Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
36. Masa Lalu Sinta IV


__ADS_3

Mendengar hal itu bukannya membuat setan merah tersadar namun membuatnya tertawa lantang yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan bergidik ngeri. Setan merah kemudian melotot ke arah ayah Sinta, “Berarti kau sudah siap kehilangan keluargamu?!”, tanya setan merah sambil menyeringai, “Siap atau tidak siap akan ku pastikan malam ini salah satu keluargamu akan menemani anak ku menemui dewa disana!”.


“Orang seperti dirimu tidak elok jika dibiarkan hidup terlalu lama di muka bumi ini. Majulah! Aku akan menghadapimu!", ayah Sinta kembali mengeluarkan pedang dari sarungnya bersiap menghadapi setan merah kembali.


Setan merah berlutut di samping anaknya, dia memandangi jasad anaknya yang kini telah terbujur kaku. Tanpa sepengetahuan ayah Sinta, setan merah sedang merapalkan sebuah ajian dalam posisi berlutut tersebut.


Setelah selesai merapalkan ajian itu setan merah kemudian menggorok leher anaknya hingga putus dan kini terpisah dari badannya, “Maafkan ayah...” begitulah ucapan setan merah setelah menggorok leher anaknya.


“Apa yang kau lakukan?!”, ayah Sinta berteriak melihat perbuatan yang dilakukan oleh setan merah.


Bagaimana mungkin seorang ayah begitu tega menggorok leher anaknya tanpa berkedip sedikitpun. Begitu sadis dan menyayat hati, “ Apa yang ingin kau lakukan dengan kepala anak mu! Dimana letak hati nurani mu?!”, ayah Sinta berteriak kembali ke arah lawannya.


 Setan merah berdiri menghadap ayah Sinta dengan satu tangannya memegang kepala anaknya yang telah mati. Dia menyeringai ke arah ayah Sinta membuat ayah Sinta menaikkan kewaspadaannya. Melihat gelagat dari lawannya setan merah lantas tertawa mengejek kepada ayah Sinta.


“Akan ku buat kau menyesal telah membuat anak ku mati!”, setan merah berkata lantang. Dengan gerak cepat dia mengangkat kepala anaknya ke atas dan meminum darah yang jatuh dari tenggorokan anaknya itu.


Ayah Sinta melotot menyaksikan kejadian di depan matanya, dia tidak habis pikir dengan apa yang diperbuat lawannya saat ini.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan bajingan!!!", teriak ayah Sinta.


Teriakan dari lawannya tidak dihiraukan oleh setan merah, dia terus meminum tiap-tiap tetes darah yang tersisa dari kepala anaknya. Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan bahkan untuk ayah Sinta yang sudah lama dalam dunia persilatan.


“Apa yang ingin dia lakukan?!”, ayah Sinta bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan oleh lawannya sekarang akan berakibat buruk jika dibiarkan.


Ia kemudian memutuskan untuk menyerang lebih dulu tanpa memperdulikan lawannya sedang siap atau tidak, baginya waktu yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Namun baru saja ia hendak bergerak sebuah teriakan yang amat keras mengisi udara


“Arrrrghhhhhhhgghgghhg.......”, setan merah tiba-tiba berteriak keras diiringi angin yang berhembus kuat di sekitarnya. Tubuhnya bergetar hebat seolah-olah merasakan kesakitan yang luar biasa.


Dia terus berteriak sejadi-jadinya selama beberapa saat. Ayah Sinta yang sudah akan bergerak kini harus terdiam tidak bergerak sedikitpun. Dia dapat menyaksikan angin yang berhembus di sekitar setan merah begitu kuat dan seolah-olah melindunginya.


Tidak hanya itu aura pembunuh kemudian keluar dari tubuh setan merah, pancaran aura pembunuh itu berwarna merah kehitaman dan begitu pekat. Ayah Sinta sempat kesulitan bernafas sesaat karena aura itu, namun dia dapat mengendalikan diri setelah mengeluarkan aura jiwa dan aura pedangnya.


