
Menteri Balda sudah bersiap menusuk dengan pedangnya, ia menunggu kata-kata terakhir yng akan diucapkan oleh lawannya sebelum dieksekusi. Namun ia tidak pernah mendengarnya, malahan ia menyaksikan setetes air mata kini mengalir membasahi pipi lawannya dengan senyuman pahit terukir menemaninya.
Aryo memejamkan matanya dan telah siap menghadapi kematian, ia sudah pasrah akan semua yang akan menghampirinya sebentar lagi. Tidak ada pilihan lain selain menyerahkan jiwa dan raganya, ia harap dewa mengampuni mengampuninya karena telah lalai dan ingkar janji terhadap istri tercintanya, Sinta.
"Baiklah jika tidak ada kata-kata yang lain lagi. Malam ini akan menjadi akhir pertemuan kita!", menteri Balda mengangkat pedangnya ke atas dan kemudian menghunuskan pedangnya ke arah Aryo yang terkapar tak berdaya di tanah.
"Semoga kau bertemu dengan ayahmu disana! Aku merasa terhormat memiliki lawan sekuat engkau!"
Tidak ingin basa-basi lagi menteri Balda kemudian bergerak menghunuskan ujung pedangnya ke arah dada tepat jantung Aryo berada.
Detak jantung Aryo berdetak lebih kencang dari semestinya, ia bisa merasakan hawa dingin dari pedang yang akan menghampirinya.
***
Wuuushhhh... Wuuuussshhhhh.... Wuuuuuuuushhhhh........
Angin bertiup kencang menerpa tubuh Aryo yang terkapar di sebuah taman tepat di tengah danau yang airnya begitu tenang. Hawa dingin yang ia rasakan tadi sekarang sudah menghilang dan digantikan dengan angin yang seolah membelainya dengan lembut.
Tanpa Aryo sadari tubuhnya bisa digerakkan kembali dan ia kemudian mendapati dirinya berada di tempat asing. Riuhnya suasana perang kini tak lagi terdengar, ia terbangun di tempat yang sunyi dan hanya ada desingan angin serta rintik air.
Aryo sempat terdiam sejenak sebelum berhasil mengingat bahwa tempat ini hampir sama saat mimpinya bertemu dengan istrinya kemarin.
Perasaan lega bercampur takut melanda ya sekarang, "Apakah aku sudah mati?", hatinya terus menanyakan pertanyaan itu berulang kali.
Jika memang ia sudah mati bagaimana mungkin ia sampai di tempat ini, "Apakah ini surga?!", perasaannya mengatakan bahwa tempat ini adalah surga yang diceritakan oleh orang-orang suci di pura.
Saat masih kebingungan dengan kondisinya sekarang tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang, "Akhirnya kita berjumpa kembali...", suara yang tak asing terdengar sangat dekat ditelinganya.
Aryo bergerak menghindar karena terkejut, ia tidak dapat merasakan hawa keberadaan orang uang menepuk pundaknya tersebut, ia mencoba meraih keris Bagaskara dan bersiap jika saja orang itu berniat jahat kepadanya.
Namun Aryo mendapati keris Bagaskara kini tak lagi bersamanya, ia merogoh pakaiannya berulang kali namun keris itu hilang seakan-akan di telan bumi.
__ADS_1
"Apa kau mencari keris ini anak muda?"
Aryo sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sosok di depannya sekarang, "Ki....", mata Aryo melotot dan tidak berkedip sedikitpun.
Orang itu tersenyum sebisanya dengan raut wajah yang sudah sangat tua, kerutan demi kerutan sudah mengisi wajahnya yang sudah berumur. Badannya membungkuk dengan tongkat menjadi alat bantuan untuk dirinya bisa berdiri.
Aryo mengenal sosok tersebut, ia belum lama ini bertemu dengan orang ini. Dan orang itu tidak lain adalah Ki Ratno yang pernah ia temui saat perjalanan menuju markas pemberontak.
Namun Aryo menyadari bahwa Ki Ratno sekarang sudah sedikit lebih tua saat pertama kali mereka bertemu, dia bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat orang tua tersebut begitu nampak lebih tua ketika berhadapan dengannya sekarang.
"Ki... Bagaimana bisa Ki Ratno ada disini?", Aryo bertanya penasaran.
