Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
30. Bantuan Datang II


__ADS_3

Suasana rapat dalam sekejap menjadi hening ketika salah satu prajurit yang berjaga di depan masuk dengan tergesa-gesa. Dia melaporkan bahwa terdapat ribuan prajurit bersenjata lengkap sedang mengarah ke markas mereka. Aryo yang mendengar laporan itu lantas menutup rapat dan segera beranjak menuju pintu gerbang markas mereka.


Aryo tidak sendiri melainkan ditemani pria sepuh dan Patih Purno, mereka berjalan bersama-sama menuju arah gerbang markas pemberontak. Tidak butuh waktu lama ketiganya sekarang berada di luar pintu gerbang markas mereka.


Ketika mereka sampai dari jauh tampak ribuan prajurit bersenjata lengkap dengan pakaian berwarna kuning. Tidak hanya itu terdapat puluhan kuda yang menarik gerobak yang cukup besar di belakangnya. Gerobak-gerobak itu dijaga dengan sangat ketat oleh para prajurit yang tampaknya adalah petinggi pasukan berbaju kuning tersebut.


Namun bukan hanya itu di depannya lagi ada sekelompok orang berpakaian serba merah dengan kain melilit di pinggangnya. Mereka berdiri di depan prajurit yang lain sambil berkacak pinggang dengan ekspresi galak menatap ke depan.


“Pasukan kerajaan Benggawan!”, Patih Purno buka suara.


“Aku pernah melihat prajurit kerajaan Benggawan. Tapi orang-orang di depan itu siapa Patih?”, tanya Aryo karena penasaran.


Patih Purno menoleh ke arah Aryo, “Pernahkah tuan muda mendengar padepokan tangan besi?”, Patih Purno bertanya balik.


“Aku baru kali ini mendengarnya Patih. Apakah padepokan itu sebelumnya memang terkenal?”, Aryo terus bertanya karena penasaran.


“Wajar saja tuan muda tidak tahu, padepokan ini memang tertutup dan hanya dibuka untuk orang-orang mereka. Mereka merupakan penduduk asli di tanah kerajaan Benggawan, mereka juga merupakan salah satu padepokan yang mendukung kerajaan Benggawan berdiri hingga saat ini. Saya sarankan pasuka tuan muda jangan pernah mencari masalah dengan orang-orang itu”, Patih Purno menjelaskan semua yang ia ketahui.


Bukannya mengerti Aryo malah kembali dibuat penasaran oleh penjelasan Patih Purno barusan. Apa yang membuatnya sampai mengatakan jangan pernah mencari masalah dengan orang-orang tersebut. Melihat raut wajah tuan mudanya tampak kebingungan pria sepuh mulai angkat bicara mencairkan suasana.


“Mari kita temui tamu kita, tidak baik membuat mereka berdiri menunggu”, ajak pria sepuh.


“Baik paman”, jawab Aryo singkat.

__ADS_1


Kini ketiganya melangkah menuju tempat orang-orang yang tengah berdiri itu. Dari jauh wajah para pasuka berbaju serba merah itu menunjukkan kegalakan yang cukup membuat pendekar ditingkat bawah akan bergidik ngeri ketika menatap mata mereka.


Aryo menjadi semakin penasaran dengan orang-orang yang baru kali ini ia temui, saat ketiganya sudah dekat tanpa basa-basi Patih Purno maju dan melancarkan serangan pukulan terhadap seorang pria yang berdiri paling depan diantara orang-orang itu.


Orang yang diserang menyambut kedatangan serangan itu dengan tangan kosong juga. Pertukaran serangan itu membuat siapa saja akan takjub dengan tiap-tiap gerakan yang digunakan lawan Patih Purno. Dengan gemulai gerakan tangan serta gesitnya gerakan kaki orang itu menghindar sambil membalas serangan Patih Purno dengan cepat.


“Senang bertemu dengan mu kawan lama!”, ucap Patih Purno masih dalam posisi menyerang.


“Sebaiknya bersiap untuk kalah lagi!”, jawab orang itu sambil membalas serangan Patih Purno.


***


Keduanya terus bertukar serangan yang awalnya menggunakan tangan perlahan menggunakan kaki. Pertarungan tersebut menyita perhatian pasukan pemberontak dan pasukan dibelakang orang yang menjadi lawan Patih Purno sekarang.


