
“Dinda... Kanda minta maaf, kanda gagal sebagai suami yang baik untukmu", ayah Sinta menundukkan kepalanya, "Kalau saja kematian bisa ditukar lebih baik kanda saja yang menggantikan tempat mu”, ratap ayah Sinta.
Dia telah berhenti menangis, air matanya seolah-olah sudah terkuras habis. Dia kemudian memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Dia masih tidak rela kekasih hatinya pergi meninggalkan dia beserta anaknya.
“Kanda berjanji akan menjaga Sinta sebaik mungkin, tenanglah disana dinda”
Begitulah ucapan terakhir ayah Sinta kepada istrinya sambil mengecup kening istrinya untuk terakhir kali.
Dia kemudian meraih Sinta untuk memeluknya, dia berharap kepada dewa agar istrinya ditempatkan di tempat yang semestinya. Walaupun hatinya masih tidak terima namun akhirnya dia rela dengan takdir yang telah berlaku.
Karena terlalu lelah baik mental maupun fisiknya, tiba-tiba pandangannya kembali gelap dan tidak lama kemudian dia ikut pingsan di samping istrinya sambil memeluk Sinta.
***
Suara pertarungan di kediaman ayah Sinta membuat beberapa warga yang rumahnya tidak terlalu jauh terbangun dari tidur nyenyak mereka. Mereka yang terbangun samar-samar mendengar suara dentingan pedang yang saling beradu.
Mereka yang mendengar hal itu berpikir malam itu ayah Sinta sedang melatih murid silatnya. Namun suara teriakan dari setan merah akhirnya menyadarkan mereka bahwa sesuatu yang tidak baik telah terjadi di kediaman ayah Sinta. Para warga kemudian melapor pada ketua kampung yang segera disampaikan pada warga yang lain.
Para warga kemudian berbondong-bondong keluar dari rumahnya dan bergerak menuju kediaman ayah Sinta untuk memastikan apa yang terjadi. Sesampainya di pintu gerbang rumah ayah Sinta bau amis darah mulai tercium, ketika pintu gerbang dibuka bau amis darah menusuk tajam di hidung para warga.
Pemandangan yang mengerikan serta aroma darah yang menyerang indera penciuman mereka seakan telah menanti kedatangan mereka. Begitu tajam dan menyengat, tidak sedikit warga yang kini wajahnya menjadi pucat serta beberapa dari mereka kemudian muntah karena tidak kuat menghirup udara malam itu yang bercampur dengan bau amis darah.
Warga yang masih mampu bertahan mencoba memasuki kediaman itu lebih dalam, kini tidak hanya bau amis darah namun mereka melihat mayat-mayat tergeletak tak bernyawa. Para warga kemudian memeriksa salah satu mayat dan saat menyadari mereka telah dibunuh.
Beberapa dari mayat itu dapat mereka kenali dan tentu saja itu adalah pelayan di dalam kediaman ayah Sinta ini. Ketua kampung yang mendengar laporan itu memerintahkan agar mencari keberadaan ayah dan ibunya Sinta.
__ADS_1
Para warga kemudian berpencar agar pencarian lebih luas dan tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka menemukan keberadaan pemilik dari kediaman tersebut.
“Paman... Paman... Gawat! Paman Rama disana dia....”, seorang pemuda berlari untuk melaporkan apa yang telah ia lihat. Dengan wajah pucat pasi dia berlari menuju ke arah ketua kampung.
Ketua kampung yang melihatnya heran karena wajahnya yang seperti itu, ia seolah-olah sedang dikejar-kejar hantu.
“Tenang, tenang. Apa yang terjadi? Apa kau sudah menemukan dimana tuan Rama berada?”, ketua kampung bertanya kepada pemuda yang berlari ke arahnya.
Pemuda itu mengatur nafasnya terlebih dahulu dan setelahnya ia menceritakan telah menemukan keberadaan ayah serta ibunya Sinta. Pemuda itu berkata bahwa pemilik kediaman ini sedang terbaring tak jauh dari kamar mereka.
Para warga hendak mendekatinya namun saat akan mendekat tiba-tiba ada dua orang berpakaian serba hitam datang ke arah mereka. Tanpa basa basi orang-orang itu kemudian menyerang para warga, warga yang diserang tidak tinggal diam dan balas mengangkat senjata mereka.