"Anak muda... Mengapa engkau masih saja berdiri disana, kemari temani aku duduk di meja batu disana", Ki Ratno tidak menggubris pertanyaan dari Aryo, malahan ia langsung berbalik badan setelah ucapannya selesai.
Aryo merasa sikapnya terlalu berlebihan sehingga membuat Ki Ratno tidak menjawab pertanyaannya. Ia hendak meminta maaf kepada Ki Ratno namun seolah tahu isi hati Aryo, Ki Ratno kembali berbicara, "Ada yang ingin ku bicarakan, kemarilah temani aku sebentar saja"
Ki Ratno menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang, ia ingin mendengar tanggapan dari lawan bicaranya sekarang.
"Ba... Baik Ki", Aryo menjawab dengan terbata-bata.
***
Aryo berjalan pelan mengikuti langkah Ki Ratno yang sangat goyah, tak jarang ia melihat tubuh renta itu hampir jatuh ke tanah saat berjalan di depannya. Keheranannya terus menyeruak karena saat pertama kali mereka bertemu Ki Ratno tampak masih kuat walau sudah diusia renta.
Langkah Ki Ratno kini berhenti setelah keduanya berada di dekat sepasang kursi dan sebuah meja yang terbuat dari batu. Kursi dan meja itu berada di sisi lain pulau yang berada di tengah-tengah danau tersebut.
"Silahkan duduk anak muda, kau pasti lelah setelah menghadapi pertarungan tadi", Ki Ratno bergerak menuju salah satu dari kursi batu di depan mereka.
Aryo diam sesaat sebelum kemudian bergerak mengikuti perkataan dari Ki Ratno. Kini mereka berdua duduk saling berhadapan dengan meja batu menjadi pemisah jarak diantara keduanya.
"Ki... Apakah aku bermimpi sekarang?"
__ADS_1
"Ahhh... Anak muda ini masih saja terkejut, duduk saja dengan tenang dan dengarkan apa yang ingin kubicarakan sebab waktu kita tidak terlalu banyak", Ki Ratno tersenyum kepada Aryo lagi.
"A-apa yang ingin Ki Ratno bicarakan?", Aryo bertanya kembali. Rasa penasarannya seolah tak bisa dibendung saat ini, "Dimana ini? Apakah kita sekarang berada di surga?"
"Engkau hampir mendekatinya, sebentar lagi...", senyuman Ki Ratno kini memudar.
"Hah? Apa maksudnya Ki?"
"Bisa ku bilang saat ini kau berada di alam mimpi yang jauh dari kehidupan duniawi. Aku sengaja membawa ke tempat ini untuk membicarakan hal penting bersamamu"
"Hal penting? Hal penting seperti apa Ki?"
"Ini tentang permintaan ku sebelumnya, apa engkau masih ingat?"
Aryo diam sesaat sebelum berhasil mengingat permintaan dari orang tua tersebut, "Iya Ki, aku masih mengingatnya. Tapi bukankah aku sudah menyetujui permintaan dari Ki Ratno."
"Ha... Ha... Ha... Untunglah kau masih mengingatnya. Orang tua ini berpikir mungkin kau sudah melupakan permintaan ku kemarin."
"Tentu saja aku masih mengingatnya Ki, tapi mengapa kita membahas itu lagi?"
Ki Ratno tidak langsung menjawab, ia lantas mengeluarkan keris Bagaskara milik Aryo yang di pegangnya tadi. Mata Aryo melotot melihat keris itu kini sudah sedikit berubah dari bentuk awalnya.
"Kau pasti mengenalinya bukan?", Ki Ratno menunjukkan keris tersebut.
"Itu keris yang aku miliki, bagaimana bisa keris itu berada di tangan Ki Ratno sekarang?"
___________________________________________
Halo semuanya, kembali lagi bersama saya author novel Takdir Kerajaan Adipura.
Semoga semuanya tidak bosan membaca cerita yang saya sajikan, kali ini saya ingin menyampaikan pengumuman. Untuk beberapa hari ke depan novel ini tidak akan upload episode baru, sebab ke depannya ada tugas penting yang harus saya kerjakan terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah tugas tersebut selesai saya akan kembali menulis dan mengupload episode baru untuk para pembaca setia novel ini.
Sampai jumpa di episode baru beberapa hari lagi, salam hangat dari author :)