Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
55. Ketenangan Sesaat


__ADS_3

“Ampun raja, kami harus mundur sebab....”, belum sempat Patih itu menyelesaikan kata-katanya raja Jaka lantas memotong dan berbicara dengan nada marah, “Bagaimana mungkin kalian dikalahkan oleh pasukan sekecil itu!!! Apa yang kalian lakukan di sana!? DASAR BAJINGAN PENGECUT!!!”.


Amarah raja Jaka terus menggebu-gebu karena menyaksikan kekalahan prajuritnya hari ini. Dia memandang tajam ke arah Patih itu, sementara Patih yang melapor berkeringat dingin karena sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kepadanya. Bukan tidak mungkin hari ini ia akan kehilangan nyawanya sebagai ganti dari kekalahan yang telah mereka terima


“Tidak ada kata ampun!!! Hukum gantung pengecut ini!!!”, tidak ingin lama-lama lagi raja Jaka menyuruh pasukan pengawalnya untuk menangkap dan menghukum mati Patih itu.


Mulut Patih itu sontak terbuka lebar, ia hendak mengungkapkan sesuatu namun tenaganya sudah habis untuk menahan agar tubuhnya tidak bergetar saat ini.


“Tunggu dulu murid Jaka! Jangan terlalu gegabah mengambil tindakan, hari ini pasukan kita kalah karena kurangnya pengetahuan tentang kekuatan pasukan lawan. Orang tua yang memegang tombak saat pertemuan tadi adalah seorang jenius perang yang sulit dihadapi. Aku yakin penyebab mereka mundur karena menghadapi orang itu”, menteri Balda menghentikan gerakan prajurit yang ingin menangkap Patih yang datang melapor dengan kata-katanya barusan.


Wanita muda tertawa setelah mendengar penjelasan dari menteri Balda, tawanya sungguh membuat telinga dari menteri Balda menjadi panas.


Menurut menteri Balda saat ini wanita muda sedang menertawakannya, “Apa yang lucu sehingga kau tertawa?”, menteri Balda menatap tajam ke arah wanita muda.


Wanita muda kemudian juga membalas tatapan tajam dari menteri Balda, “Aku hanya heran, apakah benar orang itu adalah ahli perang paling jenius yang pernah ada? Apa harus setakut itu dengan dia?”, wanita muda tersenyum penuh makna ke arah menteri Balda, “Jika dibandingkan dengan menteri sendiri, siapa yang lebih baik? Orang itu atau menteri?”, senyuman wanita muda terus melebar menunggu jawaban dari menteri Balda.


Menteri Balda terdiam karena perkataan wanita muda barusan, dia mengepalkan tangan erat seraya berseru lantang, “Tentu saja aku yang lebih baik dari orang itu!”, perkataan itu spontan keluar dari mulutnya.


Wanita muda kembali tertawa, “Jika benar yang dikatakan oleh menteri, kami akan menunggu pembuktiannya”, senyumnya masih terarah ke menteri Balda.

__ADS_1


Menteri Balda melotot karena perkataan wanita muda barusan, ia kini memahami maksud dari perkataan lawan bicaranya. Ia memang dipancing agar masuk dalam muslihat wanita muda, menurutnya lawan bicaranya saat ini sedang menyuruhnya secara halus agar turun tangan langsung dalam menghadapi lawan mereka.


Menteri Balda menjadi jengkel setelahnya, dia kemudian keluar dari tenda sembari membawa Patih yang akan di hukum mati keluar dari tenda. Dengan wewenangnya menteri Balda dengan mudah membawa Patih itu, tidak ada yang berani menghentikannya bahkan raja Jaka sekalipun.


“Biarkan saja, bisa jadi kita masih membutuhkan orang itu”, wanita tersenyum sambil menyenderkan kepalanya di bahu raja Jaka.


Raja Jaka yang mendapat perlakuan tersebut kemudian menjadi tenang, amarahnya yang sudah memuncak tadi kini perlahan mulai surut. Akhirnya raja Jaka duduk berdua dengan wanita muda di tendanya, sedangkan prajurit yang berjaga di dalam disuruh keluar meninggalkan hanya mereka berdua saja.