“MATI!! MATI!!! MATI!!!!”, setan merah berteriak sekuat tenaganya setelah perubahan bentuk badannya selesai. Suaranya kini tidak seperti suara aslinya seolah-olah ia sedang dirasuki oleh sesuatu.


Pusaran angin yang mengelilingi setan merah sudah menghilang dan memperlihatkan wujudnya yang telah berubah. Ayah Sinta terkejut melihat perubahan itu, tampangnya sekarang begitu menyeramkan layaknya seperti iblis.

__ADS_1


Melihat perubahan wujud dari setan merah barusan membuat ayah Sinta sempat ragu untuk melanjutkan pertarungan. Dia yakin bahwa jika dilanjutkan akan berakibat tidak baik, namun jika dibiarkan saja nyawa keluarganya tentu yang akan dipertaruhkan.


Tidak ingin membuang waktu ayah sintas lantas bergerak maju untuk menyerang lawannya. Sedangkan lawannya hanya berdiam di tempat seolah tidak memperdulikan serangannya.


Saat dirasa jarak dengan lawannya sudah dekat, ayah Sinta lantas melakukan gerakan menebas dari arah samping. Tebasan itu bergerak dengan cepat ke arah leher setan merah namun serangannya dihentikan dengan cakar yang dimiliki setan merah. Ayah Sinta kembali terkejut dengan kekuatan lawannya, setan merah sekarang begitu berbeda dari sebelumnya.


“Malam ini kau akan MATI!!!”, setan merah menyerang dengan tangan lainnya. Karena cakar setan merah yang mampu menghentikan serangannya, ayah Sinta berkesimpulan harus menghindari serangan itu.


Dengan cepat ayah Sinta melompat ke belakang untuk menjaga jarak. Dia hendak memikirkan langkah untuk mengatasi situasi ini. Nyatanya dia tidak dapat berbuat banyak, setelah berhasil menjaga jarak setan merah lantas maju menyerangnya.


Gerakan setan merah begitu cepat sehingga tidak akan dapat diikuti oleh mata orang biasa. Ayah Sinta yang sudah berpengalaman dalam begitu banyak pertarungan pun sempat kesulitan membaca gerakan dari lawannya saat ini. Kekuatan setan merah seolah-olah naik menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.


Dia menyerang dengan membabi-buta tanpa meninggalkan jeda sedetikpun. Serangannya tidak teratur namun begitu cepat dan kuat, ayah Sinta sempat kewalahan karena tidak menyangka akan kekuatan yang ditunjukkan lawannya sekarang.


Setan merah terus menyerang sedangkan ayah Sinta kini dalam posisi bertahan. Goresan luka berukuran kecil kini mulai menghiasi tubuhnya ayah Sinta. Staminanya sudah separuh terkuras saat menghadapi setan merah dan bawahannya, dia kini hanya bisa menggunakan separuh dari kekuatan penuhnya.


Dengan luka yang terus menghiasi lukanya serta serangan tanpa jeda dari lawannya membuatnya ayah Sinta tidak dapat berbuat banyak. Dia mencoba bertahan sebaik mungkin, berharap bisa mempelajari pola serangan lawannya. Walau tampaknya susah ia membulatkan tekadnya agar tetap bertahan dan mencari jalan keluarnya.

__ADS_1


Senyum istrinya serta wartawan riang anak perempuannya melintas sesaat dipikirannya, hal itu pulalah yang menjadikan ia bersemangat kembali. Ia tidak ingin keluarganya menjadi korban dari setan merah malam ini. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya kalah dalam pertarungan ini dan keluarganya pasti akan dibunuh dengan sangat kejam oleh setan merah nantinya. Ayah Sinta memantapkan hatinya, dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya bahkan akan mengorbankan dirinya jika memang diperlukan.


“Jurus taring harimau putih!”, ayah Sinta kembali menggunakan jurus pamungkasnya untuk menekan serangan dari lawannya. Nyatanya jurus pamungkas yang ia miliki tidak dapat berbuat banyak. Namun berkat jurus itu dia mampu melancarkan serangan balasan kepada lawannya walau tidak banyak.


__ADS_2