Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
20. Rindu


__ADS_3

Sopo sing kuat nandhang kahanan


(Siapa yang kuat dalam situasi itu)


Sopo seng ora kroso kelangan


(Siapa yang tidak merasa kehilangan)


Ditinggal pas sayang sayange


(Ditinggal pas lagi sayang sayangnya)


Pas lagi jeru jerune


(Ketika sudah dalam-dalamnya)


Koe milih dalan liyane


(Kamu memilih jalan lain)


Sopo sing kuat ditinggal lungo


(Siapa yang kuat ditinggal pergi)


Sopo sing atine ora loro


(Siapa yang hatinya tidak luka)


Kenangan sing wis tak lakoni

__ADS_1


(Kenangan yang saya buat)


Tak simpen ning njero ati


(Ku simpan di dalam hati)


Dewe wes ra dadi siji


(Kita sudah tak lagi bersama)


Lantunan lagu dinyanyikan oleh Sinta untuk menemani malam yang sunyi tanpa kehadiran suaminya. Sudah tiga hari berlalu setelah kepergian suaminya medan perang dan setiap malam pula dia selalu menyanyikan lagu ini untuk mengurangi rasa rindunya walaupun tidak banyak.


“Non, sudah hampir tengah malam. Sebaiknya non istirahat dan tidur”, ucap bik Sekar saat menghampiri Sinta yang tengah duduk di teras rumahnya yang beralaskan bambu.


Sinta menoleh ke samping mendapati bik Sekar tengah tersenyum ke arahnya, “Bik, aku belum terlalu mengantuk. Mungkin sebentar lagi, bisakah bibik temani aku bercerita sebentar”, pinta Sinta balik.


"Cerita apa yang ingin non ceritakan kepada bibik?", bik sekar bertanya kembali kepada Sinta.


“Baiklah non", bik sekar kemudian duduk di sebelah Sinta. Keduanya kini duduk sambil memandangi bintang-bintang yang bertebaran di gelapnya langit.


Bik Sekar ini adalah seorang wanita yang sudah berumur dan dikenal warga kampung sebagai seorang tabib dan untuk urusan membantu proses kelahiran dia bisa dibilang sudah paham dengan hal itu.


Saat hendak pergi ke medan perang, Aryo menitipkan sebuah pesan kepada salah satu warga agar menyampaikan pesannya kepada bik Sekar. Aryo meminta bik Sekar untuk menjaga Sinta sampai proses melahirkannya selesai sambil menunggu dia pulang dari medan perang.


Bik Sekar tentu saja menyanggupi permintaan tersebut karena itulah pekerjaan yang ia lakoni hingga saat ini. Tidak hanya itu alasan bik Sekar menerima permintaan tersebut karena bik Sekar memang selalu senang dengan anak bayi seolah-olah itu adalah anaknya sendiri.


Ini dikarenakan bik Sekar tidak bisa mengandung disebabkan suatu penyakit yang membuatnya menjadi mandul. Dia pernah berlarut dalam kesedihan namun suatu hari jalan pikirannya kembali cerah dan memutuskan belajar tentang membantu proses persalinan dan sampai sekarang masih melakoninya.


*

__ADS_1


Malam seolah mendukung hati yang sedang merindu dengan bulan bersinar terang tanpa ditemani gemerlapan bintang. Aryo duduk di salah satu menara penjaga di bentengnya, menyendiri ditemani gelapnya malam sambil merenungkan permasalahan yang barusan terjadi pada pasukannya.


Entah ada gerangan apa hati dan pikirannya sekarang terfokus pada seorang wanita yang begitu ia rindukan. Sosok wanita yang mempunyai paras cantik dan memiliki senyuman yang sangat ia dambakan setiap saat. Pikirannya mulai melayang memikirkan tentang keadaan istrinya yang ia tinggal saat ini. Dia saat ini merindukan kebersamaan saat ke duanya menghabiskan waktu bersama, dalam hatinya yang terdalam ia ingin di malam yang sunyi ini sosok istrinya menemaninya dalam kegundahan hati yang ia alami sekarang.


Tak ingin larut dalam masalah yang menerpanya, Aryo lantas memejamkan matanya dan mulai berkhayal bahwa istrinya sekarang ada di sampingnya. Hatinya terasa tenang saat mengingat wajah ayu istri tercintanya yang selalu tersenyum saat bertatap muka dengannya. Kenangan demi kenangan mulai melintas dalam pikirannya dan membuatnya tersenyum terus menerus.


Tinggal menghitung hari buah hati yang selama ini mereka nantikan akan segera hadir dalam hidup mereka. Aryo sudah tak sabar untuk pulang demi melihat bayi yang telah mereka tunggu selama ini.


"Cakra Biantara", Aryo tersenyum ketika menyebutkan nama yang telah ia siapkan untuk anaknya nanti, “Nama yang bagus bukan ayah? Aku yakin dia akan punya nama besar ketika sudah dewasa”, ucap Aryo sambil memandang langit yang diterangi cahaya bulan.


Aryo seolah-olah sedang berbicara kepada mendiang ayahnya, entah sebuah firasat atau apa Aryo yakin anaknya kelak pasti seorang lelaki dan akan membuat perubahan yang besar ke depannya.


“Dinda, apakah saat ini engkau merasakan hal yang sama seperti kanda?”, batin Aryo berbicara.


Aryo terus termenung memikirkan keadaan istrinya, perasaan rindu dan khawatir bercampur aduk di hatinya. Dia ingin segera pulang untuk menemani istrinya namun ada hal lain yang menuntutnya untuk sementara harus berada jauh dari istrinya tersebut.


Angin malam berhembus pelan dan seketika rasa lelah mulai mendatangi Aryo. Dia menguap dan mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar karena mengantuk. Aryo memutuskan untuk beristirahat dan mulai tidur untuk menghadapi hari esok.


Dengan satu gerakan ia melompat dari menara dan mendarat tepat di halaman markas pemberontak, setelahnya ia kemudian berjalan untuk masuk ke dalam kamarnya agar bisa beristirahat.


"Cakra Biantara, nama yang cukup bagus dan memiliki arti yang sangat besar", Dewi Banyu berkomentar.


"Sayangnya nama besar itu akan terkenal jauh setelah kematian anak muda ini", Dewa Bledheg juga ikut memberi suara.


"Andaikan ia tahu bahwa putranya akan mengemban tugas yang besar apakah ia akan bangga nantinya?", Dewi Banyu kembali berkomentar.


"Ia pasti akan bangga tentunya, walau pada akhirnya ia tidak akan pernah melihat wajah dari putranya", ki Ratno mulai buka suara setelah mendengar percakapan dari kedua rekannya.


Ketiga dewa dewi ini sedang mengamati markas pemberontak dari balik awan tanpa sepengetahuan dari Aryo. Ki Ratno meminta agar Dewi Banyu dan Dewa Bledheg menemaninya untuk mengamati perang besar yang akan terjadi sebentar lagi.

__ADS_1


Takdir sudah dituliskan bahwa akan ada perang yang akan menjadi awal nama besar dari anak yang sudah ditakdirkan untuk mengembangkan sebuah tugas besar dari langit.


__ADS_2