Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
15. Permintaan Ki Ratno


__ADS_3

Aryo masih mencoba mencerna penjelasan dari Ki Ratno, dia tidak mengerti kenapa Ki Ratno meminta hal semacam itu kepadanya. Dia menatap wajah orang tua itu dan menemukan wajahnya yang mengandung harapan akan dikabulkan oleh Aryo.


Aryo menjadi canggung kembali sebab ia tidak tahu harus berbuat apa. Menurutnya Ki Ratno bersungguh-sungguh dalam perkataannya tersebut namun untuk apa dan bagaimana ia tahu bahwa anaknya akan segera lahir sebentar lagi.


“Bolehkah aku bertanya sesuatu Ki?"


"Apa itu anak muda?


"Mengapa Ki Ratno meminta hal seperti ini?", Aryo mencoba memastikan bahwa permintaan dari orang tua di depannya ini tidaklah mengandung bahaya untuk keluarganya.


“Sebenarnya kau...”


Jdaaaarrrrrr..............


Suara petir yang sangat keras menghentikan perkataan Ki Ratno dan segera disusul suara petir yang lain.


Jdaaaaaarrrrr...........


Jdaaaaarrrrrrr..........


Suara petir itu seolah saling bersautan dengan dentuman yang begitu keras, lebih keras daripada sebelumnya. Hujan pun malam itu semakin lebat dari sebelumnya seolah tidak ingin Ki Ratno menyelesaikan perkataannya.


Ki Ratno buru-buru menutup mulut dan seketika raut wajahnya terlihat begitu takut. Bahkan dia tidak menyadari kedua tamunya sekarang dalam posisi bersujud dengan tangan melindungi kepala serta telinga mereka. Aryo dan pria sepuh sangat terkejut akan hal yang terjadi barusan, wajah mereka pucat dan seluruh badannya tidak berhenti bergetar.


Butuh waktu untuk Ki Ratno mengembalikan ketenangannya, dia melihat kedua tamunya masih dalam keadaan bersujud dan tubuh tak berhenti bergetar. Ki Ratno mengajak keduanya untuk masuk ke dalam pondok dan menyuruh mereka istirahat.


Keduanya menurut dan masuk ke dalam pondok sambil mencoba untuk tidur demi membuang rasa takutnya. Ki Ratno masih di luar pondok dan memandang langit seraya berucap.

__ADS_1


“Kalian sungguh kejam!”, ucap Ki Ratno dengan sedikit kesal ke arah langit.


Jdaaaarrrrrr..........


Petir kembali menyambar dan kini sambarannya tepat di depan Ki Ratno yang membuatnya terkejut bukan main. Dari dalam cahaya petir itu tampak seorang laki-laki dan membuatnya takut, ia segera berbalik dan segera masuk ke dalam pondoknya.


Aryo dan pria sepuh menyaksikan Ki Ratno yang setengah berlari masuk ke dalam pondok. Wajah orang tua itu begitu ketakutan dengan mata melotot tanpa berhenti.


Ki Ratno bahkan tak menyadari reaksinya barusan, melihat tamunya melihatnya dengan tatapan kebingungan membuatnya terhadap dari ketakutannya barusan.


"Aahhhh... Cuaca di luar sepertinya tidak bersahabat. Lebih baik kita di dalam sini saja dan beristirahat", ucap Ki Ratno kepada tamunya.


Aryo dan pria sepuh menjawab dengan anggukan kepala serempak, Ki Ratno tersenyum ke arah keduanya dan mulai berjalan menuju tempat tidurnya.


Malam itu mereka bertiga mencoba tidur namun sedikit kesusahan karena hujan terus turun semakin lebat dan petir terus mengeluarkan suara kerasnya.


***


Dia bangun dari tempat tidur yang beralaskan bambu dan mendapati kesegaran ditubuhnya, walau kesulitan tidur namun baginya malam tadi adalah tidur terenak yang sudah lama dia tidak rasakan.


Aryo keluar dari pondok dan mendapati Ki Ratno dan pria sepuh sedang memandikan kuda yang tidak asing baginya. Dia mendekat dan mendapati bahwa kuda itu adalah milik pria sepuh yang sebelumnya terjatuh di lereng bukit dan hanyut dibawa banjir.


