
Saat Aryo masih termenung dengan kebingungannya dia dikejutkan oleh teriakan orang asing tersebut. Orang itu mengoceh seakan sedang marah ke arah mereka namun bahasa yang dia keluarkan tidak sedikit pun Aryo mengerti. Aryo menoleh ke arah pria sepuh dan menyadari ekspresi pria sepuh juga sama dengannya.
“Paman sebaiknya masalah ini kita tunda dulu sampai kita menemukan titik terang dari semua ini. Karena aku yakin orang asing ini pasti bekerja untuk lawan kita!”, Aryo buka suara setelah orang asing itu berhenti mengoceh.
“Baik tuan muda. Kalian cepat sumpal mulut orang ini dan tutup kepalanya menggunakan kain hitam kembali!” jawab pria sepuh sekaligus memerintahkan prajurit penjg untuk mengamankan orang asing yang saat ini mereka sandera.
Tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan itu, Aryo dan pria sepuh lantas beranjak keluar dari ruangan tersebut meninggalkan beberapa prajuritpenjaga yang sedang melaksanakanperintah dari pria sepuh barusan. Namun tidak lama kemudian ada seorang prajurit yang datang dari arah pintu gerbang dan melaporkan bahwa dari arah luar gerbang terlihat banyak sekali prajurit bersenjata lengkap dengan menunggangi kuda sedang menuju ke arah markas mereka.
Suara gemuruh hentakan langkah kuda terdengar dari kejauhan, samar-samar suara itu semakin keras dan mulai diikuti oleh ribuan sosok yang perlahan menampakkan jati diri mereka. Sebuah pemandangan yang cukup menakjubkan dimana beberapa dari penunggang itu datang mendekat ke markas pemberontak dengan cepat seolah sudah terbiasa dengan kondisi di lapangan.
Mereka menunggangi kuda dan berbaris rapi dengan senjata tombak ditangan kiri sedangkan tangan kanan memegang tali kekang kuda masing-masing. Pasukan pemberontak terpana melihat hal itu, mereka baru kali ini melihat pasukan berkuda yang begitu gagah dan terlihat sangat memukau.
Aryo dan pria sepuh menaiki benteng di gerbang depan, saat keduanya tiba pasukan berkuda itu sudah berhenti dan kini jarak mereka hanya beberapa puluh meter dari benteng. Dari jarak itu Aryo dapat melihat seorang pria gagah maju perlahan ke arah gerbang dengan kudanya dengan tombak putih di tangan kanannya, berbeda dengan tombak yang dipakai oleh pasukan berkuda di belakangnya.
Dengan perlahan orng itu maju dan ketik sudah merasa dekat dengan benteng dia berhenti dan segera melihat ke arah Aryo.
“Salam, kami pasukan kuda besi dari kerajaan Gundala utusan raja Gandi. Aku Patih Purno pimpinan dari pasukan ini siap melayani tuan muda Aryo”, pria gagah itu memperkenalkan diri dengan suara lantangnya.
Kini Aryo dan pria sepuh memahami siapa orang yang sedang mereka temui dan setelah tahu bahwa mereka teman akhirnya atas perintah Aryo gerbang dibuka dan meminta agar pasukan berkuda dari kerajaan Gundala masuk ke dalam markas pemberontak.
Aryo dan pria sepuh lantas segera turun dan berniat menghampiri Patih Purno. Saat keduanya sampai mereka saling memberikan salam sesama pendekar dan Aryo mulai menuntun jalan menuju ruangan yang khusus untuk melayani tamu.
“Silahkan duduk Patih”, ucap Aryo setelah sampai di ruangan tersebut.
__ADS_1
“Terima kasih tuan muda”, Patih Purno menjawab dengan singkat da segera duduk di kursi yang telah disiapkan.
“Bagaimana perjalanan Patih sampai kesini? Apakah semuanya baik-baik saja?”, Aryo bertanya.
“Perjalanan kesini cukup melelahkan namun kami berhasil sampai lebih awal dari waktu yang kami rencanakan di awal”, Patih Purno menjawab sambil menceritakan tentang perjalanan mereka untuk sampai ke markas pemberontak.
Aryo dan pria sepuh sekarang menyadari bahwa Patih Purno merupakan seorang yang sangat senang berbincang, bahkan ia tidak segan tertawa lepas sambil menepuk pundak Aryo yang seharusnya adalah orang yang ia layani sekarang.
Aryo tersenyum dan hanya bisa membalasnya dengan ikut tertawa, ternyata dibalik sikap Patih Purno barusan ia juga memiliki sifat yang jenaka. Disaat ruangan yang awalnya hanya diam kini dipenuhi oleh tawa karena lelucon yang diceritakan oleh Patih Purno membuat perut mereka sakit karena tertawa tanpa berhenti.
