Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
26. Suku Kulit Hitam


__ADS_3

Dengan gerakan cepat pria sepuh menyalakan obor yang menjadi penerangan dalam ruangan itu. Karena merasa masih terlalu gelap di dalam pria sepuh lantas meminta agar dua prajurit masuk ke dalam dengan membawa obor masing-masing. Setelah keduanya masuk perlahan ruangan itu akhirnya menjadi sedikit terang dengan cahaya yang dipancarkan oleh obor tersebut.


“Suku kulit hitam!”, ucap Patih Purno sedikit memekik. Matanya melebar menyaksikan hal yang tak terduga di depan matanya sekarang.


Aryo dan pria sepuh spontan terkejut dan menoleh ke arah Patih Purno yang barusan memekik secara bersamaan. Keduanya menjadi kebingungan dengan ucapan Patih Purno barusan, belum lagi ekspresi yang diperlihatkan oleh Patih Purno sekarang. Saat keduanya masih dalam kebingungan, Patih Purno kembali berucap sekaligus bertanya kepada Aryo.


“Celaka! Tuan muda, bagaimana kalian menangkap orang ini?”, Patih Purno bertanya dengan nada tergesa-gesa.


"Kenapa begitu tergesa-gesa Patih? Apa Patih mengenali orang ini?", Aryo lantas bertanya balik kepada Patih Purno yang ditanggapi olehnya dengan anggukan kepala berulang kali.


"Aku akan menceritakan tentang orang ini, tapi aku harus mendengar bagaimana kalian bisa menangkap orang ini", Patih Purno masih tetap kekeh untuk mendengar penjelasan dari situasi yang terjadi sekarang.


Melihat reaksi Patih Purno yang terus menunggu jawaban membuat Aryo meminta agar pria sepuh menjelaskan kejadian tempo hari, pria sepuh menganggukkan kepala seraya berucap, “Begini Patih, waktu itu...”, pria sepuh mulai menjelaskan.


Pria sepuh menjelaskan awal cerita bagaimana orang asing tersebut ditangkap hidup-hidup. Dari penjelasan pria sepuh, Patih Purno menangkap garis besar penjelasannya. Dia tidak menyangka bahwa akan melihat salah satu orang dari suku yang dia ketahui cukup lama, kemungkinan pasukan musuh memperkerjakan orang-orang suku kulit hitam ini.


Patih Purno terdiam sesaat dengan kepala menunduk ke bawah dengan kening mengkerut seperti memikirkan hal yang sangat berat. Melihat hal itu Aryo mencoba bertanya untuk mencairkan suasana yang sudah agak hening.


“Apakah Patih mengetahui asal usul orang ini”, Aryo bertanya pelan.


“Tuan muda, saya pernah mendengar sekaligus melihat orang-orang ini, mereka berasal dari pulau yang sangat jauh dari tempat kita sekarang. Ditempatnya mereka lebih dikenal sebagai suku kulit hitam, tentu saja itu karena warna kulit mereka yang hitam persis segelap malam", Patih Purno menerangkan.


"Bagaimana mereka bisa sampai disini?", Aryo bertanya kembali.

__ADS_1


"Apa yang dilakukannya disini?!", pria sepuh ikut menimbal pertanyaan Aryo.


"Mereka berasal dari pulau bagian timur, menurut pengetahuan saya suku ini sangat tertutup dan jarang keluar dari wilayahnya. Namun saya beruntung bisa bertemu dengan beberapa petarung dari suku kulit hitam ini, dan tentu saja itu semua berakhir dengan sebuah pertarungan. Dan saya yakin kedatangan orang ini berkaitan dengan musuh kita nanti!”, jawab Patih Purno lebih jelas.


Aryo dan pria sepuh sejenak larut dalam diam memikirkan kembali ucapan dari Patih Purno barusan. Jika memang benar yang dikatakan oleh Patih Purno, apa alasan yang membuat orang ini ikut membantu lawan mereka, namun belum sempat mereka memikirkan jawabannya Patih Purno kembali berbicara lagi.


“Tuan muda tolong bawa orang ini keluar dan lepas rantai yang mengikatinya”, pinta Patih Purno.


"Patih?"


