Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
5. Serangan


__ADS_3

Para prajurit yang menjaga pintu gerbang istana tidak menduga di malam yang paling meriah itu akan menjadi petaka bagi mereka. Pasalnya dari awal acara pernikahan itu dimulai sampai sekarang tidak ada tanda-tandayangmencurigakan.


Ketika acara sedang sibuk-sibuknya dari jauh tampak kereta kuda sedang mengarah ke gerbang istana. Prajurit yang berjaga lantas memberhentikan keretai kuda itu dan memeriksa identitas dari penumpangnya.


"Berhenti!", perintah Patih yang ditugaskan memimpin penjagaan di pintu gerbang istana.


Kereta kuda pun berhenti tidak jauh dari posisi Patih itu berdiri, setelah berhenti ia lalu memerintahkan prajuritnya untuk memeriksa penumpang dari kereta kuda tersebut.


"Maaf tuan, tolong tunjukkan surat undangan untuk masuk ke dalam istana", salah prajurit mulai buka suara.


"Surat undangan? Aku bahkan tidak punya, apakah aku tidak bisa masuk seperti biasanya?", salah satu dari penumpang itu menjawab pertanyaan dari prajurit tersebut.


"Maaf tuan, jika tidak ada surat itu maka...", belum sempat prajurit itu menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba saja ada suara wanita yang memotong pembicaraan.


"Bahkan pangeran mahkota Jaka Jayastu?", wanita itu berbicara dengan nada agak sedikit kesal.


Prajurit yang mendengar hal itu lantas terkejut dan langsung menoleh ke Patih yang menjadi pimpinannya, ternyata reaksi prajurit itu sama dengan Patih yang bersama mereka. Nama yang disebutkan tidak lah asing bagi mereka, nama itu tak lain adalah anak dari mantan raja Aryi Wajendra.


"Kalian berjaga dulu disini, aku akan memberitahukan informasi ini kepada paduka raja!", perintah Patih itu kepada pasukannya.


Para prajuritnya menganggukkan kepala tanda mengerti, dengan demikian Patih tersebut dapat pergi dengan tenang menuju singgasana raja Aryo.

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang lama akhirnya Patih itu kembali ke pintu gerbang istana, "Perintah sudah diberikan paduka raja, biarkan kereta kuda itu lewat!", mendengar perintah itu prajurit langsung membuka gerbang dan kereta kuda pun akhirnya mulai masuk ke dalam istana.


Setelah diberikan izin masuk, pangeran Jaka tersenyum sinis terhadap para penjaga gerbang yang membuat mereka merasakan ada hal yang aneh. Namun mereka membuang semua keraguan itu dan memilih kembali berjaga sesuai tugas masing-masing.


***


Saat kereta kuda itu masuk ke dalam istana saat itu pulalah sekelompok orang berbau serba hitam sedang mengintai tidak jauh dari posisi pasukan yang berjaga. Karena gelapnya malam aksi mereka belum disadari oleh pasukan kerajaan Adipura yang berjaga di pintu gerbang.


“Pangeran Jaka, senior Yuda dan senior Liva sudah masuk ke istana. Kita tinggal menunggu tanda dari senior Yuda untuk beraksi, aku ingin kalian bisa menjalankan tugas masing-masing dan berhasil!”, perintah seorang pendekar yang ditugaskan menjadi kepala penyerangan di pintu gerbang istana.


“Baik senior!!!”, jawab serentak 12 orang dibelakangnya, "Kami tidak akan mengecewakan anda!!!".


12 orang ini adalah pendekar yang berada dikekuatan pendekar serigala tingkat 4, sedangkan pemimpinnya berada ditingkat puncak pendekar serigala. Setelah cukup lama diamati penjagaan pintu gerbang hanya dijaga prajurit yang kekuatannya berada di tingkat 2 dan 3. Biarpun lawannya bisa mereka atasi namun misi mereka adalah membuka gerbang secara diam-diam dari dalam.


Teknik penyusupan yang mereka gunakan sangat bagus dan dalam waktu singkat mereka sudah berhasil masuk ke area benteng untuk melanjutkan misi mereka. Dalam gelapnya malam mereka melumpuhkan penjaga yang mereka temui satu demi satu. Hanya dalam kurun waktu singkat penjagaan yang sebelumnya ramai sedikit demi sedikit berkurang.


