
Subani melihat aksi yang telah dilakukan oleh Aryo, dengan cepat dia berhasil melumpuhkan lawannya sekaligus mengakhiri nyawa lawannya tersebut. Bukannya merasa senang dia dapat melihat kesedihan dari teman perjuangannya ketika telah membunuh salah satu dari lawannya barusan.
Subani lantas beranjak dari tempatnya untuk mendekat ke tempat Aryo berada. Ketika jaraknya sudah hampir dekat dengan Aryo, instingnya mengatakan bahwa ada bahaya dari arah belakangnya.
Benar saja tidak lama kemudian sebuah pisau terbang menuju dirinya dari arah belakang. Pisau itu melaju cepat di udara, namun dengan gerakan bak seperti monyet, Subani mampu menghindari pisau itu.
Pisau yang berhasil dia hindari lantas terus melaju dan mengenai salah satu pasukan pemberontak tepat di dadanya, membuatnya terlempar ke belakang karena kuatnya energi dari pisau itu.
Subani lantas membalikkan badannya berniat mencari seseorang yang telah melemparkan pisau itu kepadanya. Tidak butuh waktu lama bagi dia untuk menemukan penyerangnya, tampak seseorang yang baru kali ia lihat sampai sekarang.
Orang itu berkulit hitam segelap malam dengan wajah dihiasi oleh kapur yang membentuk wajah tengkorak. Orang itu memandanginya dengan nafsu membunuh yang sangat kuat, di sekitarnya telah tergeletak beberapa mayat dari pasukan pemberontak dengan luka yang dibuat oleh senjatanya.
“Ternyata orang ini yang telah dibicarakan oleh Purno di dalam rapat, aku tidak bisa membiarkannya saja!”, Subani mengambil ancang-ancang untuk menyerang lawannya, sedangkan lawannya juga bersiap-siap melakukan duel diantara mereka.
Dengan segera keduanya berlari menuju ke depan dan duel pun akhirnya tak terelakkan. Subani dengan tangan kosongnya terus menangkis setiap serangan lawannya yang menggunakan dua buah pisau sebagai senjatanya.
Pertukaran serangan terjadi diantara keduanya, membuat suasana perang semakin meriah dengan duel mereka. Setiap serangan dari lawannya menggunakan kekuatan fisik yang luar biasa, sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari rekannya bahwa kekuatan orang itu tidak dapat diremehkan.
“Benar yang dikatakan oleh Purno, kekuatan fisik orang ini setara dengan pendekar serigala tingkat 5. Jika terdapat banyak lawan seperti ini akan menjadi masalah nantinya”, Subani berkomentar di dalam hatinya.
Satu saja sudah dapat membunuh banyak, apalagi jika ada ratusan bahkan ribuan. Mungkin kata kemenangan tidak akan mereka raih kali ini.
__ADS_1
Tidak ingin berlama-lama, dia kemudian melancarkan sebuah pukulan kepada lawannya. Lawannya mencoba menghindari pukulan itu namun gerakannya terbaca oleh Subani, pukulan yang dilancarkan oleh Subani tadi hanyalah umpan untuk memancing lawannya ke dalam jebakan yang telah dia buat.
Buuggggghhh....
Dengan cepat pukulan itu berubah menjadi sebuah tendangan yang tidak terduga menuju ke perut lawannya, lawannya yang tidak menduga hal itu terlambat bereaksi. Bagaimana tidak Subani melakukan tendangan itu dengan memutar badannya setelah serangan pukulannya ia hentikan dan beralih dengan serangan lain.
Lawan Subani sempat linglung dibuatnya sebab rasa sakit sedang ia rasakan di perutnya. Melihat satu kesempatan lagi Subani kembali melancarkan tendangan dengan posisi membelakangi lawannya. Dengan kaki kiri sebagai tumpukan ia lantas menendang dengan kaki kanannya tepat mengenai wajah dari lawannya.
Lawan Subani harus jatuh ke tanah karena serangan telak dari lawannya. Subani pikir riwayat lawannya akan berakhir dengan serangannya barusan, namun ternyata orang itu masih bisa berdiri walau beberapa giginya harus rontok.
