
Saat jarak Patih Purno dan lawannya hanya tinggal beberapa langkah, Patih Purno dengan cepat langsung melompat ke atas, gerakan yang tidak terduga itu membuat lawannya terkejut. Namun rasa keterkejutan itu menjadi lebih besar saat sebuah golok meluncur dengan cepat ke arah salah satu pasukan suku kulit hitam yang berada paling depan.
Golok itu tidak lain adalah golok milik Subani, dia sengaja membiarkan rekannya maju duluan untuk mengalihkan perhatian lawan. Dengan Patih Purno sebagai umpan ia dengan leluasa melancarkan serangan kejutan kepada suku kulit hitam.
Dan ternyata kombinasi keduanya berhasil dengan sangat mulus, goloknya kini tertancap tepat di dada sebelah kiri salah satu lawannya.
Tidak hanya itu, dengan cepat Subani menarik kembali goloknya dan melemparkan kembali ke arah salah satu lawannya yang lain. Lemparan keduanya juga berhasil mengenai lawannya dan kali ini mendarat di perut lawan yang telah diincarnya.
Darah segar mengalir deras dari luka yang telah Subani torehkan kepada lawannya membuat empat orang yang tersisa menelan ludah, perasaan takut menjadi begitu besar dan terus-menerus menyerang mereka.
Tidak habis dari itu, Subani melancarkan serangan ketiganya dan kembali mengincar salah satu dari pasukan suku kulit hitam lagi. Tidak ingin mati tanpa perlawanan lantas membuat orang yang diincar mengangkat senjata bersiap menangkis serangan itu.
Subani tersenyum melihat reaksi lawannya, ia memang mengagumi kekuatan fisik dari lawannya ini namun secara pertarungan mereka masih dibilang rendah pengalaman. Subani sengaja melemparkan goloknya sedikit lebih pelan dari sebelumnya, alasannya karena ada serangan kejutan lain yang akan ia perlihatkan pada lawannya.
Saat goloknya hampir bersentuhan dengan pedang lawannya saat itu pula lah Subani menarik sedikit tali yang mengikat gagang goloknya. Tali yang ditarik itu ternyata mengubah arah serangan dari goloknya dan kini bergerak menuju paha kanan lawannya.
Orang yang menjadi incaran dari Subani tidak menyangka akan serangan kejutan itu, dia tidak sempat menghindar karena rentang waktu yang begitu singkat. Dan sekarang golok lawannya sudah menancap dengan sangat dalam di paha kanannya membuat erangan kesakitan dari mulutnya tidak tertahankan lagi.
__ADS_1
"Aaargggkkhhhh......"
Namun erangan itu tidak bertahan lama, tidak lama kemudian Patih Purno yang melompat ke atas sebelumnya turun ke posisi korban serangan dari Subani. Saat kaki Patih Purno menginjak tanah dia mulai melakukan gerakan seperti ingin memukul dengan tombaknya dari bawah, namun bukan ke arah lawannya melainkan tepat di gagang golok milik Subani.
Lawannya yang sedang mengerang kesakitan akibat terkena serangan dari Subani tidak menyadari kehadiran Patih Purno di depannya. Melihat kesempatan emas Patih Purno tidak ingin menyia-nyiakannya, "Selamat tinggal musuh pemberani!", Patih Purno mengumpulkan tenaga dalam di kedua tangannya dan kemudian melakukan sebuah gerakan memukul ke arah depan dengan tombaknya tepat di gagang golok milik Subani.
Karena hantaman dari tombak Patih Purno membuat golok yang menancap di kaki salah satu pasukan suku kulit hitam itu kemudian tembus dan kini mengarah ke tiga orang yang berada di belakang orang itu.
Lawannya tidak menyadari akan serangan kombinasi dari Patih Purno dan Subani barusan, golok yang terarah pada mereka tidak sanggup mereka hindari karena waktu yang terasa begitu singkat.
