Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
41. Lautan Musuh Datang II


__ADS_3

Wanita muda lantas menarik paksa lengan raja Jaka yang membuatnya jatuh menindih tubuh wanita muda. Tubuh raja Jaka bergetar hebat, reaksi yang dangat dinantikan oleh wanita muda. Mereka saling bertatapan tanpa berkedip sedikitpun.


Wanita muda lantas bergerak aktif dengan langsung mencium bibir dari raja Jaka, ciuman itu begitu kuat dan liat membuat raja Jaka larut dalam perlakuan wanita muda. Keduanya akhirnya saling melampiaskan hasrat bersama-sama malam itu dan semenjak hari itu raja Jaka dan wanita muda menjadi dekat hari demi hari.


“Tidak perlu khawatir dengan ucapan lelaki tua itu, percayalah dengan kekuatan kita”, begitulah ucapan dari wanita muda kepada raja Jaka. Raja Jaka yang telah jatuh cinta kepada wanita muda lantas mengiyakan perkataannya barusan.


Semenjak hari itu kedekatan raja Jaka dan menteri Balda menjadi berkurang. Menteri Balda awalnya heran karena sikap raja Jaka yang seolah-olah menghindarinya saat ini. Dia belum mengetahui bahwa alasan dari raja Jaka itu adalah karena hasutan dari wanita muda yang bergabung di pasukan aliansi mereka belum lama ini.


“Ampun raja, dari markas pemberontak tampak tiga orang menunggangi kuda sedang menuju kemari”, salah satu prajurit yang ditugaskan mengintai markas pemberontak melaporkan apa yang telah dilihatnya.


“Cepat kembali ke pasukan mu, siapkan para prajurit yang lain!”, raja Jaka memberi perintah yang segera dilakukan oleh prajurit yang melapor barusan.


***


Aryo keluar dari pintu gerbang dengan menunggangi kudanya ditemani Patih Purno dan Subani, sedangkan pria sepuh menjaga markas pemberontak.


Mereka sekarang pergi untuk berbicara kepada lawannya sebelum memulai peperangan. Tidak butuh waktu lama kini ketiganya sudah berhadapan dengan pimpinan pasukan lawan mereka.


Aryo memasang wajah penuh amarah kepada lawannya, terlebih lagi ketika melihat raja Jaka. Melihat wajah mereka mengingatkannya akan tragedi masa silam yang membuatnya harus kehilangan ayahnya serta statusnya sebagai raja kerajaan Adipura yang sah.


Raja Jaka yang melihat ekspresi dari saudaranya itu lantas tersenyum mengejek kepada Aryo.


“Ternyata seorang pengecut datang menampakkan batang hidungnya setelah dua tahun bersembunyi dari ketidakbecusannya dalam memerintah kerajaan Adipura”, raja Jaka mencoba memancing amarah dari Aryo.


Mendengar hal itu dari mulut seseorang yang sangat ia benci membuat Aryo tidak bisa lagi menahan amarah yang sudah lama ia pendam. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajah saudaranya itu, perkataannya sungguh sangat ironis mengingat siapa pengecut yang sebenarnya.

__ADS_1


“Lantas aku melihat seorang iblis yang memiliki wujud seorang manusia. Hem..., mungkin iblis masih terhormat apa mungkin aku harusnya menyebut mu sebagai binatang?!”, Aryo tidak bisa menahan dirinya, kata-kata itu spontan keluar dari mulutnya dan ditujukan kepada raja Jaka.


“Bajingan!!!”, pekik raja Jaka mendengar perkataan dari Aryo barusan.


Dirinya yang awalnya menghina kini balik dihina, karena tidak terima tanpa pikir panjang dia lantas mencabut pedangnya dan menghunuskan pedang yang digenggamnya ke arah Aryo.


Aryo yang melihat reaksi dari lawan bicaranya lantas ikut bergerak mencabut keris Bagaskara. Keduanya kini saling menghunuskan senjata masing-masing dengan wajah penuh amarah.


“Sungguh sebuah reuni yang buruk”, menteri Balda menggelengkan kepala melihat sikap raja Jaka.


Akhir-akhir ini raja Jaka menurutnya sering marah tidak jelas jika terjadi kesalahan bahkan kesalahan kecil sekalipun.


