Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
28. Kemenangan Patih Purno


__ADS_3

Patih Purno mencoba membaca pola serangan liar dari lawannya, dengan sangat hati-hati ia mengambil langkah untuk menghindari setiap serangan lawannya yang kian waktu semakin liar. Dia lebih memilih bertahan untuk melihat seluruh serangan lawannya ini sedangkan lawannya dengan begitu liar terus menyerangnya tanpa henti.


“Serangannya cukup kuat untuk mengimbangi dua orang pendekar serigala tingkat akhir, namun terdapat banyak celah yang terlihat di dalam serangannya. Apa dia belum terlalu menguasai teknik serangannya?”, batin Patih Purno berbicara.


Serangan lawannya memanglah cepat namun dibalik itu pertahanannya sangatlah minim. Melihat celah tersebut Patih Purno tidak tinggal diam, dia melancarkan sebuah serangan mendadak ke arah lawannya.


Dengan satu gerakan cepat mata tombknya melesat ke depan tepat ke arah wajah lawannya, lawan Patih Purno segera melompat mundur sambil memegang pipinya yang sekarang sudah terdapat luka yang cukup besar. Dia mengumpat setelah mendapati bahwa kini terdapat luka yang kembali ditorehkan lawannya terhadap dirinya.


Darah segar kini mengalir cukup banyak dari luka tersebut, membuatnya harus berhenti sejenak karena rasa sakit mulai menyeruak dari luka di pipinya. Namun belum sempat orang itu mengatur poisinya dengan cepat Patih Purno berlari menuju ke arah orang asing tersebut.


Patih Purno melompat ke kiri dan ke kanan dengan sangat cepat agar membingungkan lawannya akan arah gerakannya. Karena belum terlalu siap gerakan dari Patih Purno tidak dapat dibaca oleh lawannya. Gerakan Patih Purno barusan tidak berhasil dibaca oleh orang asing itu sehingga dengan leluasa Patih Purno melancarkan serangan selanjutnya.


Sekarang bukan bagian wajah lagi yang menjadi titik serangannya melainkan di bagian lainnya. Patih Purno kini mengincar salah satu tangan dari lawannya, dan alhasil tangan kanan dari lawannya yang memegang tombak berhasil ditebas oleh Patih Purno dan kini sudah terpisah dari tempatnya.


“Aaaargggghgggggghh”, teriak kesakitan orang itu setelah menerima serangan mematikan dari Patih Purno.


Teriakan orang asing itu begitu kuat dan menggema mengisi malam itu, teriakan yang terdengar begitu kesakitan dengan luka yang ia terima. Orang itu terus berteriak sambil memegangi luka tebasan yang membuat tangannya terpisah dari tempatnya. Kini darah segar mengalir deras dari luka di pipinya serta lengannya yang terputus.


Dalam tangisan itu tidak hanya rasa sakit namun jika didengar dengan seksama ada rasa sedih dibalik teriakan tersebut. Orang ini sedang mengalami kesakitan yang sangat menyakitkan namun itu tidak bertahan lama dan digantikan dengan kesedihan bahwa dia sudah kalah dalam duel ini.

__ADS_1


Lawan Patih Purno kemudian jatuh berlutut dengan kepala menunduk sambil tangan kirinya mencoba menutupi luka tebasan lawannya yang terus mengeluarkan darah segar. Karena darah yang terus keluar tanpa henti membuat tubuhnya kini mulai lemas, untuk berdiri saja ia sudah tak sanggup.


Patih Purno menghela nafas pelan dan kemudian berjalan perlahan ke tempat lawannya yang kini sudah bertekuk lutut dengan pandangan ke arah bawah. Saat dirinya sudah dekat alangkah terkejutnya Patih Purno mendapati lawannya tersebut menangis dalam keadaan seperti itu.


Patih Purno tersenyum kecut dengan kejadian yang dihadapinya sekarang ini, ia tidak menyangka bahwa lawannya akan menangis setelah kalah bertarung dengan dirinya.


“Maaf, aku harus membunuh mu!"


Mata tombak Patih Purno kini sudah berada di eher lawannya yang sudah tak berdaya, dengan sisa tenaganya orang asing tersebut mengangkat kepalanya menatap wajah Patih Purno.


