
Prajurit yang tersisa mendekati posisi Patih tersebut, pandangan mereka terhadap wakil pimpinannya sekarang menjadi sebuah pandangan kebencian yang teramat sangat.
Salah satu dari mereka mendekat seraya berucap, "Ini untuk rekan ku yang kau bunuh barusan!", ia melancarkan sebuah tebasan tepat ke arah pundak Patih itu.
"Aaaargggghggkkkk...."
Karena sudah tidak ada tenaga Patih itu hanya bisa diam, namun saat pedang prajurit yang berada di dekatnya mengenai pundaknya erangan kesakitan spontan keluar dari mulutnya.
Rasa sakit itu disebabkan pedang yang mengenainya menempel masuk ke pundaknya, prajurit yang melakukannya dengan sengaja tidak menarik pedangnya tersebut. Ia sangat puas mendengar teriakan kesakitan dari Patih tersebut.
Kemudian salah satu dari prajurit yang tersisa juga tidak ingin diam saja, ia maju ke depan dan bersiap menebas Patih itu.
"Ini untuk saudaraku yang kau penggal kepalanya!", ia kemudian menancapkan pedangnya seperti prajurit sebelumnya.
"Aaargggkkh..."
Teriakan Patih itu menjadi pelan, darah yang terus mengalir bak sungai membuat kesadarannya hampir hilang, tubuhnya mengejang hebat karena mendapat luka yang teramat sakit.
Tidak ingin membiarkan Patih tersebut mati seorang prajurit lagi segera melakukan sebuah gerakan menusuk tepat di belakang leher Patih itu. Pedangnya yang tajam berakhir dengan menembus keluar dari jakun Patih tersebut.
Dengan serangan akhir itu akhirnya Patih wakil pimpinan pasukan mereka harus meregang nyawa setelahnya. Karena urusan mereka telah selesai lantas mereka segera menjatuhkan pedang dan kemudian berlutut kembali serta mengangkat tangan tanda menyerah.
***
Pasukan kuda besi akhirnya bisa mengalahkan pasukan berkuda pihak lawannya, kini hanya tersisa puluhan orang dari pasukan lawannya yang masih hidup sebab mereka menyerah terlebih dahulu.
Patih Purno segera memberi perintah agar sisa pasukan itu diikat dan dijadikan tawanan perang. Para prajurit berkuda di pihak lawan hanya diam ketika mereka diikat oleh pasukan kuda besi. Mereka ingin hidup lebih lama lagi walau harus kalah namun setidaknya mereka sudah berjuang.
__ADS_1
Saat proses penyanderaan itu hampir selesai, tampak dari jauh pasukan bala bantuan musuh datang berbondong-bondong menuju tempat pasukan kuda besi berada. Pasukan itu maju dengan cepat bahkan terkesan tergesa-gesa, mereka berteriak dengan lantang bersiap menghadapi pertarungan melawan musuh.
Patih Purno mengumpulkan kembali pasukannya bersiap menghadapi lawan yang sebentar lagi akan datang. Pertempuran sesama pasukan berkuda dari kedua belah pihak tadi telah membuat pasukannya berkurang seperempat.
Walaupun dengan pasukan yang jumlahnya jauh dari pasukan musuh nyatanya pasukan yang dipimpin oleh Patih Purno mampu memenangkan pertempuran mereka.
"Segera kibarkan bendera panji kita!"
"Baik patih"
Patih Purno berada di barisan paling depan ditemani salah satu prajurit pilihannya berada di samping membawa bendera. Bendera ini lah yang berguna sebagai pengirim pesan untuk pasukan pemanah pimpinan pria sepuh yang berada di benteng.
Derap langkah yang bertemu tanah menggebu-gebu terdengar di setiap telinga pasukan pemberontak. Musuhnya berlari sekencang mungkin ke arah medan perang dengan jumlah yang sangat banyak, lautan musuh berhasil membuat getaran di tanah tempat mereka berpijak.
Pasukan lawan kali ini berniat membuat pasukan pemberontak menjadi ciut nyalinya melihat jumlah mereka yang setidaknya lebih banyak dari pasukan yang pertama kali berperang. Namun semua itu hanya sia-sia, pasukan pemberontak sudah begitu bersemangat dalam menghadapi perang yang mereka anggap sebagai perang melawan kebatilan ini.