Dengan suara lantang dia berteriak kepada raja Jaka, “Cukup! Kendalikan emosimu murid Jaka! Jangan bertindak bodoh hanya karena amarah!”, suara menteri Balda berhasil membuat suasana kini kembali tenang.


Melihat suasana belum sepenuhnya terkendali menteri Balda kembali berbicara, “Aku sudah menebak kerajaan Benggawan dan kerajaan Gundala akan ikut sebagai aliansi pemberontak. Bukankah ini suatu kebetulan yang sangat bagus, kita akhirnya bertemu kembali musuh lama”, kini menteri Balda berbicara kepada musuh lamanya yang tak lain ialah Patih Purno.


Patih Purno menanggapi perkataan lawannya sambil tersenyum dan memberi hormat, “Takdir dari dewa sudah berlaku, jika memang akan dipertemukan pasti akan bertemu”, Patih Purno menjawab pernyataan dari menteri Balda.


“Kami disini datang untuk mendiskusikan sebuah perjanjian dengan menteri”, Patih Purno kembali berucap.


“Perjanjian seperti apa yang kalian inginkan?”


"Perjanjian itu mengenai..."


Belum sempat Patih Purno menyampaikan perjanjian yang ingin dia bicarakan, raja Jaka lantas memotong pembicaraan itu, “Perjanjian apa lagi menteri! Ini perang! Tidak ada sebuah perjanjian antara kedua belah pihak!”, cetus raja Jaka kepada menteri Balda karena merasa pembicaraan itu akan membuang-buang waktu mereka.

__ADS_1


“Murid Jaka jangan bertindak kurang ajar kepada menteri! Jaga sikap mu!”, bentak pria misterius kepada raja Jaka.


Nyatanya bentakan itu tidak terlalu didengarkan oleh raja Jaka, lantas dia kemudian kembali berbicara, “Ahhh... Persetan dengan sebuah perjanjian! Jika memang ada perjanjian aku akan membuatnya! Aku bersumpah hari ini akan membinasakan kalian!”, raja Jaka bak seperti kerasukan setan, emosinya meledak-ledak tak terkendali.


Entah apa yang dipikirkannya, melihat hal itu lantas membuat lawannya menjadi keheranan. Terutama Subani yang memperhatikan sikap dari lawannya secara terus-menerus.


“Ugghhhookk... Ada yang salah dari orang itu", bisiknya kepada patih Purno.


"Apa maksudmu?", patih Purno bertanya pelan.


"Aku rasa dia memiliki penyakit kejiwaan?”, celetuk Subani lagi yang ditanggapi Patih Purno dengan ekspresi menahan tawa.


Keduanya memperhatikan sikap raja Jaka yang membuat mereka seperti melihat orang gila, sebuah pemandangan yang jarang terjadi.


***


Sikap raja Jaka yang seperti bocah membuat menteri Balda menjadi ikut emosi. Amarahnya yang dia tahan kini tak mampu dibendung lagi. “DIAM!!! KAU BAJINGAN BUSUK!!! JANGAN LUPA KEBERADAAN DIRIMU SEKARANG KARENA KAMI SEBAGAI ORANG YANG MENDUKUNG DIRIMU DARI BELAKANG!!! JIKA BUKAN KARENA RAJA KAMI YANG MEMINTA, KAMI TIDAK AKAN DISINI BERSAMA BAJINGAN BUSUK SEPERTIMU!!!”, luapan amarah menteri Balda bagaikan sebuah tsunami yang besar, begitu dahsyat dan menggelegar ditelinga raja Jaka.


Tidak hanya raja Jaka, lawannya serta pasukan yang berada di belakang juga ikut mendengar suara amarah dari menteri Balda. Para prajurit sontak terdiam seperti patung dengan wajah pucat, mereka yang pernah melihat amarah dari menteri Balda mengucurkan keringat dingin.


Mereka tidak akan mau membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya kalau menteri Balda benar-benar akan mengamuk hari ini.


“Mmmaa--aafkan, ma-mmmaaa-aaf karena murid telah menyinggung menteri...”, raja Jaka segera memberi hormat kepada menter Balda sembari menundukkan kepala.


Seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar karena ketakutan, keringat dingin terus mengucur membasahi keningnya. Dia terus menundukkan kepala, takut jika berhadapan muka dengan menteri Balda.

__ADS_1


__ADS_2