
Mereka percaya bahwa pasukan berkuda lawan sudah kehilangan lebih dari separuhnya membuat kekuatan mereka tidak akan ada apa-apanya jika memang nekat untuk menahan gerakan mereka.
Saat sampai di lautan mayat serta kuda yang menjadi korban anak panah pasukan lawan, gerakan mereka menjadi sedikit terhambat karena mayat-mayat itu menghalangi jalan mereka.
“Injak saja! Toh mereka sudah mati!”
“Jangan berhenti, kalian punya tugas yang lebih penting!”
“Cepat! Cepat! Cepat!"
Para Patih yang tergabung dalam pasukan bala bantuan berseru kepada prajurit yang ia pimpin. Mereka memerintahkan agar pergerakan tidak terhenti karena jalanan yang terhadang lautan mayat ini.
Namun nyatanya itu tidak mudah, terkadang para prajurit yang tengah berlari harus tersungkur ke tanah karena tersandung dengan mayat rekan mereka.
Dengan susah payah mereka akhirnya dapat melewati lautan mayat itu walaupunbaru separuhnya, tapi akhirnya mereka bisa melewatinya namun tentu saja dengan usaha yang cukup keras.
Mereka kemudian menyambung berlari untuk mempersempit jarak dengan pasukan berkuda dari pihak lawan. Tapi alangkah terkejutnya mereka sesaat kemudian, puluhan anak panah berukuran besar samar-samar terlihat di udara melesat ke arah mereka dengan cepat.
Melihat panah berukuran besar tersebut membuat jantung mereka berdecak lebih cepat, bukan karena cinta tapi dikarenakan oleh rasa takut akan apa yang akan menimpa mereka. Pasukan terdepan yang telah melewati lautan lautan mayat kuda tersebut lantas mengangkat tameng mereka berlindung agar panah itu tidak mengenai mereka.
Saat mereka pikir puluhan anak panah itu akan mendarat tepat ke arah mereka saat itu juga mereka mendengar teriakan dari arah belakang. Ternyata anak panah berukuran besar tersebut melesat jatuh tepat di lautan mayat kuda, pasukan yang tengah menyeberangi lautan mayat itulah yang menjadi incaran dari panah itu.
"Aroma ini tidak asing!"
__ADS_1
"Bukankah ini aroma minyak obor?"
"Benar!"
Apa yang dikatakan oleh prajurit itu benar adanya, anak panah berukuran besar tersebut dilengkapi dengan guci berukuran kecil namun dalam jumlah yang banyak. Guci-guci itu diisi oleh minyak obor tas perintah Patih Purno, saat panah itu mendarat di tanah atau menancap ke tubuh pasukan lawan yang sudah mati atau masih hidup dengan segera guci itu pecah dan mengeluarkan minyak obor tersebut.
Belum sempat mereka berpikir apa yang telah lawannya lakukan beberapa saat kemudian ada seorang prajurit berteriak histeris.
"Hujan panah! Hujan panah!"
Sontak pasukan yang lain segera menoleh ke arah prajurit yang berteriak tadi dan mendapati bahwa dari langit kini ribuan anak panah sedang mengarah ke mereka.
Melihat ribuan anak panah datang dengan cepat membuat para prajurit yang berada di depan kembali mengangkat tameng mereka berniat menahan anak panah musuh. Nyatanya anak-anak panah itu tidak sepenuhnya mampu ditahan dengan tameng mereka, ini diakibatkan pimpinan mereka tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapi situasi seperti ini.
Dia hanya memerintahkan agar prajuritnya mengangkat tameng masing-masing, berguna tapi hanya sementara. Karena jumlah anak panah yang sangat banyak membuat pasukannya harus menerima korban lebih banyak juga.
Pimpinan pasukan bala bantuan musuh sungguh beruntung, dari ribuan anak panah yang melesat turun dirinya tidak terkena satupun dari anak panah yang datang. Dia memandangi sekitarnya yang saat ini dipenuhi mayat serta anak panah yang menancap di tubuh prajuritnya dan yang menancap di tanah.
