Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
32. Pertemuan II


__ADS_3

Baru kali ini Sinta melihat senyuman sehangat itu, bahkan senyuman itu mengalahkan senyuman hangat dari ayahnya sendiri. Sinta larut dalam pandangan yang terarah kepada pangeran mahkota Aryo. Tanpa ia sadari mulai timbul sebuah perasaan yang aneh.


Hatinya bergetar ketika lebih lama memandang senyum pemuda itu. Sinta terpaku dalam lamunan, sosok pemuda yang dipandanginya saat ini begitu berbeda dari kebanyakan pemuda lain saat bertemu dengannya.


Walau baru mengenalnya namun Sinta sangat nyaman menatap wajah pemuda ini. “Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa berhenti menatap wajahnya”, Sinta ingin protes namun suaranya bahkan tidak dapat ia keluarkan.


Mereka masih saling bertatapan hingga suara ayahnya samar-samar terdengar seperti memanggilnya. Ayahnya sudah memanggilnya sebanyak 3 kali namun tak kunjung dijawab oleh Sinta.


“Apa yang engkau lamunkan sehingga tidak mendengar panggilan ayah?”


“Ma.. ma.. maaf ayah”


Sinta terbata-bata menjawab pertanyaan ayahnya. Dia sungguh tidak mendengar panggilan dari ayahnya tadi. Melihat hal itu raja Aryi lantas tertawa dan melihat ke arah pangeran Aryo sambil tersenyum.


“Seperti biasa senyum ananda Aryo selalu membuat setiap wanita merasa nyaman melihatnya”


“Ti-tidak begitu raja”, balas Sinta spontan.


Raja Aryi tersentak kaget sesaat, namun tidak lama kemudian senyuman penuh makna mulai terukir di wajahnya.


Jawaban Sinta malahan membuat sikapnya barusan menjadi jelas yang tak lain dikarenakan senyuman pangeran Aryo. Sinta mengutuk perkataannya barusan dan memilih pergi dari tempat duduknya dengan wajah yang merah merona.


“Masa-masa muda memang paling berkesan”


“Maafkan sikap anakku tadi”


“Ahhh... Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi. Bukankah kita juga dulu seperti mereka yang baru mengenal asmara”


Ayah Sinta tersedak nafasnya sendiri ketika mendengar pernyataan dari raja Aryi. Raja Aryi mengartikan sikap Sinta barusan seolah-olah anaknya sedang jatuh cinta kepada pangeran Aryo. Melihat reaksi lawan bicaranya raja Aryi kembali tertawa.

__ADS_1


“Kau tidak pernah berubah, selalu tertawa riang bahkan di saat kita kesusahan dulu”


“Aku punya patokan hidup, tertawa lah sebelum tertawa dilarang”


Raja Aryi kembali tertawa diikuti oleh teman masa kecilnya. Perbincangan itu kemudian berlanjut dan akhirnya diputuskan kedua pangeran akan menjadi murid silat ayah Sinta. Dengan penyampaian yang lembut serta singkat dari raja Aryi, kedua pangeran mahkota juga setuju untuk menjadi murid dari ayah Sinta.


Sinta yang mendengar hal itu dari kejauhan sontak merasa kegirangan. Tanpa sadar dia melompat-lompat karena senang dengan apa yang didengarnya barusan. Namun setelah dia sadar para murid ayahnya memandanginya dengan raut wajah yang kebingungan membuat Sinta salah tingkah lagi.


Karena semakin banyak mata yang terarah padanya membuatnya tidak nyaman. Dengan tergesa-gesa dia berjalan ke arah kamarnya berniat mengurung diri dan baru keluar setelah esok harinya.


***


“Jadi seperti itu awal cerita non bertemu dengan tuan muda”


“Benar bik, bahkan malamnya aku kesulitan tidur karena kejadian hari itu”


“Biar bibik tebak, non kesulitan tidur karena senyuman tuan muda bukan?”


“Bibik punya ilmu membaca pikiran seseorang?”


“Mengapa non berpikir seperti itu?”


“Dari tadi bibik selalu bisa menebak kepribadian ku, jawab sekarang bik!”


Sinta meminta penjelasan bik Sekar dengan mata melotot ke arahnya. Bik Sekar sedikit terkejut karena reaksi Sinta barusan. Dia pun tertawa lepas dan segera menjawab pertanyaan dari Sinta.


