Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
19. Gejolak Diskusi II


__ADS_3

Ruang rapat masih ricuh karena perdebatan dari pihak aliansi yang meminta rekannya untuk tetap tinggal dan bertahan dalam rencana pemberontakan. Ada yang memutuskan untuk tetap tinggal namun juga ada yang lebih mementingkan keselamatan mereka.


Aryo kini duduk sambil mengurut keningnya yang sekarang terasa begitu sakit. Pikiran dan hatinya bercampur aduk tidak karuan, dia mencoba berpikir agar mendapatkan jalan keluar. Namun semakin dipaksa untuk berpikir semakin sakit kepalanya karena itu.


“Para tamu sekalian mohon untuk tenang", pria sepuh mencoba menenangkan kembali para tamu rapat.


Omongan pria sepuh nyatanya kembali tidak terlalu digubris oleh tamu rapat tersebut, namun saat suara lantang seorang pria tinggi perkasa membuat semua orang berhenti berdebat.


“Seorang pendekar sejati tidak pernah lari dari pertarungan!”, ucap raja Pawan dengan lantang. Pandangan raja Pawan tertuju ke seluruh tamu rapat yang masih tersisa, "Hidup itu pilihan, mati itu kepastian!", tambahnya lagi.


Suara dari raja Pawan membuat seisi ruangan rapat kembali terdiam, tidak ada yang berani buka suara. Semua tamu aliansi terdiam menunduk takut melihat wajah raja Pawan yang kini sudah tersulut emosi.


“Jika kalian lari dari sini, apakah mungkin ke depannya kalian akan merasakan aman seterusnya?", raja Gandi ikut buka suara, "Perang tetap akan menghampiri kalian dalam waktu dekat ataupun lama, apa kalian akan menunggu semua itu? Apa dengan lari kalian akan terlepas dari semua masalah ini?", raja Gandi terus mengeluarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada para tamu rapat.


"Jika memang kita memang kalah nantinya lebih baik kalah karena menjunjung tinggi kehormatan kita. Kita disini berjuang untuk para keluarga kita, jika bukan kita yang melindungi mereka siapa lagi yang akan berbuat seperti yang kita inginkan? Kematian itu pasti akan menghampiri kita suatu saat, tapi apakah kalian akan menghadapi kematian itu dengan rasa penyesalan karena telah salah memilih langkah?", sambung raja Gandi lagi.


Para tamu rapat kini mematung diam tak bersuara ditempat masing-masing. Perkataan yang dilontarkan dua raja tersebut seperti sebuah tombak yang menusuk jantung mereka berulang kali. Mereka memahami maksud dari perkataannya kedua raja tersebut, terutama dari raja Gandi.


Perkataan raja Gandi tertuju kepada keluarga mereka yang sebelumnya mereka tinggal dengan alasan bahwa mereka pergi untuk tugas yang mulia, membawa sejuta harapan akan keadilan akan kembali berdiri tegak. Jika mereka pulang dan memilih tidak ikut dalam perang ini maka akan membuat keluarga mereka akan bersedih dan nantinya akan terkena imbas dari perang nantinya.


"Lebih baik berdiri tegap menghadap kematian daripada lari dari kematian yang sudah pasti akan menghampiri kita. Walau harus kehilangan nyawa sekalipun, aku raja Gandi Darsana bersumpah akan memimpin di depan untuk melawan setiap angkara murka di muka bumi ini!", raja Gandi mengucapkan sumpah di dalam ruangan rapat.

__ADS_1


Sumpah yang diucapkan oleh raja Gandi membuat seisi ruangan menatap ke arah raja Gandi dengan wajah penuh semangat.


“Aku lebih memilih pertarungan dan mempertaruhkan nyawaku”, ucap seorang pendekar yang menjadi tamu dalam rapat itu.


“Jika memang takdir berkehendak lain setidaknya kita tetap berjuang bersama-sama”, sambung pendekar yang lainnya.


