
Pedang ayah Sinta dan lawannya saling beradu membuat percikan api dari setiap gesekan yang terjadi. Ayah Sinta masih dalam posisi bertahan menghadapi lawannya tersebut. Sedangkan lawannya terus melancarkan serangan tanpa henti seolah tidak pernah kehabisan stamina.
Namun ayah Sinta yakin dibalik serangan mereka pasti akan membuat tubuh mereka akan menjadi berat karena kelelahan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai itu semua terjadi pikirnya.
“Dia mampu menahan kita guru”
“Beban di pundak ku sudah mulai ku rasakan”
“Ini tidak akan menjadi baik ayah”
“Berhenti mengoceh! Jangan berhenti menyerangnya! Terus serang dia!”, setan merah menjadi berang kepada bawahannya termasuk anaknya yang mengeluh karena sampai sekarang belum bisa membuat lawannya terpojok.
Tidak dapat dipungkiri kepercayaan diri dari setan merah yang awalnya begitu besar sekarang mulai menurun. Kekuatan yang ditunjukkan oleh lawannya saat ini tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Bagaimana ia bisa menahan serangan yang ku lancarkan dengan mudah, dan walau telah mengeroyoknya ia masih sanggup bertahan", batin setan terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
Ini wajar karena ayah Sinta sudah lama berada ditingkat pendekar harimau putih dengan pengalaman bertarung yang cukup banyak. Sedangkan setan merah kala itu baru beberapa bulan mencapai tingkat itu. Membuatnya belum terlalu beradaptasi dengan kekuatan barunya, lain halnya dengan ayah Sinta yang sudah lama berada ditingkat pendekar harimau putih.
Dengan pengalamannya sebagai pendekar pengelana membuatnya lebih cepat belajar dalam mengendalikan kekuatan ditingkat pendekar harimau putih bahkan mengembangkan kekuatannya.
“Jurus taring macan kumbang!”
__ADS_1
Ayah Sinta mengeluarkan salah satu jurus yang telah lama dikuasainya. Gerakan ayah Sinta sontak menjadi lebih cepat dari sebelumnya, posisi awalnya yang bertahan kemudian berubah cepat menjadi menyerang. Dia kemudian melancarkan serangan yang berpusat kepada area vital lawannya.
Setan merah dan bawahannya kesulitan menghadapi serangan itu, dengan cepat ayah Sinta bisa membuat jarak diantara mereka. Setan merah menyuruh bawahannya untuk mundur dan menjaga jarak, namun ayah Sinta tidak membiarkannya begitu saja.
“Jurus taring harimau putih!”
Ayah Sinta mengeluarkan jurus pamungkasnya, jurus ini pulalah yang akhirnya membuat ayahnya lebih dikenal dengan sebutan 'Taring Putih'. Setiap ayunan pedangnya tetap cepat seperti jurus sebelumnya namun setiap ayunan pedangnya mengandung tenaga yang begitu besar.
Setiap beradu dengan pedang lawannya percikan api yang timbul semakin besar bahkan tak jarang timbul api dari gesekan tersebut membuat pedang lawannya perlahan menjadi retak.
Setan merah mencoba mengimbangi kekuatan lawannya, namun hal itu nyatanya sia-sia. Setelah jurus pamungkas dari lawannya telah keluar lantas membuatnya menjadi kewalahan. Nasib buruk menghampiri ketiga bawahannya, mereka seolah-olah sedang menghadapi binatang buas yang siap menerkam mereka.
Setiap ayunan pedang ayah Sinta yang bertemu ayunan pedang mereka membuat pergelangan tangan mereka sakit karena efek dari jurus pamungkas ayah Sinta. Pedang mereka seperti membentur batu dan tentu saja itu membuat tangan mereka terus-terusan sakit.
Pedang setan merah berada ditingkat pusaka pendekar satu tingkat dari pusaka pengelana. Dan pedang ayah Sinta termasuk dalam pusaka pahlawan sehingga membuatnya menjadi lebih unggul dalam pertarungan ini.