“Mungkin bibik memilikinya”


Pernyataan bik Sekar membuat Sinta terus menatapnya tanpa henti. Tatapan itu membuat bik Sekar merasa canggung. Dia buru-buru mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali cair.

__ADS_1


“Bagaimana kelanjutan ceritanya non?”


“Aku akan bercerita lagi bik, tapi aku tidak akan membiarkan bibik membaca pikiran ku lagi”


Jawaban Sinta membuat bik Sekar tersenyum canggung, namun tidak lama kemudian Sinta kembali bercerita tentang kisah cintanya. Bik Sekar kembali mendengarkan cerita tersebut sambil tersenyum.


***


Sebagai anak gadis yang menginjak usia remaja paras Sinta sudah membuatnya menjadi primadona dimata laki-laki yang melihatnya. Tidak jarang kediamannya didatangi kalangan pendekar-pendekar yang ingin mempersunting Sinta kala itu.


Bahkan kalangan bangsawan tidak mau kalah, dengan nama besar dari ayahnya serta paras cantiknya kala itu membuat kalangan ini berebut untuk meluluhkan hati Sinta serta ayahnya. Mereka membawa anak laki-lakinya ke rumah Sinta dengan pakaian khas bangsawan yang sangat bagus bermaksud membuat Sinta kagum akan keraguan anak-anak mereka.


Banyak hadiah yang dibawakan untuknya berupa pakaian atau perhiasan yang sangat indah, berharap agar Sinta akan setuju menikah maka dia akan hidup bergelimangan harta.


Sayangnya hal seperti itu tidak akan berpengaruh terhadap Sinta. Sejak kecil ia diajarkan oleh ayahnya jangan pernah tergila-gila dengan harta. Sinta selalu protes dengan ajaran ayahnya yang mengatakan hal seperti itu. Menurutnya jika hidup bergelimangan harta maka apapun akan terpenuhi. Sampai suatu hari matanya terbuka oleh suatu kejadian yang sangat mengiris hatinya.


Sebagai seorang gadis, ayahnya juga mengajarkan agar dia berinteraksi dengan anak gadis seusianya. Karena perangainya yang periang serta baik hati membuat Sinta mudah mendapatkan teman bermain.


Tidak sedikit temannya yang akan merasa gusar jika Sinta tidak ikut bermain dengan mereka sehari saja. Tidak hanya temannya, Sinta juga akan merasa bosan jika tidak bermain bersama teman-temannya.


Namun orang tidak akan pernah mengetahui dibalik parasnya yang cantik, Sinta memiliki sifat yang kurang baik yaitu terlalu manja dengan ayahnya. Semenjak kepergian ibunya ketika ia masih kecil membuat ayahnya harus merawat Sinta seorang diri.


Walaupun terasa berat ayahnya merawat Sinta dengan penuh kasih sayang dan selalu memanjakan Sinta setiap saat. Tak jarang Sinta akan menangis jika keinginannya tidak dituruti. Sifat itu masih bersamanya sampai kedatangan Aryo dalam hidupnya.


Seorang pemuda yang tampan, ramah dan baik hati. Dia tidak akan segan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan bantuannya. Berbagai cerita Sinta dengar dari kalangan rakyat bahwa pangeran mahkota Aryo sangat dekat kepada rakyat.


Karena statusnya sebagai pangeran mahkota membuat dirinya dihormati oleh para rakyat di kerajaanAdipura. Namun Aryo tidak akan memamerkan statusnya tersebut, dia lebih memilih berinteraksi dengan rakyat biasa demi lebih mengenal kehidupan rakyatnya.


Tidak setiap hari murid ayahnya berlatih silat, namun saat hari dimana kedua pangeran ikut berlatih Sinta akan pergi diam-diam untuk melihatnya. Walaupun terkesan seperti penguntit, orang yang melihatnya akan mengerti atas perilaku Sinta ini.

__ADS_1


Karena perilakunya ini sudah diketahui oleh banyak orang bahkan sampai ke telinga ayahnya. Lantas ayah Sinta menyuruh Sinta agar ikut berlatih silat bersama murid ayahnya. Sontak Sinta terkejut dan merasa keberatan atas perintah ayahnya tersebut. Sebagai anak satu-satunya dan selalu dimanjakan membuat Sinta tidak pernah sedikitpun diajari beladiri.


__ADS_2