"Kami juga akan membantu"


"Mari sama-sama kita berjuang untuk hidup yang lebih baik"


Kini ruang rapat kembali ribut karena para tamu kembali mendapatkan semangat mereka dan membulatkan tekad untuk tetap bertahan melawan pasukan musuh yang akan datang. Raja Gandi tersenyum puas karena kata-katanya barusan telah membangkitkan kembali kepercayaan diri pasukan pemberontak saat ini.


***


“Paman, berapa pasukan kita yang tersisa saat ini?”, tanya Aryo kepada pria sepuh.


Pria sepuh menyerahkan sebuah catatan yang berada di dalam baju yang ia kenakan, "Dengan semua bantuan yang saat ini berhasil kita kumpulkan kembali, di markas setidaknya ada 7000 orang tuan muda, baik itu dari prajurit maupun para pendekar yang masih bertahan. Mereka terdiri dari pasukan berkuda berjumlah 1500 orang, pasukan pemanah dengan jumlah 2000 orang, dan sisanya qdalah pasukan prajurit bersenjatakan pedang dan tombak”, pria sepuh menerangkan semua yang ia ketahui kepada Aryo.


“Ini masih kurang dalam menghadapi jumlah pasukan lawan kita. Kerajaan Benggawan tidak akan tinggal diam, kami akan mengirim setengah pasukan kerajaan berjumlah 2500 orang lengkap dengan peralatan tempur”, raja Pawan menerangkan usulannya.


“Kerajaan Gundala juga akan mengirim prajurit sejumlah 1500 orang terbaik kami. Kerajaan kami terkenal dengan keahlian berkuda jadi akan bisa membantu dalam pasukan berkuda tuan muda Aryo”, tambah raja Gandi.

__ADS_1


Kedua raja tersebut telah memutuskan akan mengirim bala bantuan yang akan berguna dalam menghadapi pasukan lawan mereka. Dengan ini pulalah akhirnya permasalahan yang sebelumnya ada sedikit demi sedikit bisa diatasi.


Sinar harapan kini mulai muncul bersamaan dengan keadaan yang sedikit membaik karena sebuah solusi yang telah ditemukan. Melihat antusias semua orang yang terlibat dalam rencana pemberontakan membuat Aryo menjadi gembira dan mulai bersemangat lagi untuk memimpin pemberontakan.


“Bagaimana dengan ratu Arum paman? Apakah dia benar-benar tidak akan membantu kita kali ini?”, tanya Aryo kembali.


“Utusan kita sampai sekarang belum kembali tuan muda, sebaiknya kita tunggu saja. Kita harus lebih fokus dalam masalah yang akan kita hadapi sekarang, mengingat dari informasi yang kami ketahui pasukan musuh sudah dalam perjalanan kesini”, tutur pria sepuh.


“Baiklah paman, untuk sekarang mari kita lanjutkan dengan rencana kita berikutnya”, jawab Aryo dan langsung memimpin jalannya rapat antara keempatnya.


Kini mereka berempat mulai mengatur rencana dalam peperangan yang akan terjadi ke depan. Mereka terus berpikir bagaimana menggunakan kemampuan dan keahlian terbaik yang bisa mereka lakukan demi mendapatkan hasil yang memuaskan. Tidak hanya itu mereka juga mencoba memikirkan bagaimana jalan keluar dari situasi di luar dugaan mereka saat terjadinya peperangan.


“Kapan pasukan raja Pawan dan raja Gandi akan tiba?”, Aryo bertanya setelah diskusi selesai.


“Setidaknya besok mereka akan tiba disini”, raja Gandi menjawab sambil memejamkan mata seolah sedang berpikir.


“Untuk pasukan ku sepertinya butuh waktu dua hari untuk sampai kesini, mengingat bahwa pasukan kami berjumlah cukup banyak membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk mencapai kesini”, raja Pawan ikut menjawab setelahnya.


“Waktu yang diperlukan masih cukup, dari informasi yang kami dapatkan, pasukan lawan akan tiba dalam waktu tiga hari lagi”, pria sepuh menerangkan.


"Baiklah jika memang begitu rapat ini kita tutup, dan setelahnya kita akan bertemu di hari yang telah ditetapkan", Aryo menutup rapat diantara keempatnya.

__ADS_1


__ADS_2