
Waktu terus berlalu dan akhirnya sampai dimana saat pembagian harta warisan kepada anak-anaknya. Karena tidak memiliki seorang anak laki-laki, lantas membuat ayahnya diminta untuk menerima harta warisan bagian ibunya sebesar 60%.
Awalnya ayah serta ibu Sinta menolak dengan halus atas permintaan itu mengingat perjanjian saat mereka meminta izin untuk menikah saat masih muda. Namun orang tua ibunya bersikeras agar keduanya menerima warisan itu.
Karena terus diminta secara terus menerus akhirnya ayah dan ibunya Sinta tidak punya pilihan selain menerima warisan itu. Namun adik perempuan ibunya tidak bisa menerima keputusan itu. Dia marah dan menganggap orang tuanya tidak bersikap adil karena dirinya hanya menerima 40% dari harta warisan kedua orang tuanya.
Keadaan semakin membuatnya marah setelah ia mengetahui bagian harta warisan milik kakaknya dibagikan oleh kakaknya sendiri kepada rakyat yang membutuhkan bantuan tangan mereka. Ia mengutuk perbuatan kakaknya itu, karena larut dalam emosi ia lantasmembuat perhitungan dengan kakak perempuan satu-satunya tersebut.
Diam-diam dia merencanakan untuk membunuh keluarga kakak perempuannya bagaimanapun caranya. Segala cara telah dia rencanakan untuk mendapatkan warisan milik kakaknya. Baik itu meracuni makanan, membuat gosip yang tidak sedap, sampai menyewa orang untuk melakukan teror kepada keluarga kakaknya.
Namun setiap usaha yang ia lakukan selalu menemui kegagalan dan akhirnya ia menemukan jalan buntu. Ia mencoba memikirkan cara lain namun pikirannya benar-benar sudah tak bisa diajak bekerja sama.
Sampai suatu hari seseorang datang dan menawarkan jasa untuk membunuh keluarga kakaknya. Orang itu merupakan pendekar aliran hitam yang cukup tersohor di kerajaan Adipura yang tidak lain adalah setan merah.
Setan merah menawarkan jasanya kepada adik perempuan ibunya yang sontak disambut baik oleh adik ibunya. Dalam perbincangan sesaat sudah dipastikan setan merah akan melakukan aksinya dengan bayaran yang cukup besar. Adik perempuan ibunya berharap bahwa keluarga ibunya akan binasa dan dia akan mendapatkan warisan kedua orang tuanya sepenuhnya.
***
“Maksud non setan merah yang menyerang istana waktu itu?”
“Benar bik, dia orang yang sama dengan waktu itu”
“Apa yang terjadi waktu itu non?”
__ADS_1
“Aku kehilangan ibuku hari itu bik, dia melindungiku dengan mempertaruhkan nyawanya", Sinta tertunduk lesu, "Aku tidak menyangka bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir kali aku melihat senyum ibunda".
Sinta terdiam sesaat, wajahnya begitu lesu dan menunjukkan rasa sedih yang teramat dalam. Bik Sekar kembali harus dibuat diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya ia menghibur Sinta saat ini, namun ia ragu akan berkata seperti apa.
Ia takut nanti akan salah bicara sehingga membuat keadaan semakin sulit nantinya, belum selesai ia memikirkan caranya Sinta lantas menoleh ke arah bik Sekar.
"Tidak perlu menghibur ku bik, itu semua sudah takdir dari Dewa. Mari kita lanjutkan perjalanan kembali", ajak Sinta.
Bik Sekar hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti irama langkah kaki dari Sinta. Tidak lama berselang Sinta kemudian melanjutkan ceritanya.
***
Malam hari yang sunyi dan gelap adalah waktu yang tepat bagi setan merah untuk memulai aksinya. Di kediaman keluarga Sinta yang tidak terlalu ramai membuat aksi itu menjadi mudah dilakukan. Setan merah tidak sendiri melainkan bersama dengan tiga orang pemuda dan diketahui salah satunya adalah darah dagingnya sendiri.
