Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
52. Perang Dimulai X


__ADS_3

Melihat serangan ke tiga berhasil dengan sukses membuat Patih Purno berseru kepada pasukannya, “Beri mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan untuk selamanya!”, dengan komando berupa gerakan tangan Patih Purno memerintahkan pasukan kuda besi maju menerjang ke posisi musuh.


Musuh yang selamat dan mengalami luka ringan lantas berdiri berniat menghadapi pasukan berkuda pimpinan Patih Purno, dengan kaki dan tangan yang gemetaran mereka mencoba bangkit dan ingin membalaskan kematian rekannya yang sangat mengenaskan.


Namun saat tengah bersiap, dari jauh mereka samar-samar melihat ribuan anak panah lagi melayang di udara dan menuju ke arah mereka kembali. Pasukan yang tadinya bersiap menghadapi pasukan kuda besi lagi-lagi harus bersiap menahan ribuan anak panah tersebut.


Pimpinan mereka yang awalnya tidak tahu harus berbuat apa kini mengerti harus bertindak seperti apa, “Angkat tameng ke atas dan rapatkan barisan kalian, jangan pernah turunkan tameng itu!”, perintahnya kepada pasukan yang ia pimpin.


Patih Purno yang melihat hal itu tersenyum dalam perjalanannya, “Ternyata mereka juga cepat belajar”, batinnya berbicara.


Pasukan lawan mengangkat tameng mereka ke atas setinggi mungkin dengan barisan yang rapat. Tidak lama kemudian ribuan anak panah itu terjun mengarah ke mereka, kali ini juga banyak korban yang harus terbunuh namun tidak sebanyak sebelumnya.


Saat seorang prajurit terluka atau terbunuh maka prajurit yang lain menggantikan posisinya agar tameng mereka terus berhubungan satu sama lain.


Pasukan lawan terlalu fokus bertahan dari serangan ribuan anak panah yang melesat ke arah mereka. Baru saja mereka bernafas lega namun sesaat kemudian mereka baru menyadari bahwa bahaya lain sedang menuju ke arah mereka dengan sangat cepat.


Pasukan kuda besi pimpinan Patih Purno hanya berjarak sepuluh langkah dari pasukan lawan, dengan jarak sedekat itu membuat lawannya tidak siap dalam menghadapi serangan dari pasukannya.


Pasukan kuda besi pimpinan Patih Purno dengan mudah berhasil menerjang pasukan bala bantuan musuh. Pasukan musuh yang baru saja menahan serangan ribuan anak panah tidak bisa berbuat banyak, kini formasi mereka langsung berantakan dan terpecah entah kemana karena terjangan pasukan kuda besi pimpinan Patih Purno.


Patih Purno dan pasukannya tidak melewatkan kesempatan yang telah ia rencanakan dengan sangat matang, pasukan musuh yang berada di depan mereka kini menjadi sasaran empuk dari tombak-tombak mereka. Dengan mudah serta cepat mereka menghabisi setiap prajurit musuh yang berada di jarak jangkauan serangan mereka.

__ADS_1


***


Hal berbeda disaksikan oleh prajurit lawan yang belum menyeberangi tanah yang menjadi lautan mayat kuda, mereka beruntung tidak mendapat satupun serangan dari hujan anak panah pasukan pemberontak.


Tapi di depan mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan rekan-rekannya yang sedang berjalan melewati lautan mayat kuda itu bernasib sangat buruk. Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, si jago merah terus mamunjukkan aksinya melahap tubuh-tubuh tak bernyawa di depan mata mereka.


Dan yang paling mengerikan adalah ketika mereka melihat salah satu rekannya keluar dari kobaran api itu dengan sekujur badan melepuh dan kulit terkelupas tak beraturan. Dia mengalami luka bakar yang sangat parah, dia berusaha keluar dari kobaran api dan ternyata berhasil.


Dia merangkak dengan sisa-sisa tenanganya, hendak meminta pertolongan namun bukannya sebuah pertolongan yang ia dapatkan melainkan tatapan mengiba karena kondisi tubuhnya.