Ketiganya terus berbincang mulai dari mengenalkan jati diri sampai membahas masalah perang yang akan mereka hadapi sebentar lagi. Patih Purno mendengarkan dengan serius dan sekaligus menyampaikan pendapatnya mengenai beberapa unsur untuk dijadikan strategi dalam perang. Ini sangat diperlukan karena dalam setiap pasukan harus memiliki keserasian agar rencana yang telah tersusun akan terus terhubung.
Aryo dan pria sepuh sempat terkejut dengan perubahan ikan dari Patih Purno yang awalnya tertawa riang kini mendadak menjadi serius dalam sekejap ketika membahas masalah perang. Aryo dibuat menggelengkan kepala karena mendapati seorang rekan seperjuangan yang memiliki dua karakter sekaligus.
Ini memang benar adanya, Patih Purno adalah kepala pasukan berkuda dari kerajaan Gundala yang terkenal gagah berani dan tidak takut terhadap lawan. Ini didasari oleh mentalnya yang memang diasah sedari kecil sebagai seorang prajurit dan pendekar sejati yang tidak akan lari dari pertarungan apapun.
Dan hal yang lebih mengagumkan adalah Patih Purno sendiri merupakan orang kepercayaan raja Gandi dalam hal strategi dalam perang. Berkatnya kerajaan Gundala berhasil mempertahankan posisi mereka dari berbagai ancaman kerajaan-kerajaan kecil maupun besar bahkan mereka pernah berhadapan dengan kerajaan Kendala yang terkenal sebagai kerajaan penuh nafsu berperang dan berakhir dengan imbang.
*
“Bantuan Patih sangat bermakna bagi kami, terima kasih atas informasi yang telah Patih berikan”, Aryo memberikan hormat kepada Patih Purno.
“Sudah kewajiban saya tuan muda atas amanat raja kami”, Patih Purno menjawab dengan singkat sambil membalas hormat kepada Aryo.
__ADS_1
“Tuan muda sudah saatnya istirahat, diskusi bisa kita lanjutkan lagi. Mungkin Patih Purno butuh istirahat”, ajak pria sepuh tidak ketinggalan.
Aryo menganggukkan kepala tanda mengerti dan segera mengajak Patih Purno menuju ruangan yang telah disediakan untuknya. Ketiganya mulai keluar dan menuju ruangan yang akan digunakan untuk beristirahat. Sambil berjalan Patih Purno mengamati keadaan di markas pemberontak, dan setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di ruangan itu.
“Silahkan masuk untuk beristirahat Patih” ucap pria sepuh kepada Patih Purno.
“Terima kasih atas keramahannya”, balas Patih Purno singkat.
“Jika ada hal yang diperlukan tidak perlu sungkan untuk menghubungi kami Patih, Patih bisa menghubungi kami lewat prajurit yang berjaga di sini”, ucap Aryo menambahkan.
“Terima kasih tuan muda”, balas Patih Purno kembali.
Patih Purno memberikan hormat dan setelahnya melangkah menuju kamar untuk beristirahat. Ketika Patih Purno sudah masuk Aryo dan pria sepuh berbalik badan dan meninggalkan ruangan tersebut. Mereka tidak mengetahui bahwa saat berjalan menuju ke ruangan itu pandangan Patih Purno terfokus pada satu ruangan yang dijaga begitu ketat oleh para prajurit.
Patih Purno tidak langsung istirahat begitu masuk di kamarnya, ruangan yang dijaga ketat oleh para prajurit itu begitu membekas dan menimbulkan tanda tanya yang besar di pikirannya. Dia berniat untuk menanyakannya kepada Aryo namun dia lebih memilih untuk diam dulu dan menanyakannya ketika waktu sudah tepat.
“Aku begitu kagum dengan pengetahuan Patih Purno paman”, Aryo berkomentar dengan wajah begitu riang.
Wajar saja wajahnya saat ini begitu girang, karena sebelumnya saat Aryo dan pria sepuh merencanakan strategi dalam perang ada kendala yang membuat mereka sulit dalam mencari jalan keluarnya. Namun ketika Patih Purno memberikan pendapatnya masalah itu benar-benar dapat diselesaikan dengan mudah.
“Benar tuan muda, Patih Purno benar-benar orang yang cerdas. Dengan kedatangan beliau pasukan kita bisa bertambah kuat baik dalam mental maupun wawasan”, jawab pria sepuh sambil memandangi langit.
“Aku juga berharap seperti itu paman”, balas Aryo dan melakukan hal yang sama dengan pria sepuh.
__ADS_1