Seharusnya ibu memikirkan itu sejak dulu”, ibu Sinta terus menatap wajah anaknya.
Dia merasa bangga dengan pemikiran anaknya yang seolah-olah menunjukkan dia telah dewasa. Ibu Sinta lantas memeluk Sinta dengan lembut seraya berucap, “Engkau memiliki sifat seperti ayahmu yang selalu rendah hati”.
Ibu Sinta terus memeluk Sinta dan berlindung dibalik pintu kamarnya. Dia melihat keluar untuk menyaksikan pertarungan dari suaminya. Pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama, dia telah dipesani oleh suaminya untuk tidak bergerak sendiri. Sebagai istri dia mematuhi setiap perintah dari suaminya, dia tidak akan pergi sejengkal pun sebelum diperintah oleh suaminya sendiri.
Dengan perasaan cemas dia menyaksikan pertarungan suaminya. Khawatir dan takut terus menghantuinya, dia tidak ingin terjadi sesuatu hal dengan keluarganya. “Tolong lindungi keluarga kami dewa, berikan aku kekuatan untuk melindungi keluarga kami”, ibu Sinta memohon kepada dewa agar keluarganya tidak mengalami sesuatu hal buruk apapun. Ia berharap keluarganya malam ini berhasil selamat dari hantaman masalah yang menerpa kehidupan mereka.
***
Luka demi luka menghiasi tubuh ayah Sinta dan setan merah karena pertarungan mereka. Darah segar mengalir dari luka-luka itu dan membasahi tubuh mereka. Setan merah masih terus melancarkan serangan, baik menggunakan cakar maupun tanduk di kepalanya.
Sementara itu ayah Sinta sibuk menahan serangan itu dengan pedangnya, semakin mereka bertarung semakin buruk raut wajahnya. Ia menyadari bahwa semakin lama pertarungan ini akan membuat beban ditangannya semakin berat karena terus mengeluarkan stamina.
“Ini tidak akan bagus, aku harus mengakhirinya segera!”, dengan segenap tenaga yang ia miliki sekarang ayah Sinta menaikkan tempo serangannya untuk menekan gerakan dari lawannya.
Dan ternyata itu berhasil, dengan tekad yang kuat dia menaikkan semangat dirinya sendiri. Kini ayah Sinta berhasil membalikkan keadaan dengan mendominasi serangan.
“Sial!, tidak mungkin seperti ini!”, setan merah mengumpat dalam hatinya karena sekarang dia yang awalnya melancarkan serangan justru sekarang dibuat ke posisi bertahan.
__ADS_1
Dia tidak menyangka lawannya masih menyimpan kekuatan sebesar itu, dia terus menangkis serangan dari lawannya dengan cakar yang ia punya. Bahkan ia sudah memperhitungkan bahwa setelah merubah wujudnya ia akan dengan mudah mengalahkan lawannya.
Namun semangat untuk bertahan hidup milik ayah Sinta lebih besar daripada semangat balas dendam milik setan merah. Hal itu menjadi tolak ukur yang sangat besar dalam pertarungan mereka saat ini.
Masih dalam keadaan mengumpat dengan keadaan, secara tidak sadar setan merah telah menunjukkan satu celah untuk lawannya. Ayah Sinta yang melihat celah itu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Ayah Sinta kemudian melompat tinggi ke atas tubuh setan merah, saat sudah ada di ketinggian yang sesuai ayah Sinta melakukan sebuah gerakan memutar ke depan dengan pedangnya ia kebaikan ke arah punggungnya setan merah.
Serangan cepat dan tidak terduga itu berhasil mengenai setan merah. Setan merah tidak dapat berbuat banyak karena terlambat menyadarinya, kini pedang lawannya telah membuat luka tebasan di punggungnya.
“Arrrggghhhh....“, pekik setan merah setelah ayah Sinta menebas punggungnya. Luka yang diterimanya sangat parah membuatnya langsung terjatuh ke tanah.
Darah mengalir deras dari luka tebasan itu, dengan sisa-sisa tenaga dalam yang ia miliki setan merah mencoba menghentikan pendarahannya. Namun tentu saja itu sangat sulit sebab luka itu terlalu parah dan begitu telak ia terima.
Ayah Sinta melihat lawannya jatuh ke tanah, dia bernafas lega melihatnya. Serangan terakhir yang dia gunakan barusan menggunakan sisa-sisa tenaga dalam yang ia miliki. Sekarang tenaganya sudah terkuras habis dan tidak lama kemudian ia terjatuh dalam posisi berlutut.
Darah segar keluar dari tepi mulutnya, pandangannya menjadi gelap. Tubuhnya tidak dapat digerakkan, setiap ingin menggerakkan tubuhnya rasa sakit akan menyerangnya.
“Uughhhhhkkk... Uughhhhhkkk... Uughhhhhkkk...”, ayah Sinta batuk darah berulang kali, dadanya terasa begitu sakit dan panas seolah-olah ada api yang menyala-nyala dalam tubuhnya.
__ADS_1
Begitu panas dan menyakitkan, dia mencoba bertahan namun tubuhnya tidak pernah mau bertindak sesuai keinginannya.
Melihat suaminya jatuh dalam posisi berlutut dan batuk darah cukup banyak membuat ibu Sinta khawatir dengan keadaan suaminya. Dia beranjak dari persembunyiannya dan berlari ke arah suaminya berada.