Dengan mulut yang mengeluarkan darah akibat gigi yang rontok tidak mengurangi nafsu membunuh orang tersebut malahan nafsu membunuhnya semakin besar, tentu saja Subani merasakannya.
Subani yakin luka yang diterima oleh lawannya telah membuat kekuatan fisik lawannya berkurang. Alasan itulah yang membuat Subani kembali mengatur siasat untuk menyerang lawannya pada titik yang sama.
Tidak butuh waktu lama untuk Subani melakukan aksinya, karena serangan lawannya yang liar membuat pertahanan dari lawannya menjadi lemah. Saat itulah Subani melakukan sebuah gerakan yang tidak terduga oleh lawannya.
Karena terlalu fokus menyerang lawannya, orang itu melupakan pertahanan dirinya sendiri. Sebuah tendangan menyamping dari Subani sekarang mendarat di perutnya, namun kini tepat di ulu hati membuatnya seketika jatuh tersungkur ke tanah.
Lawan dari Subani kemudian mengerang kesakitan karena serangan tak terduga yang ia terima, Subani tidak akan melewatkan kesempatan yang telah di dapatkan.
Dia kemudian bergerak maju untuk menuntaskan duel diantara keduanya, “Jurus kuncian monyet!”, dengan gerakan cepat Subani kini telah mengunci gerakan lawannya.
__ADS_1
Lawannya yang tadi masih dalam kondisi menahan sakit di perutnya kini harus di buat tak berkutik oleh jurus kuncian dari Subani. Pandangannya mulai gelap karena Subani mengunci gerakan lawannya tepat di lehernya, membuatnya kesulitan dalam bernafas.
Tubuh lawannya mengejang karena kunciaannya itu dan tidak butuh waktu lama akhirnya lawan Subani harus meregang nyawa di tangannya.
Selesai dengan duel singkatnya, Subani langsung berdiri dan berlari menghampiri Aryo yang sedang melawan beberapa pasukan lawan mereka. Subani tidak tinggal diam, ia lantas membantu Aryo untuk menghadapi lawannya tersebut.
Walaupun baru mengenal belum lama ini, serangan mereka berdua bak seperti pedang dan sarungnya. Aryo menyerang dengan gesit menggunakan keris Bagaskara sementara Subani membuka celah dengan silat tangan kosongnya sehingga memudahkan Aryo untuk menghabisi lawan mereka dengan cepat.
Serangan kombinasi mereka berhasil menekan pergerakan lawannya yang ingin merengsek maju ke depan. Dengan kombinasi yang ditunjukkan oleh keduanya membuat para lawannya menjadi ciut untuk maju, melihat para rekannya dengan mudah dilumpuhkan bahkan tewas membuat semangat mereka turun drastis.
***
“Tuan muda kita harus segera mundur dari sini, ingat rencana yang telah disiapkan oleh Patih Purno”, Subani mengingatkan Aryo akan rencana yang telah mereka buat.
Ini dia lakukan karena melihat sikap Aryo yang seperti marah kepada lawannya, mungkin alasan pribadi menurutnya. Aryo terus menyerang sementara pasukannya yang diperintahkan untuk mundur menjadi bertahan melihat sikap dari wakil pimpinan mereka.
“Tuan muda! Tuan muda!”, Subani setengah berteriak kepada Aryo. Aryo seperti kehilangan kesadaran saat itu membuatnya harus bertindak sedikit tegas.
Aryo tersentak mendengar teriakan itu, dia memandangi sekitarnya yang telah dihiasi oleh mayat-mayat lawannya yang telah ia habisi. Darah menetes dari ujung kerisnya, keris itu kini berwarna merah karena darah dari lawannya yang telah mati.
Aryo memandang ke arah Subani sejenak sebelum memandang ke depan tepat ke arah lawannya yang tidak jauh dari tempatnya. Lawannya kini sedang menjaga jarak darinya, takut akan menjadi sasaran dari amukan Aryo lagi.
__ADS_1