Pertarungan yang awalnya seimbang kini mulai berat sebelah dan Patih Purno perlahan mulai terpojok. Ini dikarenakan silat tangan kosong bukan keahlian Patih Purno sedangkan lawannya sekarang adalah ahli silat tangan kosong terhebat yang dia kenal selama hidupnya.


Setelah ucapan itu mendadak gerakan lawan Patih Purno mulai bertambah lentur, gesit dan lincah. Dia tidak terlalu berlama-lama dalam bertukar serangan tendangan atau pukulan. Namun kini berusaha masuk dan mengunci gerakan lawannya.


Patih Purno semakin terdesak dengan gerakan lawannya itu, bukan hanya gesit tapi setiap pukulan yang diarahkan kepadanya membuat tangannya seolah beradu dengan besi. Dia berusaha menghindar sebisa mungkin namun serangan lawannya terus datang membuatnya kewalahan.


Rasa sakit akibat benturan tangannya yang mengantam tangan serta kaki dari lawannya membuat Patih Purno terus terpojok. Dan akhirnya tanpa butuh waktu lama kini gerakan Patih Purno berhasil dikunci oleh lawannya sehingga membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.


“Aku menyerah... Aku menyerah...!!!”, pekik Patih Purno ketika tubuhnya sudah dikunci oleh lawannya.

__ADS_1


“Sekarang hasilnya imbang bukan?”, balas orang itu sambil tertawa dengan keras.


Semua orang yang telah melihat kehebatan Patih Purno dalam melawan salah satu orang suku kulit hitam dibuat terpana oleh kejadian barusan. Orang yang menjadi lawan Patih Purno berhasil membuat Patih Purno tidak bisa bergerak saat ini.


Patih Purno telah mencoba melepaskan dirinya dari kuncian tersebut, namun semakin ia berontak semakin kuat pula kuncian dari lawannya. Dia tidak punya pilihan lain lagi selain menyerah dan mengaku kalah atas pertarungan diantara mereka barusan.


Benar-benar hal yang mengejutkan bagi para prajurit yang menonton aksi mereka bahkan Aryo dan pria sepuh tidak berkedip melihat hal itu. Akhirnya Aryo menjadi paham akan maksud perkataan dari Patih Purno tadi.


Setelah pertarungan itu selesai Aryo dan pria sepuh mendekat ke arah Patih Purno berdiri. Saat keduanya sampai lawan Patih Purno langsung memasang kuda-kuda bersiap kalau kedua orang yang datang berniat menyerangnya juga. Patih Purno yang melihat hal itu buru-buru menengahi dan langsung menjelaskan siapa yang datang ke arah mereka.


“Ahhh maaf atas sikap saya tadi, saya Subani pimpinan pasukan kerajaan Benggawan. Raja Pawan yang memerintahkan kami untuk membantu tuan muda”, orang itu memperkenalkan dirinya.


“Terima kasih sudah datang paman, maaf sudah membuat kalian datang sejauh ini", Aryo memberikan hormat sesama pendekar, "Dan pertarungan barusan sungguh membuat mata ku terbuka hari ini”, balas Aryo sambil tersenyum.


Patih Purno tersedak nafasnya sendiri saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Aryo kepada Subani. Menurutnya kata-kata itu sedikit menyinggung perasaannya, kalau saja dalam pertarungan tadi dia membawa tombaknya tentu hasilnya tidak akan seperti tadi.


“Hari sudah siang, terlalu panas jika terus berdiri disini", celetuk Patih Purno.


"Ah, aku hampir lupa. Mari masuk ke dalam markas tuan Subani”, ajak pria Aryo setelahnya.


Tanpa basa-basi lagi kini mereka mulai berjalan masuk ke dalam markas. Suasana kini bertambah ramai dengan kedatangan pasukan baru yang berjumlah cukup besar. Para prajurit mulai berkenalan sesama mereka dan mulai berbincang-bincang perihal perjalanan teman barunya.


Hari itu berjalan lancar tanpa ada kendala lain. Setelah kedatangan Subani beserta pasukannya diadakan rapat kembali membahas strategi perang yang telah direncanakan. Tidak banyak yang berubah karena Subani memang tak asing dengan strategi perang dari Patih Purno. Menurutnya strategi yang sudah disiapkan akan berhasil ketika menghadapi lawannya nanti.

__ADS_1


________________________________________________


(Jangan lupa like ya, karena satu like dari kalian sangat bermakna bagi penulis)


__ADS_2