Awalnya mereka pikir aksi mereka malam ini akan berjalan seperti rencana yang telah disusun. Namun itu tidak berlaku bagi ayahnya Sinta. Sebagai seorang pendekar tingkat tinggi dia sudah mengasah kemampuannya baik itu fisik, mental dan pancainderanya.
Aroma amis darah dari para korban setan merah serta rekannya tercium oleh hidung ayahnya, begitu kuat dan terasa sesak sekali. Ayahnya lantas bangun dari tempat tidur dan langsung membangunkan istrinya.
“Dinda, cepat berkemas! Kita harus segera pergi dari sini!”
“Kenapa kanda? Apa yang membuat kita harus pergi selarut ini?”
“Perasaan kanda tidak enak, mungkin ada orang yang berniat jahat terhadap kita lagi”
__ADS_1
“Maksud kanda?”
“Kanda mencium bau amis darah, mungkin di luar ada pembunuh yang akan bergerak menuju kesini. Cepat bawa Sinta sebelum...”
Perkataan ayah Sinta tidak dapat selesai karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Dan di depan kamarnya kini berdiri empat orang memakai pakaian serba hitam dengan pedang berlumuran darah. Pemandangan yang membuat siapa saja akan menggigil ketakutan melihatnya.
Ayah Sinta sontak berdiri dan meraih pedangnya bersiap menghadapi pembunuh di kediamannya saat ini. Setan merah memerintahkan agar ketiga orang yang dibawanya menyerang ayah Sinta. Serangan ketiganya begitu kompak dan gesit, dalam sekejap ketiganya dan ayah Sinta sudah bertukar puluhan serangan.
Melihat lawannya mampu mengimbangi ketiga bawahannya membuat setan merah bersemangat. Sudah lama dia tidak menemukan lawan dari aliran putih yang mempunyai kemampuan cukup tinggi pikirnya.
“Julukan taring putih bukan sekedar bualan, ternyata kau memang hebat seperti omongan orang-orang”, setan merah memuji lawannya sambil bertepuk tangan. Dia kemudian melangkah maju ke dalam kamar dan berdiri tidak jauh di depan ayah Sinta.
“Kami tidak pernah memiliki masalah dengan kalian, kenapa kalian ingin mencelakai kami?”
“Aku tidak memiliki masalah dengan kalian sedikitpun, tapi seseorang membayar kami dengan bayaran yang sangat tinggi untuk kepala kalian”, setan merah tertawa setelah ucapannya barusan. Dengan cepat dia kemudian mengeluarkan aura pembunuh berniat menekan lawannya. Namun itu hanya bisa dirasakan oleh ibunya Sinta dan tidak berpengaruh terhadap ayah Sinta.
Dengan aura jiwa dan aura pedang yang dimilikinya, ayah Sinta menekan aura pembunuh dari setan merah. Ibu Sinta yang awalnya kesulitan bernafas karena aura pembunuh perlahan mulai bisa mengendalikan diri setelah aura milik suaminya menekan aura pembunuh itu.
Dengan isyarat tangan suaminya meminta agar dia menggendong Sinta dan berlindung di belakangnya.Ibu Sinta melakukan apa yang diminta oleh suaminya, setelah menggendong Sinta dia kemudian berdiri tidak jauh dari belakang suaminya. Melihat hal itu setan merah kembali tertawa dan mulai berbicara lagi.
“Tidak perlu takut, kami akan memberi kematian yang begitu cepat. Kalian tidak akan merasakan sakit sedikitpun”
“Sejengkal saja kau melangkah aku akan membunuh kalian!”
__ADS_1
“Itu hanya bisa kau lakukan jika mampu menghadapi kami. Serang dia!”, setan merah memerintahkan ketiga bawahannya untuk kembali menyerang dan dia juga ikut dalam formasi serangan itu. Ayah Sinta menghadapi keempat lawannya dengan seluruh kemampuannya.