
Pintu gerbang pasukan pemberontak dibuka dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Belum sepenuhnya pintu gerbang terbuka, suku kulit hitam lantas berlari masuk lebih dalam ke markas musuh tanpa mengatakan apapun.
Para prajurit yang melihat itu lantas melaporkan apa yang mereka lihat, “Apa? Apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan?!”, Patih yang memimpin misi penyusupan menjadi murka karena suku kulit hitam sekarang bertindak sendiri tanpa perintah darinya.
Mereka tidak mengetahui bahwa pasukan kulit hitam memiliki misinya sendiri. Membantu pasukan penyusup adalah misi kecil pasukan ini, namun misi besarnya adalah menculik Aryo atas perintah wanita muda.
Mereka diperintahkan agar menangkap dan membawa Aryo ke tangan wanita muda, ini disebabkan wanita muda yang tergoda dengan ketampanan wajah Aryo membuatnya memberi perintah agar pasukannya menculik Aryo malam ini.
Pasukan bala bantuan pimpinan menteri Balda akhirnya masuk melewati pintu gerbang yang telah terbuka lebar. Menteri Balda masuk setelah setengah pasukannya telah beranjak pergi, saat sampai di pintu gerbang dia berhenti untuk mendengar laporan dari bawahannya.
“Ampun menteri, ada berita buruk telah terjadi”, Patih pemimpin misi penyusupan menyampaikan laporannya.
“Seburuk apa berita ini?”,menteri Balda bertanya dengan tenang.
Patih itu diam sejenak sebelum melanjutkan penyampaian laporannya, “Saat kami sedang sibuk membuka gerbang, suku kulit hitam lantas pergi masuk jauh ke dalam markas musuh. Mereka pergi tanpa mengatakan apapun menteri”, lanjutnya.
Menteri Balda melotot ke arah Patih itu, laporannya barusan membuat emosinya kembali naik, “Bajingan!!! Dasar orang-orang bodoh!!! Mereka bertindak sendiri tanpa perintah langsung dari ku!!! Apa mau mereka sebenarnya?!!!”, emosi menteri Balda kini meluap-luap.
Dia tidak habis pikir bahwa pasukan suku kulit hitam ini sangat menjengkelkan, begitu pula dengan pimpinan pasukannya yakni wanita muda. Saat dia berbicara dengan wanita muda untuk meminjam pasukan suku kulit hitam saja ia merasakan bahwa dirinya dianggap seperti anak kecil oleh wanita muda tersebut.
__ADS_1
Dia berbicara kepada wanita muda untuk meminjamkan sedikit pasukannya, bukannya menanggapi dengan serius lantas wanita muda mencoba bermain-main dengannya.
Wanita muda terus menggodanya sebelum meminjamkan pasukannya kepada menteri Balda. Dia tidak ingin meminjamkan pasukannya tanpa menerima imbalan apapun, menteri Balda mencoba memberikan imbalan berupa emas namun itu saja tidak cukup bagi wanita muda.
Lantas menteri Balda bertanya apa yang diinginkan oleh wanita muda setelah emas, dan perkataan wanita muda berikutnya membuat tubuhnya menggeliat merinding setelah mendengarnya.
Ia kemudian menyadari kebiasaan buruk dari wanita tersebut, bukan hanya buruk tapi sangat aneh dan tidak wajar. Ia menepis segala ingatan tentang wanita muda tersebut dan kembali fokus dengan kondisi mereka yang sekarang sedang berada di dalam markas musuh.
****
Pasukan suku kulit hitam terus bergerak maju ke depan, membunuh siapa saja yang mereka temui dengan cepat. Walaupun jumlah mereka hanya lima puluhan nyatanya dengan kekuatan setara pendekar serigala tingkat 5 membuat mereka tidak tertandingi oleh lawannya.
Belum lagi ada tiga orang dari mereka yang berkekuatan setara pendekar harimau belang, tanpa perlawanan berarti dari pasukan yang berjaga mereka terus masuk lebih dalam ke markas musuh.