Golok itu menembus tubuh mereka dengan cepat tanpa mereka sadari dan berhenti setelah tertancap di dada pasukan suku kulit hitam yang berada paling belakang. Sekarang golok itu telah membuat empat orang yang tersisa harus merenggut nyawa akibatnya, Subani kemudian menarik goloknya dengan sangat keras sehingga tiga dari empat orang lawannya kini terjebak seperti ikan yang memakan umpan pancing.
Patih Purno berjalan perlahan ke arah orang itu, saat jaraknya sudah dekat ia kemudian berucap, "Kalian adalah lawan yang hebat, kami akan selalu mengenang bahwa malam ini telah bertemu dengan salah satu pejuang tangguh", selesai berkata demikian Patih Purno lantas melancarkan sebuah serangan menebas tepat ke leher lawannya.
Dalam satu serangan dengan mudah kepala ketiga lawannya kini sudah tidak berada di tempatnya. Patih Purno menghembuskan nafas pelan ia memandangi jasad dari semua pasukan suku kulit hitam yang ia temui malam ini, walaupun cukup mudah melawan mereka tapi nyatanya itu tidak akan baik jika mereka menghadapi ratusan orang ini di medan perang nanti.
Pasukan pemberontak pasti akan kesulitan mengingat kekuatan fisik mereka berjarak cukup jauh, ia tidak ingin masalah ini membuat pasukannya mengalami kemunduran. Ia harus memikirkan matang-matang sebuah solusi untuk menghentikan masalah yang dibuat oleh suku kulit hitam ini.
__ADS_1
Tidak ingin ambil pusing Patih Purno lantas menyeka darah yang menghiasi tombaknya dengan pakaiannya dan akhirnya pertarungan dengan suku kulit hitam malam ini telah selesai sudah.
***
Pasukan pimpinan menteri Balda baru saja tiba tidak jauh dari posisi pertarungan dari Patih Purno dengan pasukan suku kulit hitam yang baru saja berakhir. Dia sempat menyaksikan saat-saat dimana Patih Purno menghabisi lawannya itu, karena lawan yang dihabisi oleh Patih Purno bukan dari pasukannya dia lantas hanya diam saja.
Dia telah menebak bahwa pasukan suku kulit hitam yang ia pinjam dari wanita muda akan mengalami hal buruk setelah keluar dari rencananya. Dan kenyataan telah terjadi bahwa semua pasukan suku kulit hitam yang ikut bersamanya kini terbaring tak bernyawa di sekitar Patih Purno dan Subani saat ini.
Ia menyadari bahwa lawannya memang tidak main-main dengan mereka ini dibuktikan mereka mampu menahan puluhan orang suku kulit hitam ini. Tentu saja itu menjadi sebuah tantangan bagi menteri Balda, ia harus segera membalikkan keadaan agar pasukannya segera berada diatas angin melawan semua musuhnya.
Patih Purno yang menyadari bahwa bala bantuan lawan kini telah datang kemudian bersiap menghadapi mereka disusul Subani di sebelahnya tidak lama kemudian.
"Pasukan lawan tidak main-main setelah menerima kekalahan waktu siang tadi, mereka kembali mengirimkan musuh dengan jumlah yang sangat banyak", Subani berkomentar kepada Patih Purno saat melihat lautan musuh telah masuk ke dalam markas mereka.
"Ya, mereka belajar banyak dari pertempuran siang tadi. Hmmm..... Apa kau takut teman ku?", Patih Purno spontan bertanya kepada Subani sambil menoleh ke arah orang yang diajaknya bicara.
Mata Subani spontan melotot, pertanyaan dari rekannya barusan membuat ia menjadi sedikit tersinggung, "Apa yang harus aku takutkan? Tidak ada yang mampu membuat ku takut di dunia ini!", tegas Subani.
__ADS_1
"Benarkah? Bagaimana kalau itu menyangkut istrimu?"