
Terik matahari mulai menyengat kulit, menambah suasana yang tidak mengenakkan di perkemahan pasukan kerajaan Adipura. Sebelum siang itu raja Jaka menerima laporan dua orang mata-mata yang dikirim untuk mengintai markas pemberontak salah satunya berhasil ditangkap.
Ini menjadi berita hangat di seluruh pasukan karena menurut mereka bahwa mata-mata ini memiliki kekuatan yang lebih dari mereka secara fisik. Namun mereka tidak menyadari dari segi berpikir mata-mata ini masih sedikit tertinggal di bawah mereka. Raja Jaka kini sedang mendengar penjelasan dari mata-mata yang berhasil selamat bersama para pihak aliansinya.
“Laporan dari bawahan ku mengatakan bahwa pasukan pemberontak menerima bantuan dari beberapa kerajaan yang tidak dia tahu namanya”, seorang wanita muda buka suara dan menoleh kepada raja Jaka.
Setelah kata-kata wanita itu keluar raut wajah para tamu raja Jaka akhirnya berubah, ini dikarenakan bahasa yang digunakan oleh mata-mata itu hanya dimengerti oleh wanita muda ini yang tak lain adalah pemimpin dari mata-mata tersebut.
“Mungkin kerajaan yang dimaksud adalah Gundala, Benggawan atau Surka. Ini yang berhasil kita dapatkan dari salah satu pengkhianat dalam pasukan pemberontak”, menteri Balda ikut buka suara kepada seluruh tamu.
“Menurut menteri apakah pasukan itu akan menghalangi rencana kita nanti?”, tanya raja Jaka setelahnya.
“Tidak perlu takut paduka, melihat pasukan kita yang sungguh banyak ini akan membuat nyali lawan kita ciut. Lawan kita akan memilih untuk lari sebagai pengecut daripada melawan pasukan sebesar ini”, tanpa memikirkan jawaban dari menteri Balda seorang Patih dari kerajaan lain yang ikut bergabung dengan aliansi ikut berkomentar.
“Memikirkannya saja aku sudah ingin tertawa sampai menangis, hahaha.....”, sambung Patih di sebelahnya dengan tawa besarnya.
Kini ruangan itu menjadi berisik dengan suara saling menyombongkan diri masing-masing akan kekuatan mereka. Para tamu ruangan itu berpikir bahwa kemenangan ini akan mudah didapat, bahkan tanpa perlu menumpahkan darah setetes pun mengingat jumlah adalah patokan awal untuk memenangkan sebuah perang. Namun suara berisik itu tidak bertahan terlalu lama ketika suara lantang seorang pria terdengar di seluruh ruangan.
“DIAM KALIAN!!!! APA INI SIKAP YANG KALIAN TUNJUKKAN KEPADA MUSUH KALIAN NANTI!!!”, teriak menteri Balda kepada seluruh tamu dan seketika membuat mereka diam tak bersuara.
__ADS_1
Suasana kini hening karena saat menteri Balda bereaksi hawa pembunuh juga menyebar di seluruh ruangan itu membuat beberapa orang mengeluarkan keringat dingin. Tatapan menteri Balda begitu tajam dan terlihat sangat emosi dengan keributan yang terjadi sebelumnya.
"JUMLAH HANYA BERARTI JIKA MEREKA DIGUNAKAN DENGAN CERDIK!!! SEDANGKAN LAWAN KITA SEKARANG ADALAH ORANG-ORANG TERPILIH DENGAN KECERDASAN YANG SANGAT MUMPUNI!!!", menteri Balda kembali berbicara dengan teriakannya.
Sikap yang ditunjukkannya barusan digunakan untuk memotong kesombongan para pihak aliansi yang merasa arogan akan kemenangan yang mudah karena jumlah. Sebelumnya menteri Balda juga memiliki pandangan yang sama, namun beberapa puluh tahun yang lalu menteri Balda pernah memimpin pasukan kerajaan Kendala melawan kerajaan Gundala yang dipimpin oleh Patih Purno sendiri.
Walaupun menang jumlah nyatanya pasukan menteri Balda kesulitan dalam menghadapi lawannya yaitu Patih Purno. Begitu banyak siasat yang dilakukan lawannya sehingga hasil dari peperangan itu berakhir dengan imbang.
