
Wanita muda itu tersenyum penuh makna ke arah menteri Balda yang sedang memejamkan mata. Walaupun tidak perkataannya barusan tidak digubris oleh lawan bicaranya nyatanya tak membuat wanita muda itu diam, dia kembali buka suara , “Bukankah menteri memiliki dendam pribadi kepada pemuda itu bukan?”, wanita muda itu bertanya dengan senyum masih menghiasi wajahnya.
“Apa maksudmu?”, pria misterius bereaksi, "Bagaimana kau mengetahui hal itu?", tambahnya lagi.
Wanita muda menoleh ke arah pria misterius, "Aku tahu sedikit dari mulut salah satu rekan ku, engkau pasti tahu siapa dia", jawabnya.
"Jangan bilang!", pria misterius terdiam sesaat.
Reaksi yang dibuat oleh pria misterius membuat wanita muda itu tertawa cekikikan sambil melakukan gerakan mengibas dengan kipas di tangan kirinya.
“Aku bisa membantu untuk membalaskan dendam tersebut, itu perkara mudah jika memang menteri memang menginginkannya. Namun tentu saja hal seperti itu harus menggunakan imbalan yang sesuai, aku tidak akan meminta banyak. Cukup dengan satu syarat khusus, jika menteri bisa mengabulkannya aku akan senang hati membuat hidup pemuda bak seperti neraka”, tawar wanita muda.
Menteri Balda yang sedari tadi diam sambil memejamkan mata akhirnya mulai bereaksi setelah mendengar tawaran dari wanita muda itu. Raut wajah menteri Balda berubah mendengar hal itu bukan karena keinginan balas dendamnya diketahui oleh wanita muda namun ada hal lain yang menjadi permasalahannya.
Menurut penuturan dari pria misterius wanita muda ini adalah teman seperguruan setan merah saat mendalami ilmu hitam. Dari pria misterius pulalah ia mengetahui bahwa kekuatan dari wanita muda dengan setan merah tidak terpaut jauh. Sebagai pendekar dari aliran putih tentu saja mendapat rekan seperti ini tidak lah membuatnya menjadi tenang melainkan harus waspada jika terjadi hal tidak terduga seperti ditusuk dari belakang.
Setan merah sendiri tidak ingin ikut karena ada hal penting yang harus dia selesaikan, sebagai gantinya dia menawarkan salah satu temannya dari pulau Sulagendi untuk membantu pihak kerajaan Adipura dan Kendala.
“Syarat apa yang kau ajukan?”, tanya menteri Balda setelah terdiam beberapa saat.
“Bukankah pemuda itu memiliki istri, aku bisa mengirimkan santet kepada istrinya. Dan aku jamin dia pasti akan mati dengan sangat mengenaskan, bahkan suaminya sendiri tidak akan mengenali mayat dari istrinya tersebut", wanita muda itu menjawab dengan penuh kesombongan dengan diakhiri tawa cekikikannya.
__ADS_1
Menteri Balda yang awalnya tenang kini berdiri dan mengepalkan tangan sambil menatap tajam ke arah wanita muda tersebut. Sebagai pendekar dari aliran putih dia tidak terlalu menyukai praktek ilmu hitam seperti ini. Walaupun dia memiliki dendam kepada lawannya tapi membalasnya dengan melakukan hal seperti itu sangatlah tidak manusiawi.
“Tidak! Aku masih memiliki jiwa kemanusiaan tidak seperti mu!”, menteri Balda menjawab dengan lantang.
“Haa... Haaa... Haaaa... Aku hanya menawarkan, kenapa harus seperti itu balasan dari menteri?”
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau inginkan!"
"Apa maksud menteri?"
“Kau tidak bisa membodohi ku, aku sudah hidup lama di dunia persilatan dan sudah mencicipi manis pahitnya kehidupan. Aku tahu alasan dari permintaan kau barusan, alasan untuk membunuh istri pemuda itu hanyalah pengalihan. Tujuan kau sebenarnya adalah untuk ritual dari pulau mu bukan?”, menteri Balda bertanya panjang lebar dengan pedang sudah terhunus ke arah wanita muda.