Mereka pikir aksi mereka akan berjalan dengan mulus, namun sayangnya mereka salah besar. Saat mereka hendak mengarah ke pintu gerbang saat itu juga sebuah panah melesat dengan cepat dan mengenai salah satu pendekar tersebut tepat di kaki kanannya.


Panah itu berhasil memberikan luka yang cukup parah, pendekar itu tersungkur ke tanah dengan luka yang telah diterimanya.


“Ternyata kemampuan 13 pembunuh malam memang seperti yang diceritakan” kata-kata tersebut diucapkan oleh seseorang yang membawa panah serta pisau kecil di pinggangnya untuk pertarungan jarak pendek.

__ADS_1


“Tidak ku sangka akan bertemu Patih Marda disini. Walaupun kau lebih kuat dari kami, kami tidak akan takut sedikitpun untuk meladenimu!” jawab pimpinan pendekar dari padepokan pembunuh malam.


“Oh benarkah? Bukan kah hanya tertinggal 12? Aku rasa dia tidak akan bisa membantu kalian, bahkan membantu dirinya sendiri dia takkan bisa”, Patih Marda tertawa mengejek.


Patih Marda adalah kerabat dari Patih Yarna dan memiliki kekuatan setara namun keduanya memiliki cara pertarungan masing-masing. Patih Yarna lebih baik dalam ilmu pedang, sedangkan Patih Yarna dalam ilmu memanah.


“Jangan takut, kita serang dia bersama! Lawan dia dijarak dekat dia pasti akan kesulitan”, perintah pimpinan pendekar pembunuh malam itu.


“Jangan terlalu berharap, kalian salah memilih lawan malam ini”, Patih Marda kembali berucap dan bersiap memanah para penyusup di depannya.


Para penyusup yang awalnya merasa yakin bisa mengimbangi Patih Marda dan bisa memberikan luka kepadanya akhirnya dibuat tak terlalu bebas dikarenakan selain panahnya berhasil mendarat di bagian tubuh beberapa rekannya, Patih Marda juga ternyata juga sedikit bisa bertarung dijarak dekat dengan pisaunya serta ilmu meringankan tubuh miliknya cukup tinggi untuk menghindar dari serangan lawannya.


“Mundur!!!” pekik pendekar senior pembunuh malam. Dia tidak menyangka lawannya juga ahli dalam pertarungan jarak pendek. Sebenarnya mereka bisa mengimbanginya namun tidak terlalu lama dan baru sadar kekuatan Patih Marda diluar dugaan mereka.


Melihat keterkejutan lawannya Patih Marda segera mengumpulkan tenaga dalam dan berteriak dengan sekuat tenaganya.


“Penyusup!!! Bunyikan lonceng tanda serangan!!!” teriakan Patih Yarna yang dialiri tenaga dalam berhasil membuat penjaga yang masih ada di sekitar bereaksi cepat dan segera memukul lonceng sebanyak 3 kali berturut-turut.


Suara lonceng menggema malam itu dan segera pasukan yang berada di dekat gerbang menuju kearah teriakan dari Patih Marda dengan senjata lengkap dan siap bertempur.


Teriakan Patih Marda bukan hanya bisa terdengar oleh penjaga istana Adipura tapi juga kepada orang dibalik penyusupan yang memimpin 5000 prajurit setara pendekar serigala tingkat 4. Pemimpin dari ribuan penyerang tersebut menggelengkan kepala karena tidak menyangka rencana yang sudah disiapkan gagal dan diketahui oleh penjaga istana Adipura.

__ADS_1


“Kita tidak bisa menunda lagi, kerahkan semua prajurit! Kerajaan Adipura harus jatuh hari ini!” perintah seorang pria paruh baya bernama menteri Balda pada prajuritnya.


“Seraaaaanggggggg!!!!!” teriak bawahan menteri Balda membuat gemuruh perang terdengar dan langsung mengarah ke pintu gerbang kerajaan Adipura.


__ADS_2