“Paman... Ayo kita membantu warga yang lain”, pinta pemuda tadi kepada ketua kampung.
Para penyerang kini sedang melawan beberapa warga yang mereka temui, walaupun hanya berdua tapi mereka adalah seorang pendekar dan tidak terlalu menyusahkan melawan warga ini. Namun saat seluruh warga yang dipimpin ketua kampung datang mereka akhirnya memutuskan lari dari tempat itu, kalau tidak nyawa mereka juga akan terancam.
Kedua orang itu lantas berlari seraya menghindari setiap serangan dari para warga. Dengan gerakan gesit mereka dapat menghindarinya dan kini sudah berada di tempat setan merah terbaring ti tanah. Dengan isyarat tangan salah satu dari orang itu menggendong tubuh setan merah di punggungnya dan mereka akhirnya pergi meninggalkan kediaman ayah Sinta di kegelapan malam.
Melihat para penyerang melarikan diri ketua kampung meminta sebagian warga untuk mengejar penyerang itu dan sebagian lagi memeriksa keadaan ayah serta ibunya Sinta. Mereka mendekat untuk memastikan keadaan orang tua Sinta, dan kemudian menyadari bahwa salah satu dari keluarga itu telah wafat.
Ketua kampung memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas pelan, “Tolong urus mayat yang lain, siapkan pemakaman yang layak pagi esok. Dan beberapa dari kalian tolong bawa dan rawat tuan Rama beserta anaknya sampai mereka sadar”, perintah ketua kampung yang segera dilaksanakan oleh warganya.
Para warga tidak menyangka bahwa telah terjadi hal buruk yang menimpa keluarga ini. Keluarga yang mereka hormati dan disegani, keluarga yang tidak akan pernah berkata tidak jika seseorang butuh pertolongan. Perasaan sedih muncul di benak setiap warga yang menyaksikan kejadian malam itu.
Mereka sangat menyayangkan kejadian ini, dan pastinya mereka merasa kasihan kepada Sinta yang masih kecil namun telah kehilangan ibu tercintanya.
__ADS_1
***
Bik Sekar kembali terdiam mendengar cerita dari Sinta, dia tidak menyangka bahwa kisah masa kecil Sinta begitu pedih dan teramat pahit. Bik Sekar kemudian menoleh ke arah Sinta yang kini juga ikut diam dengan tatapan kosong ke depan. Keduanya kini telah sampai di pantai yang berada di sekitar kampung mereka.
Hembusan angin menemani keberadaan mereka di pantai itu, begitu segar dan menenangkan. Namun bik Sekar tahu bahwa Sinta sekarang sedang dilanda rasa sedih, itu terlihat jelas dari raut wajahnya dan matanya yang mulai berkaca-kaca. Bik Sekar kemudian memutuskan untuk berbicara agar suasana kembali cair.
“Non, disana ada tempat yang bagus untuk kita duduk. Mari kita duduk disana non”, ajak bik sekar kepada Sinta.
Sinta yang awalnya terlihat seperti bengong karena larut dalam ingatannya tersadar oleh suara bik Sekar. Di mengusap matanya yang berkaca-kaca, tidak ingin meneteskan air matanya lagi. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri harus kuat menerima dan menjalani takdir yang telah ditetapkan untuknya.
“Mari bik”, jawab Sinta sambil tersenyum hangat.
Bik sekar kemudian menggandeng tangannya dan mereka akhirnya berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh bik Sekar tadi.
Saat keduanya sampai mereka langsung duduk, bik Sekar membantu Sinta ke posisi duduk yang membuat Sinta nyaman mengingat perut Sinta yang besar.
Bahkan untuk duduk saja dia sedikit kesusahan, Sinta yang menerima bantuan itu lantas tersenyum, “Terima kasih bik, aku tidak menyangka akan sampai disini dengan kondisi ku sekarang”, Sinta berucap setelah dia duduk.
“Sama-sama non, kita beristirahat dulu sebentar disini”, balas bik Sekar dan kemudian duduk di sebelah Sinta. Meraka akhirnya menikmati pemandangan yang disuguhkan alam saat ini.
__ADS_1