Wanita muda mengambil sikap atas reaksi dari menteri Balda, dia berdiri dari tempat duduknya dan mengeluarkan sebuah pisau yang cukup besar dengan gagang berukir mirip kepala kelelawar.
Ketegangan antara keduanya membuat pria misterius tidak bisa tinggal diam melihatnya. Buru-buru sekali dia menghadang keduanya dengan berdiri membelakangi wanita muda dan menghadap ke arah menteri Balda berdiri.
“Menteri sebaiknya tenang dulu, ini tidaklah baik untuk aliansi kita", pria misterius buka suara setelah berdiri ditengah-tengah menteri Balda dan wanita muda, "Sebaiknya menteri keluar untuk menenangkan diri terlebih dahulu, murid Jaka temani menteri. Keadaan di sini sudah sangat panas, tolong lebih mengerti”, pinta pria misterius.
***
Pria misterius berusaha melerai ketegangan di antara keduanya, dia meminta agar tidak terjadi pertarungan yang tidak perlu. Dalam usah tersebut ia sempat merasakan aura pembunuh diantara keduanya mengingat posisinya sedanf menengahi kedua belah pihak.
__ADS_1
Namun tugas penting harus membuatnya bertahan, mengingat sekarang mereka adalah sekutu dalam perang yang akan datang dan jika terjadi pertarungan diantara keduanya efeknya tidak akan sedikit mungkin akan besar nantinya.
“Tolong pahami keadaan sekali lagi menteri”, pinta pria misterius kembali.
Menteri Balda kini diam dan merenungkan perkataan pria misterius. Sebagai pemimpin dari pasukan ini seharusnya dia menjaga agar tidak terjadi perpecahan dalam aliansi tersebut. Jika terjadi pertarungan mungkin moral pasukan akan berkurang karena melihat atasan mereka bahkan tidak kompak satu sama lain. Ini akan menjadi sebuah petaka jika para prajurit kehilangan rasa percaya kepada pemimpinnya sendiri.
“Baik, aku mengerti", ucap menteri Balda sambil menyarungkan kembali pedangnya, "Murid Jaka segera perintahkan agar pasukan bergerak sekarang, sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan!”, perintah menteri Balda setelah tenang.
“Baik menteri”, raja Jaka menganggukkan kepala dan segera keluar dari tenda tersebut.
“Dan kau sebaiknya tidak melakukan hal apapun ketika aku tidak memintanya!”, menteri Balda bersumbar cukup kuat yang diarahkan ke wanita muda.
Wanita muda itu tidak menjawab melainkan tertawa dan kini melangkah keluar dari tenda tempat mereka berada. Dia kemudian bergerak menuju pasukan yang dibawanya sendiri dengan berjalan pelan seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
Tidak lama kemudian pria misterius dan menteri Balda menyusul keluar untuk mengecek persiapan pasukannya. Mereka dapat melihat pasukan sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka yang masih cukup jauh.
Setelah dirasa semuanya telah siap raja Jaka segera menghampiri menteri Balda dan pria misterius yang sedang mengawasi di depan tenda, “Pasukan sudah siap untuk berangkat menteri”, ucap raja Jaka.
“Bagus! Segera berangkat, kita harus sampai di tempat tujuan sebelum bala bantuan musuh datang sepenuhnya!”, perintah menteri Balda.
Dengan sigap raja Jaka segera memerintahkan pasukan untuk segera bergerak, setelah arahan dari raja Jaka para pasukan kini bergerak menuju tempat yang akan dituju. Semuanya berjalan teratur dengan barisan yang begitu rapi diiringi oleh langkah kuda para petinggi pasukan. Menteri Balda, pria misterius dan raja Jaka menaiki kereta kuda berwarna kuning keemasan sementara wanita muda menaiki kudanya sendiri didampingi pasukan yang dipimpinnya.
__ADS_1