***


Suasana di markas pemberontak beterbalikan dengan perkemahan pasukan kerajaan Adipura dan aliansinya. Kini seluruh pasukan berdiri mengelilingi sebuah bangunan kayu kering yang telah disusun rapi untuk upacara pemakaman.


Mayat-mayat itu disusun serapi mungkin agar semuanya muat dalam tumpukan kayu yang telah tersedia. Terdapat ratusan mayat yang diletakkan disitu dengan kondisi masih bagus. Sementara kondisi mayat yang tidak bagus lantas dibiarkan saja, melihatnya saja akan membuat mereka mual.


Aryo melangkah ke depan dengan obor di tangan kanannya, “Hidup seseorang memiliki jalannya masing-masing, tapi aku percaya saat ini jalan kita adalah satu. Satu tujuan itu kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik untuk generasi setelah kita. Hari ini banyak sosok pahlawan yang pergi mendahului kita, tapi semangat dan nama mereka akan selalu terkenang sampai kapanpun. Mari kita berdoa agar rekan-rekan kita yang telah gugur dituntun dewa ke tempat yang lebih baik”, Aryo menutup pidatonya dan setelah itu obor yang ia pegang ia letakkan di tumpukkan kayu kering tadi.


Si jago merah mulai menampakkan dirinya, dengan cepat dia melahap tumpukan kayu kering itu dan mayat-mayat yang tersusun rapi di atasnya. Cahaya yang dihasilkan oleh api menerangi seisis halaman markas pemberontak, suasana bergabung terasa jelas di dalamnya.


Pasukan pemberontak memandangi upacara pemakaman itu dengan penuh khidmat, walaupun masih ada rasa sedih karena kehilangan rekan sesama mereka namun akhirnya mereka harus rela akan semua yang telah terjadi.

__ADS_1


“Paman, apa ini akan berakhir sesuai dengan keinginan kita?”, Aryo bertanya kepada pria sepuh.


Dia melontarkan pertanyaan itu dengan wajah yang diselimuti kesedihan yang teramat dalam. Matanya terus melihat ke arah depan tanpa menoleh ke arah teman bicaranya.


Pria sepuh mengehela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Aryo, “Takdir kita sudah ditentukan oleh dewa tuan muda, siap atau tidaknya itu adalah urusan kita nantinya. Sudah sewajarnya kita sedih karena kehilangan saudara-saudara kita, tapi jangan menyalahkan diri sendiri karena hal itu. Tidak hanya tuan muda, kita disini adalah satu. Kami juga merasakan apa yang tuan muda rasakan, jadi menurut paman sebaiknya tuan muda lebih baik tegarkan diri untuk menghadapi apa yang akan muncul ke depannya”, pria sepuh menjelaskan panjang lebar jawabannya.


Jawaban dari pria sepuh membuat suasana hati Aryo menjadi tenang, dia tersenyum ke arah depan dan kemudian memandangi langit, “Jika takdir sudah ditentukan apa boleh buat”, ucapnya pelan.


Keduanya terus berdiri memandangi kobaran api yang terus menyala di depan mata mereka, sementara Patih Purno dan Subani hanya sebentar berdiri dan kini beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka masing-masing.


Aryo dan pria sepuh baru beranjak dari tempat mereka berdiri setelah dirasa sudah hampir tengah malam dan saat mereka hendak beranjak pergi kobaran api itu perlahan mulai meredup, mungkin sebentar lagi akan menjadi bara api nanti.


Malam ini mereka ingin beristirahat sebisa mungkin, sebab esok mereka akan menghadapi pertempuran yang akan menguras tenaga mereka kembali. Dengan istirahat yang cukup tentunya akan menambah stamina yang telah terkuras sebelumnya.


______________________________________________


Terima kasih telah mengikuti cerita Takdir Kerajaan Adipura sampai sekarang, semoga anda selalu suka dengan alur cerita ini.


Salam hangat dari author :)

__ADS_1


__ADS_2