Setan merah baru menyadari bahwa lawannya memiliki pedang dengan kualitas diatas dirinya. Dia ingin memaki karena terlambat menyadarinya, ingin menarik diri namun sudah terlambat.
Tidak butuh waktu lama retakan dari pedang bawahan setan merah akhirnya membuat pedang itu menjadi patah berkeping-keping. Ayah Sinta tidak melewatkan kesempatan itu, dengan satu serangan tebasan melebar dia menyerang ke arah ketiga bawahan setan merah membuat luka yang menganga lebar di badan ketiga bawahannya tersebut.
“TIIIDAKKKK!!!!”, setan merah berteriak histeris melihat hal itu, dia buru-buru berlari untuk menangkap tubuh anaknya sebelum jatuh ke tanah.
__ADS_1
“Uuurrgghhhh.... Maarrgg... Ma... Maarrgghhhh Aaa... Yahhh....”, anak setan merah mencoba berbicara setelah tubuhnya ditangkap oleh setan merah.
Anaknya ingin meminta maaf namun suaranya tidak dapat keluar jelas karena darah mulai memenuhi tenggorakannya. Sedangkan luka lebar di badannya terus mengeluarkan darah segar yang terus mengucuri badannya.
“Tidak! Tidak! Tidak! Jangan mati nak, ayah disini. Bertahanlah!”, ucap setan merah penuh harap dan tangisannya tidak dapat terbendung malam itu.
Sekujur tubuh anaknya bergetar hebat membuat setan merah terus histeris dengan kondisi anaknya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, anak setan merah mengangkat tangannya ingin mengusap air mata yang mengalir di pipi ayahnya.
Setan merah menggenggam tangan anaknya yang kini terasa begitu dingin, namun hal berikutnya membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aarrgghhh... Aayaahhh.. Aarrggkkuu... Takut”, suara anak setan merah perlahan mulai lemah dan setelah ucapan itu tubuh anaknya yang sedari tadi bergetar hebat kini tidak bergerak lagi. Malam itu anak setan merah telah menemui ajalnya dan membuat setan merah begitu terpukul atas kepergiannya.
Ayah Sinta memandangi peristiwa itu, sebelumnya dia tidak mengetahui bahwa salah satu dari tiga bawahan setan merah terdapat anak dari setan merah sendiri. Walaupun mereka adalah lawannya, namun peristiwa di depannya membuat dia sedikit merasa bersalah karena telah memisahkan seorang anak dari ayahnya. Namun itu harus dilakukannya karena mereka telah mengancam nyawa dari keluarganya malam ini.
Ayah Sinta menyarungkan pedangnya dan kemudian berjalan perlahan mendekat ke tempat setan merah berada. Setan merah kini sedang memeluk tubuh anaknya dan terus menangis. Setan merah tidak menyadari bahwa lawan yang telah membunuh anaknya berjalan menuju ke arahnya, dia terus menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan hal apapun.
Tidak butuh waktu lama kini ayah Sinta mulai sudah tidak jauh dari setan merah berada. Ayah Sinta menghembuskan nafas pelan sebelum mulai berbicara kepada setan merah.
“Maaf, aku tidak mengetahui bahwa dia adalah anakmu”, ucap ayah Sinta kepada setan merah.
Setan merah yang sedari tadi menangis perlahan mulai menghentikan tangisnya, dengan air mata yang membasahi pipinya dia menoleh ke arah ayah Sinta, “Maaf?! Kau sudah merenggut darah dagingku! Tidak akan pernah ada kata maaf untuk orang seperti kau!”, setan merah berucap lantang dan seperti mengutuk ke arah ayah Sinta.
__ADS_1
Ayah Sinta menggelengkan kepala pelan, “Seharusnya sebagai pendekar kau harus tahu bahwa kehidupan ini sangat keras. Kehidupan seorang pendekar tidak akan jauh dari pertarungan yang mempertaruhkan nyawa. Kehilangan salah satu keluarga adalah konsekuensi karena lemahnya kekuatan dalam dirimu”, ayah Sinta menasehati setan merah agar tersadar dari perbuatannya.