Itu merupakan sebuah pukulan telak dimana pada saat itu dia harus menerima sebuah kecaman akibat gagal dalam menaklukkan kerajaan kecil tersebut. Karena hal itu pulalah menteri Balda akhirnya belajar bahwa banyaknya pasukan yang mendukung suatu perang tidak akan terlalu membantu ketika melawan pasukan yang dipimpin dengan begitu pandai serta cekatan dalam setiap situasi.
***
Dirinya sempat menjadi senang namun itu tidak bertahan lama setelah mengetahui keadaan istrinya yang menghilang pada saat malam penyerangan. Dia mendapati laporan bahwa beberapa prajuritnya menemukan istrinya terbujur kaku di tanah dan sudah tak bernyawa. Ia segera berlari kencang ke tempat istrinya tersebut, dan setelah sampai di depan mayat istrinya lutut serta tenaganya tiba-tiba saja hilang seketika.
Rasa sedih dan amarah bercampur aduk dalam pikirannya, membuatnya seolah sedang menyaksikan akhir hidupnya. Dalam kondisi seperti begitu ia berjalan perlahan dengan lututnya menuju tubuh istrinya yang sudah terbujur kaku. Setelahnya ia mendekap tubuh istrinya dan menteri Balda pun berteriak sejadi-jadinya dan langsung menunjukkan sisi terburuknya.
Dia mendekap mayat istrinya dan menangis begitu keras, namun hal itu tidak berlangsung lama dan setelahnya dia menjadi berang kepada pihak musuh. Musuh yang telah menyatakan menyerah dan berhasil disandera akhirnya harus meregang nyawa karena dibantai menteri Balda tanpa ampun. Menteri Balda mengamuk dan mulai menusuk, menebas, bahkan tidak segan mencabik-cabik mayat korbannya karena marah atas kematian istri yang sangat ia cintai.
Pria misterius dan raja Jaka yang pada saat itu masih berstatus sebagai pangeran mencoba menenangkan amukan dari menteri Balda. Saat menteri Balda sudah bisa menenangkan amarahnya, hanya tinggal beberapa sandera lagi yang masih hidup namun raut wajah mereka begitu pucat. Mereka seperti melihat sesosok iblis yang sangat haus akan darah dan tidak segan membantai mereka hingga menjadi bagian-bagian kecil.
__ADS_1
“Kesombongan akan membuat kalian lengah terhadap hal-hal yang tidak terduga!”, ucap menteri Balda setelah membuka mata.
Semua orang dalam ruangan tersebut menundukkan kepala, tidak ada yang berani buka suara setelah amarah yang ditunjukkan oleh menteri Balda barusan. Melihat hal itu raja Jaka akhirnya tidak punya pilihan, ia kemudian buka suara untuk mencairkan suasana.
“Terima kasih atas peringatan yang menteri katakan, para tamu kita sudah mengerti akan ucapan yang telah menteri sampaikan, bukan kah begitu?”, raja Jaka menoleh ke arah Patih yang membuat menteri Balda menjadi berang tadi.
"Benar paduka kami sudah mengerti, maaf telah membuat menteri menjadi murka"
"Kami minta maaf menteri"
Menteri Balda menghembuskan nafas pelan, “Kalian boleh keluar dan segera siapkan prajurit, sebentar lagi kita akan berangkat ke tujuan!” perintah menteri Balda.
Para tamu yang hadir akhirnya keluar setelah perkataan menteri Balda barusan. Kini di ruangan itu hanya tinggal raja Jaka, menteri Balda, pria misterius dan wanita muda. Menteri Balda kini hanya diam dan memejamkan matanya mengingat masa-masa yang begitu pahit dirasakannya setelah kepergian istrinya.
Dia membantu raja Jaka untuk menumpas gerombolan pemberontak bukan hanya dari perintah raja mereka namun menteri Balda juga ingin menuntut balas dendam atas kematian istrinya yang diketahui dibunuh oleh raja Aryo pada saat dikudeta.
“Bukankah ini suasana yang sedikit canggung?”
Suara wanita muda memecah suasana yang saat itu masih sedikit tegang, raja Jaka dan pria misterius lantas menoleh ke arah wanita muda tersebut.
__ADS_1