“Sebentar lagi, sebentar lagi”, batin Patih Purno terus berucap kata-kata itu berulang kali.
“Bagaimana Patih? Apakah sudah saatnya?”, tanya prajurit itu karena saat ini pasukan lawan sudah berada dalam jarak jangkauan pasukan pemanah mereka.
“Masih belum, tunggu mereka masuk lebih dalam! Mereka harus melewati lautan mayat-mayat dan kuda itu!”, Patih Purno menjelaskan maksudnya, “Tunggu sebentar lagi, hanya sebentar”, Patih Purno berbicara kepada prajuritnya namun pandangannya tidak dia alihkan dari pasukan musuh yang bergerak ke arah mereka.
Pasukan musuh terus merengsek maju ke depan, walau sempat kesusahan karena jalan yang ditutupi oleh lautan mayat rekannya serta kuda mereka namun separuh dari mereka berhasil melewatinya dan separuh lagi masih terbata-bata dalam berjalan melewati lautan mayat tersebut.
Saat separuh pasukan musuh telah melewati lautan mayat, Patih Purno lantas berseru kepada prajuritnya, “Kirimkan pesan segera!!!”, perintah Patih Purno.
Prajurit itu lantas membuat gerakan mengibaskan bendera sebanyak 3 kali, gerakan itu ia ulangi terus sampai ada balasan bahwa pesannya telah diterima oleh pasukan pemanah mereka.
__ADS_1
Pria sepuh yang melihat pesan itu mengerti harus bertindak sebagaimana harusnya. Dia memerintahkan pasukannya, “Pemanah siap! Lepaskan!", perintah pria sepuh.
Saat perintah itu diberikan terbanglah belasan anak panah berukuran seperti tombak prajurit, panah berukuran besar itu melesat dengan cepat ke arah pasukan bantuan lawan.
Tidak sedikit pasukan lawan yang heran dengan anak panah berukuran besar tersebut, bahkan keterkejutan juga ditunjukkan oleh pasukan pemberontak. Mereka melihat ke arah atas benteng dan mendapati ada sekitar tiga belas alat yang baru kali ini mereka lihat.
Senjata itu merupakan senjata yang dibawa oleh pasukan kerajaan Benggawan saat mereka pertama kali sampai di benteng. Senjata ini adalah senjata rahasia yang belum lama ini di dapat oleh kerajaan Benggawan lewat kerja sama mereka dengan sebuah kekaisaran yang orang-orang nya memiliki ciri-ciri bermata sipit.
Alat ini mampu melesatkan sebuah panah seukuran tombak prajurit dewasa dengan jarak yang sangat jauh. Dan perakitan serta penggunannya tergolong mudah sehingga membuat raja Pawan tertarik dengan alat ini.
Orang kekaisaran bermata sipit tersebut menyebut alat ini dengan sebutan 'balista', terdapat puluhan alat ini yang telah diterima oleh kerajaan Benggawan dan menjadi senjata rahasia mereka.
Akhirnya senjata ini dikeluarkan oleh raja Pawan untuk membantu pasukan pemberontak melawan musuh mereka.
"Lepaskan sebanyak tiga kali!”, perintah pria sepuh dan segera dilaksanakan pasukannya.
Dengan cepat anak panah berukuran besar tersebut beterbangan di udara dengan jumlah banyak, namun bukan hanya itu kejutan yang disimpan dari serangan tersebut. Ada sebuah kejutan sedikit yang Patih Purno sisipkan dalam anak panah besar itu.
***
Melihat pasukan berkuda dari pihak mereka yang telah kalah tidak membuat gentar pasukan bala bantuan dari musuh. Mereka tetap berlari ke depan untuk menghadapi pasukan berkuda pimpinan Patih Purno yang berbaris rapi menghadang langkah mereka untuk maju ke depan.
"Jangan berhenti! Cepat bergerak!", perintah Patih yang ditugaskan memimpin pasukan bala bantuan kerajaan Adipura.
_______________________________________________
Terima kasih telah memberikan dukungan serta komentar yang positif, berkat itu saya menjadi semangat untuk terus berkarya.
__ADS_1
Terima kasih saya ucapkan kepada keluarga, rekan-rekan yang telah memberikan support untuk saya, tanpa mereka semua saya bukan lah apa-apa.
Terus ikuti cerita Takdir Kerajaan Adipura dan jangan lupa like jika anda menyukainya, salam hangat dari author :)