Rekan-rekannya memandangi prajurit yang selamat itu dengan perasaan iba bercampur ngeri, ada lebih dari sepuluh anak panah yang menancap di tubuh prajurit itu dan yang paling mengerikan adalah luka bakar di wajahnya.


Tanpa prajurit itu sadari kini kulit wajahnya sudah hilang sebagian dan menampakkan tulang tengkorak kepalanya membuat rekan-rekannya bergidik ngeri ketika melihat dirinya.


Perhatian prajurit lain kini terarah pada pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Siapa yang tidak tahu pasukan berkuda ini, banyak yang sudah mengenal nama besar dari pendekar banteng hitam dalam memimpin pasukan berkudanya.


Banyak padepokan atau pasukan yang sedikit saja berselisih paham dengan mereka akan menerima malapetaka kemudian hari. Dan orang-orang lebih mengenal pasukan berkuda ini dengan sebutan pasukan kuda darah.


Namun ternyata hari ini pasukan itu kini menjadi korban dari keganasan pasukan kuda besi pimpinan Patih Purno. Rekan-rekannya mencoba berlari menjauh namun itu semua sia-sia, Patih Purno memerintahkan agar semua pasukannya harus menghabisi sisa-sisa pasukan yang telah menyeberangi lautan mayat kuda.


“Mereka semua dibantai!”

__ADS_1


“Aku tidak akan pergi kesana!”


“Hei!!! Pimpinan kita ada di depan, cepat menyeberang kita bantu rekan-rekan kita!”


“Aku masih menyayangi nyawaku, kau lihat apa yang terjadi disana?!, Kobaran api ini terlalu panas untuk dilewati dan lihat mereka semua sudah tamat! Jika kita maju, nasib kita  berikutnya tidak akan jauh dengan mereka!”, seorang Patih dari pasukan bala bantuan mengeluarkan pendapatnya saat para patih-patih yang lain saling bertengkar dengan situasi saat ini.


Mendengar penjelasan itu Patih yang lain lantas terdiam, perkataan rekannya barusan memang benar adanya. Jika mereka maju belum tentu pasukan di depan berhasil terselamatkan, bisa saja saat mereka sampai di sana rekan-rekannya sudah meregang nyawa terlebih dahulu.


Dan alasan terbesarnya adalah kobaran api di depan mereka yang terus melahap lautan mayat-mayat dan kuda yang menghalangi pergerakan mereka yang seakan menikmati tubuh tak bernyawa tersebut. Jika mereka nekat menyeberangi lautan mayat itu maka mereka sama saja mengantarkan nyawa pastinya.


“Mundur!!! Cepat mundur!!!”, teriakan mundur menggema di udara yang ditujukan ke pasukan bala bantuan.


Patih mereka memerintahkan agar mereka harus mundur segera, jika tidak mereka yang akan menjadi sasaran berikutnya dari keganasan pasukan berkuda lawan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hari ini mereka harus menerima bahwa mereka dikalahkan oleh pasukan lawan.


Ribuan pasukan bala bantuan yang mundur sontak membuat pasukan pemberontak bersorak-sorai kegirangan. Mereka tidak menyangka bahwa hari ini mereka meraih kemenangan mengingat jumlah musuh empat kali lipat dari jumlah mereka.


Sorak-sorai kemenangan menggema, para pasukan pemberontak mengangungkan nama Aryo dan Patih Purno sebagai pimpinan mereka yang telah mengantarkan mereka meraih kemenangan hari ini. Rasa senang tidak dapat mereka bendung, bahkan dari mereka sampai meneteskan air mata dan saling merangkul sesama mereka.


"Cepat angkat kaki dari tempat ini!!!"


“Yeeaaahhhhhh!!!!!!”

__ADS_1


“Jangan berhenti berlari pengecut!!!!”


“Jumlah saja tidak akan cukup untuk menang melawan kami!!!”


__ADS_2