Aryo dan pria sepuh terkejut mendengar permintaan tersebut. Mereka merasa heran atas apa yang diminta oleh Patih Purno, apa yang dipikirkan olehnya sehingga meminta ikatan rantai orang ini dilepas.


“Tuan muda tidak perlu khawatir, saya akan menunjukkan sedikit hal tentang suku kulit hitam ini”, Patih Purno berbicara lagi.


Awalnya hanya sedikit yang melihat kejadian itu namun perlahan ribuan prajurit mulai mendekati halaman markas yang sedang terjadi sesuatu. Perbincangan hangat mulai meruak malam itu sebab para prajurit yang tidak mengetahui kejadian awal baru sekarang mengerti mengapa ada salah satu ruangan yang dijaga dengan begitu ketat.


Belum lagi reaksi para prajurit yang melihat orang asing di tengah halaman markas mereka sekarang, dengan kondisi terikat rantai yang cukup ketat serta kepalanya ditutupi dengan karung. Aryo memandangi sekitar dan tak lama kemudian kembali larut dalam kebingungan, entah apa yang ingin dilakukan oleh Patih Purno sekarang.


Tidak lama berselang dari barisan pasukan kuda besi tampak Patih Purno berjalan menghampiri Aryo yang berdiri bersama pria sepuh di dekat orang asing tersebut. Aryo dapat melihat dengan jelas Patih Purno kembali ke arah mereka dengan membawa dua buah tombak biasa.


“Paman, apa yang ingin dilakukan oleh Patih Purno?”, Aryo bertanya kepada pria sepuh.


“Hamba tidak tahu tuan muda, mungkin Patih ingin menunjukkan sesuatu kepada kita”, pria sepuh menjawab.

__ADS_1


"Aku harap semuanya baik-baik saja"


"Mari kita percayakan semuanya kepada Patih Purno"


Keduanya tidak lagi melanjutkan obrolan ketika Patih Purno telah sampai di dekat mereka. Patih Purno memandangi sekitar mereka yang mulai sesak dengan para prajurit yang penasaran apa yang akan terjadi.


“Tolong lepaskan ikatan rantai orang ini”, pinta Patih Purno.


***


Para prajurit yang menjaga dengan sigap membuka ikatan rantai tersebut dengan cepat. Dengan hati-hati mereka menjaga jarak karena saat ikatan rantai tersebut lepas orang ini langsung berdiri dengan tatapan tajam ke arah mereka. Nafasnya memburu membuat para prajurit lekas mundur ke belakang dengan pedang dan tombak sebagai alat untuk mempertahankan diri.


Aryo dan pria sepuh sudah bersiap menarik senjata masing-masing kalau-kalau orang ini akan bertindak nekat. Namun tidak beberapa lama Patih Purno melemparkan salah satu tombak ke arah orang itu. Tombak itu melesat cepat ke arah orang asing itu, namun dengan sigap tombak itu ditangkap oleh orang itu dengan cukup mudah.


“Tuan muda tidak perlu khawatir, biarpun orang ini terlihat sangat pemarah dan ingin membunuh. Orang ini di tempat asalnya memiliki kekuatan seperti pendekar pada umumnya. Maksud dari tombak ku barusan adalah untuk menantangnya bertarung”, Patih Purno menjelaskan alasan perbuatannya tadi.


“Patih, apakah ini memang rencana mu?”, tanya Aryo penasaran.


“Benar tuan muda, saya ingin dia menunjukkan kemampuannya. Ini sangat penting untuk kita saat menghadapi orang-orang ini nantinya”, jawab Patih Purno kembali.


"Bagaimana Patih akan menghadapi orang ini?", pria sepuh ikut bertanya.


"Beri aku ruang untuk bertarung dengannya, kalian cukup melihat jarak yang cukup jauh dari sini", pinta Patih Purno.

__ADS_1


Aryo mengangguk tanda mengerti dan segera memberi ruang kepada Patih Purno diikuti oleh pria sepuh dan prajurit yang berjaga. Setelah itu Patih Purno langsung memasang kuda-kuda bersiap menghadapi lawannya, dia memberi isyarat tangan menyuruh orang tersebut maju menyerangnya.


__ADS_2