Pemandangan berubah menjadi lebih buruk ketika dia melihat ribuan anak panah lagi terbang di udara, tubuhnya seketika gemetar melihat hal itu. Baru selesai satu serangan, kini serangan berikutnya telah datang dan mengarah ke mereka lagi.
Dia jatuh dalam posisi berlutut, apa yang dilihatnya tidak akan mungkin ia bisa tahan. Ia kemudian memejamkan mata siap menerima takdir yang akan terjadi berikutnya.
Nyatanya ribuan anak panah itu tidak pernah jatuh ke tempat mereka namun melewatinya. Ribuan anak panah itu kini ditujukan kepada pasukan yang berada di lautan mayat-mayat dan kuda yang tengah bersusah payah melewati tempat itu.
__ADS_1
Karena pergerakan mereka yang terbatas membuat pasukan di tempat itu menjadi sasaran empuk dari ribuan anak panah tadi. Lebih dari separuh pasukan bala bantuan musuh harus gugur karena tidak bisa berbuat banyak bahkan untuk bertahan.
Yang paling banyak memakan korban tepat berada di lautan mayat kuda-kuda tersebut sebab mereka bergerombol dalam melewati lautan mayat itu. Karena itulah saat serangan ribuan anak panah itu datang tidak banyak yang mereka bisa atasi.
Lautan mayat itu kembali bertambah dengan jumlah yang sangat besar, melihat serangan kedua telah berhasil Patih Purno lantas memberi arahan kepada prajurit disampingnya.
"Sekarang! Panah api!"
Prajurit itu menganggukkan kepalanya dan segera melakukan gerakan mengangkat tombaknya dengan menggunakan kedua tangannya. Pria sepuh memahami maksud tersebut dan setelahnya ribuan anak panah dengan api diujung mata panahnya melesat ke arah pasukan lawan mereka.
Ribuan anak panah dengan dilengkapi api tersebut melesat cepat ke tempat lautan mayat mayat-mayat kuda, setelahnya kobaran api menyala terang saat terik matahari yang hampir meredup.
"Aaarghghhkkk...."
"Aarggk... Tol..ongg.."
Teriakan kesakitan yang teramat sangat menggema saat kobaran api melahap lautan mayat-mayat tersebut. Karena tidak sedikit dari pasukan yang terkena serangan ribuan anak panah kedua terluka dan terjebak dalam lautan mayat.
Api dengan cepat menjalar dan menjadi kobaran api yang sangat besar karena sebelumnya minyak obor telah melumasi tubuh-tubuh tak bernyawa itu. Pemandangan yang sangat mengerikan kemudian terjadi, dari dalam kobaran api tersebut teriakan memilukan mengisi telinga setiap orang yang mendengarnya.
Pasukan bala bantuan yang berhasil melewati lautan mayat tersebut begidik ngeri. Mereka dengan jelas melihat beberapa dari rekan mereka mencoba keluar dari kobaran api itu namun nyatanya tubuh mereka tidak sanggup menahan panas dari api yang menggerogoti tubuh mereka.
Bau gosong daging yang terpanggang hidup-hidup menyeruak mengisi udara, prajurit lawan yang mencium aroma tidak sedap tersebut banyak berjatuhan dan mengeluarkan isi perut mereka.
__ADS_1
Mereka memejamkan mata serta menutup telinga serapat mungkin, mereka tidak sanggup melihat penderitaan rekannya yang berada dalam kobaran api yang kian waktu semakin besar melahap lautan tubuh tak bernyawa itu.
Kobaran api itu terus menyala dan melahap apa saja yang ada disekitarnya, jeritan kesakitan kini sudah tak terdengar sebab pasukan yang terluka dalam kobaran api itu akhirnya tewas karena dilahap si jago merah.