Melihat kedatangan Aryo, Ki Ratno buru-buru menghampirinya sambil melambaikan tangan, “Ahhh... Anak muda akhirnya engkau bangun. Tolong gantikan pria tua ini sebentar, tulang-tulang pria tua ini tidak terlalu handal dalam kerja yang cukup berat ini”, pinta Ki Ratno setelah jarak keduanya sudah dekat.


“Baik Ki”, jawab Aryo singkat dan segera menyusul pria sepuh yang sedang memandikan kudanya.


"Kuda itu sangat cantik, apa aku bisa memilikinya", gumam Ki Ratno sambil berjalan melewati Aryo.

__ADS_1


Aryo sempat mendengar gumaman dari orang tua itu, namun ia memilih tidak menghiraukan gumaman tersebut dan segera berjalan menuju tempat pria sepuh berada.


“Tuan muda lihat dia kembali”, ucap pria sepuh saat Aryo sudah didekatnya. Wajah pria sepuh seolah menjadi begitu riang karena kudanya yang awalnya hanyut dibawa banjir kini telah kembali.


“Apa yang terjadi paman? Bukan kah dengan mata kepala kita sendiri kita menyaksikan kuda ini hanyut dalam banjir. Bagaimana dia bisa kembali dengan keadaan begitu kotor seperti sekarang?”, pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Aryo kepada pria sepuh.


“Hamba tidak tahu pasti tuan muda, saat sedang terlelap tidur hamba mendengar suara kuda yang tidak asing di telinga hamba. Hamba pikir itu hanyalah mimpi namun suara itu kembali muncul dan semakin kuat. Ketika hamba membuka mata dari balik jendela yang terbuka hamba melihat kuda ini dengan keadaan begitu kotor”, pria sepuh menjelaskan apa yang telah terjadi sambil terus menggosok kudanya.


Aryo tidak melanjutkan pertanyaan lagi dan memilih membantu pria sepuh untuk membersihkan kuda walau rasa penasaran terus datang dan seolah-olah semua ini berkaitan dengan kejadian tadi malam.


***


“Tenaga anak muda memang selalu menjanjikan, jika hanya pria tua ini yang membantu mungkin akan butuh waktu lama untuk selesai”, Ki Ratno memasang senyum lebar setelah melihat kuda pria sepuh kini sudah bersih dan terlihat begitu cantik.


Aryo dan pria sepuh baru saja selesai membersihkan kuda milik pria sepuh, keduanya lantas meminta izin untuk mulai berkemas supaya bisa melanjutkan perjalanan mereka.


Ki Ratno mempersilahkan keduanya untuk berkemas sementara ia menjaga kedua kuda milik tamunya tersebut. Tidak butuh waktu lama akhirnya semua perlengkapan sudah siap.


Aryo dan pria sepuh kemudian berpamitan dan sekaligus mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan Ki Ratno kepada mereka.


“Tidak perlu sungkan, aku senang membantu kalian. Dari sini kita akan berpisah dan tidak akan pernah berjumpa lagi”, Ki Ratno menjawab dengan senyuman lebar masih seperti tadi.


“Terima kasih banyak Ki. Bantuan Ki Ratno akan selalu ku kenang seumur hidupku. Dan jika ada waktu aku akan membalas jasa Ki Ratno nanti”, Aryo memberi hormat kepada Ki Ratno.


“Ahhh... Itu tidak perlu, cukup kabulkan saja permintaan kecil ku tadi malam. Apakah engkau menerimanya?”, senyum Ki Ratno memutar dan berganti dengan wajah sedikit serius.


Aryo diam ketika pertanyaan itu dibahas kembali oleh Ki Ratno, dia hampir lupa akan permintaan itu. Ia berfikir keras untuk menjawab pertanyaan tersebut, menurutnya mungkin itu adalah hal baik yang akan didapatkan anaknya kelak.

__ADS_1


Dia kemudian memejamkan mata sambil menghembuskan nafas pelan sebelum berkata, "Baik Ki, aku menerima permintaan kecil tersebut", jawab Aryo dengan sopan.


Ki Ratno tampak begitu riang mendengar jawaban tersebut, senyum yang hilang tadi kini timbul kembali seperti mentari yang baru saja timbul di ufuk timur.


__ADS_2