Pasukan musuh saat ini mengeluarkan nafsu membunuh yang begitu besar, bagi mereka tidak akan ada kata ampun bagi pasukan pemberontak malam ini.
Nyatanya pembantaian itu tidak berlangsung lama, saat jarak pasukan suku kulit hitam terpaut cukup jauh dari bara api tempat upacara pemakaman tiba-tiba langkah mereka berhenti karena salah satu dari mereka mati akibat sebuah tombak yang tertancap di tubuh rekannya itu.
Tombak itu meluncur ke arah rekannya begitu cepat, bahkan mereka baru menyadari setelah rekannya sudah terkapar tak bernyawa akibat serangan tombak barusan.
__ADS_1
Belum pulih dari rasa keterkejutan, tombak-tombak berikutnya kini beterbangan menuju arah mereka. Beberapa tombak itu berhasil membuat beberapa dari pasukan kulit hitam menjadi korban lagi, sementara yang lain masih bisa menghindar atau menangkis tombak yang terbang ke arah mereka.
Pasukan suku kulit hitam berteriak dengan bahasa mereka, entah apa yang mereka teriaki, menurut Aryo dan Patih Purno mereka sedang dilanda keterkejutan atas serangan yang telah mereka lakukan barusan.
Aryo dan Patih Purno melemparkan tombak ke arah pasukan lawan dengan aba-aba dari Patih Purno, dengan kekuatan Aryo sebagai pendekar harimau belang serta Patih Purno yang setara pendekar harimau putih mampu melancarkan serangan yang cukup mematikan kepada lawannya.
Sebelum melancarkan serangan itu para pasukan yang sedang terlelap sudah dibangunkan terlebih dahulu oleh Aryo. Aryo pikir masih ada kesempatan menyiapkan pasukannya untuk menghadapi bahaya yang akan datang.
Dia lantas menyuruh salah satu prajurit untuk menyampaikan pesannya agar semua pasukan bersiap. Dengan sigap prajurit itu melaksanakan perintah dari Aryo, dan sekarang semua pasukan sudah bersiap di belakang Aryo dan Patih Purno.
Subani dan pria sepuh berdiri tidak jauh dari keduanya, mereka harus saja melihat aksi dari Aryo dan Patih Purno. Dalam gelapnya malam mereka merasa heran mengapa keduanya melemparkan tombak ke arah depan, padahal dari pandangan mereka tidak ada apa-apa disana.
Bukan hanya satu tapi ada belasan tombak yang dilemparkan keduanya secara bergiliran. Gelapnya malam membuat mereka tidak bisa melihat apa yang Patih Purno lihat.
Sebenarnya Patih Purno juga tidak bisa melihat pasukan lawannya, namun dengan instingnya dan penciumannya yang cukup kuat serta aroma yang ia kenal, ia dapat memastikan bahwa lawannya saat ini adalah suku kulit hitam.
Lantas ia meminta Aryo untuk membantunya melempar tombak ke arah depan. Aryo sempat bertanya kepadanya, namun Patih Purno beralasan bahwa Aryo akan tahu setelah melemparkan beberapa tombak ke depan.
Dengan komando tangan Patih Purno memberi aba-aba kepada pasukannya agar melemparkan obor ke depan sejauh mungkin. Obor-obor itu tidak seperti obor umumnya yang akan padam apinya ketika jatuh ke tanah, namun obor yang dimiliki pasukan kuda besi Patih Purno memiliki satu keunggulan.
__ADS_1
Walaupun jatuh ke tanah namun api dari obor tersebut akan tetap hidup untuk beberapa saat membuatnya membantu jika dalam keadaan darurat.
Saat obor-obor itu dilemparkan dan menyentuh tanah, alangkah terkejutnya pasukan pemberontak mendapati bahwa di dekat obor yang dilemparkan itu terdapat sekelompok orang dengan kulit segelap malam sedang menatapi mereka dengan penuh nafsu membunuh, “Suku kulit hitam! Sudah aku duga itu kalian”, Patih Purno berbicara pelan.