Lawannya memandangi Patih Purno sesaat dan kemudian dia duduk tegap serta tangisannya dia tahan dengan cara menggigit bibirnya hingga berdarah. Saat hatinya sudah mantap dia menganggukkan kepala tanda siap dieksekusi. Ia lebih memilih mati ditangan lawannya daripada harus menjadi tawanan perang yang menyedihkan.


Melihat reaksi lawannya yang sudah siap, Patih Purno tersenyum, "Apapun yang orang-orang bilang, kau tetap seorang petarung tangguh!", setelah menyelesaikan perkataannya Patih Purno pun mengayunkan tombaknya dengan cepat dan seketika kepala lawannya terpisah dari tubuh pemiliknya.


Sorak-sorai menggema malam itu setelah lawan dari Patih Purno menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka sangat senang dengan kemenangan di pihak mereka, mereka mengagungkan nama Patih Purno terus menerus.


Beberapa prajurit bahkan menyeloteh bahwa lawan Patih Purno barusan hanyalah orang bodoh yang mengantarkan nyawanya ke dalam genggaman maut. Namun tidak demikian dengan pemikiran dari Aryo, ia yang beranggapan kematian orang itu adalah kematian yang sangat terhormat. Dia ingin buka suara untuk menutup celotehan itu namun segera dihentikan oleh pria sepuh.


“Tidak apa-apa tuan muda, mungkin ini salah tapi setidaknya kita berhasil membangkitkan semangat juang prajurit kita”, pria sepuh buka suara terlebih dahulu.

__ADS_1


Aryo mematung, sungguh sulit menerima keadaan itu sekarang. Namun dia harus mengerti keadaan prajurit lebih penting baginya. Setelah ia pikir bukan tidak mungkin ke depannya mereka akan menemui pertempuran yang sulit, melihat reaksi pria sepuh yang tidak ingin menghentikan kegembiraan dari para prajuritnya lantas membuat Aryo ikut dalam diamnya pria sepuh.


 “Segera siapkan upacara pemakaman yang baik untuk orang itu!”, perintah Aryo kepada prajurit penjaga yang berada di belakangnya.


“Baik tuan muda”, jawab beberapa prajurit cepat.


Para prajurit kini mulai bergerak berkelompok menuju mayat dari lawan Patih Purno barusan. setelahnya prajurit itu dibagi lagi, ada yang bagian mengurusi kayu-kayu untuk pemakaman sedangkan yang lain mengurusi jasad orang asing tersebut. Semuanya bergerak cepat agar pekerjaan itu dapat diselesaikan sebelum fajar menyingsing.


“Ampun tuan muda, upacara pemakaman sudah siap di mulai”, lapor prajurit yang bertugas mengawasi pekerjaan tadi.


“Laksanakan pemakaman segera!”, perintah Aryo kembali.


Prajurit itu menganggukkan kepala seraya berjalan mundur dan segera memberitahukan kepada yang lain agar membakar jasad orang asing itu. Api dengan cepat melahap tubuh tak bernyawa itu, kobaran api itu terus membesar bahkan mampu menerangi seluruh lapangan markas pemberontak.


“Paman, apakah mungkin jika aku mati nanti akan ada upacara pemakaman seperti ini untuk ku?”, tanya Aryo sambil menatap kobaran api yang kian membesar.


Pria sepuh tidak langsung menjawab, untuk sesaat pria sepuh memandangi wajah Aryo. Saat itulah pria sepuh mendapati Aryo sedang memasang wajah yang terlihat amat sedih, mungkin saat ini dia teringat dengan istrinya pikir pria sepuh.


“Tuan muda jangan berpikiran yang aneh-aneh, hamba tahu tuan muda sangat merindukan rumah. Kita sama-sama memiliki keluarga yang menunggu kepulangan kita nanti. Jika memang waktunya kita pulang pasti akan pulang, dan jika waktunya kita mati pasti kita akan mati”, pria sepuh menjawab panjang lebar.

__ADS_1


“Mengapa paman terlihat amat santai dalam menghadapi kematian?”, Aryo menatap ke arah pria sepuh.


“Apa yang berasal dari tanah, akan kembali menjadi tanah bukan!”, pria sepuh kembali menjawab namun disertai senyuman di bibirnya.


__ADS_2