Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
66. Balas Dendam


__ADS_3

Alasan Aryo mampu untuk menahan setiap serangan lawannya ini karena selama masa pelarian ia bertemu dengan banyak orang-orang dari luar. Lewat orang-orang ini pula Aryo menjalin kerja sama untuk mengembangkan ilmu silat serta kemampuan bertarungnya.


Banyak petarung-petarung jalanan yang pernah ia hadapi bahkan salah satunya dikenal sebagai pendekar macan merah yang terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Cerita pertarungan diantara keduanya memang tak terlalu tersohor namun beberapa orang yang menyaksikan pertarungan mereka akan bergidik ngeri.


Pertarungan itu memakan waktu dua hari satu malam dengan Aryo keluar sebagai pemenangnya. Namun semua itu harus dibayar mahal dengan tubuh penuh luka yang cukup parah yang berhasil lawannya torehkan kepadanya.


Sementara pendekar macan merah kehilangan nyawa setelah menerima luka tusukan sebanyak 13 kali di sekujur tubuhnya karena keris Bagaskara. Ia sempat bertahan selama dua hari namun luka yang ia terima tidak bisa membuatnya mempertahankan nyawa.


Lewat pertarungan ini lah nama Aryo mulai dikenal di kalangan pendekar pengelana, mereka akhirnya mulai menjalin interaksi dan memudahkan Aryo dalam menghimpun pasukan untuk memberontak.


Hari-hari Aryo lalui dengan berbagai perihal tentang menghimpun pasukan namun ia juga tidak melupakan latihan agar dirinya menjadi kuat. Lewat para pasukan yang ia himpun ia berhasil menaikkan tingkat kekuatannya mendekati pendekar harimau putih berkat latihan bersama sesama mereka, tentu saja itu butuh proses yang sangat sulit.


***


Suasana perang semakin ricuh tak terkendali, para prajurit di kedua belah pihak menunjukkan kemampuan terbaik mereka satu sama lain. Tidak ada yang ingin mengalah, tekad mereka sudah bulat untuk memenangkan pertempuran malam ini bahkan mereka sudah siap kehilangan nyawa jika memang sudah saatnya.


Darah segar mengalir bak seperti sungai dari mayat-mayat prajurit yang telah gugur. Bau amis darah menyeruak mengisi udara dengan begitu pekat, bahkan pertempuran siang tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan pertempuran malam ini.

__ADS_1


Dengan suasana yang begitu gelap ditambah pekikan kesakitan serta lolongan anj*ng hutan menambah kengerian di medan pertempuran tersebut.


Tombak Patih Purno kini dari mata tombaknya sampai gagangnya sudah berlumuran darah, bukan darah miliknya namun setiap musuh yang berhasil ia habisi. Pakaian yang ia kenakan juga tak luput dari simbahan dari lawan-lawannya, ia dengan bebas bergerak leluasa menerjang masuk lebih dalam ke area musuhnya.


Sementara Subani juga tidak kalah hebat dalam menghabisi musuhnya, dengan golok tajam yang ia punya musuhnya tidak punya kesempatan banyak untuk menghindar. Tidak hanya menggunakan goloknya ia juga tetap mengandalkan silat tangan kosongnya membuat lawan-lawannya terus kesulitan untuk menghadangnya.


Mayat-mayat prajurit musuh mengelilingi posisi keduanya, tidak ada musuhnya yang berhasil selamat saat keduanya melancarkan serangan-serangan mematikan yang mereka miliki. Hanya butuh sekali tebasan agar musuhnya dibuat terkapar di tanah tak bernyawa.


Jarak keduanya terpaut cukup jauh sebab melihat Aryo yang menerjang musuh terlebih dahulu membuat mereka tidak ingin kalah dari anak muda. Semangat mereka terus bergelora dengan tekad kuat untuk menang malam ini.


Tombak Patih Purno baru saja menghabisi tiga lawannya sekaligus dengan satu serangan mematikan, setelah menghabisi ketiga lawannya itu tiba-tiba saja instingnya mengatakan bahwa ada bahaya yang mendekat dari arah belakangnya.


Ia kemudian melompat mundur secara zig-zag sehingga anak panah itu tidak satupun mengenai dirinya. Saat sudah selesai menghindar instingnya mengatakan bahwa bahaya tidak berhenti disitu saja, ia merasakan ada hawa dingin mendekat ke lehernya dengan cepat.


Sebuah pedang hampir menebas lehernya dari belakang jika saja ia sedikit terlambat menyadarinya, karena instingnya mengatakan ada bahaya mendekat ia buru-buru menundukkan kepalanya sambil mengeluarkan sebuah tendangan tepat ke arah hawa dingin itu datang.


Buugghh...

__ADS_1


Tendangannya ternyata mengenai seseorang yang mencoba menebas lehernya tadi, orang itu kemudian jatuh terkapar namun sesaat kemudian ia berdiri dengan mata merah melotot ke arah Patih Purno.


"Tua bangka sialan!", gerutu orang tersebut.


Patih Purno menjadi begitu waspada, ia tidak menyangka bahwa orang yang menyerangnya dari belakang juga mengenakan pakaian serba hitam. Pasukan itu kemudian menyebar dan mengepungnya, tidak ada ruang untuk dirinya lari dari kepungan itu.


"Siapa orang-orang ini?!", batin Patih Purno berbicara, "Semuanya menggunakan pakaian serba hitam dan memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Nafsu membunuh mereka cukup kuat dengan pola serangan yang tertata rapi. Apakah mereka berasal dari kerajaan Kendala?!", pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak Patih Purno terus menerus.


Belum sempat ia berpikir lebih jauh ia mendengar suara dari arah orang yang berhasil ia tendang barusan, "Bajingan tua sialan!!! Akhirnya kita bertemu disini! Aku tidak menyangka bahwa kekuatan kau masih sama seperti dulu bahkan sedikit meningkat. Malam ini akan ku balaskan dendam saudara ku yang telah kau bunuh!!! Aku bersumpah atas nama dewa akan memberikan kematian yang teramat sakit dan sangat menyiksa untuk kau!!!", orang itu berseru lantang dengan nafsu membunuh paling kuat diantara sesamanya.


Alis Patih Purno naik setelah mendengar perkataan lantang tersebut, ia tidak mengerti akan maksud dari omongan lawannya barusan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya siapakah gerangan orang ini, ia tidak habis pikir mengapa orang ini menggerutu tidak jelas kepada dirinya.


Melihat reaksi Patih Purno yang seolah tidak mengenalnya membuat orang itu menjadi lebih emosi kepadanya, orang itu kemudian membuka kain yang menutupi sebagian wajahnya, "Kau lupa dengan wajah ini bajingan tua?!!!", orang itu menunjukkan wajahnya yang terdapat luka goresan melebar tepat di pipinya sehingga membuat mulutnya agak sobek.


Patih Purno memandangi sesaat wajah orang tersebut, dia baru menyadari bahwa bahwa terdapat luka yang terasa tak asing baginya. Setelah berpikir cukup lama akhirnya ia bisa mengenali orang tersebut, "Pendekar pedang kembar, ternyata takdir mempertemukan kita kembali. Ah... Mungkin lebih baik aku memanggil kau dengan sebutan pendekar pedang kesendirian, itu lebih tepat dengan keadaan mu sekarang", senyum mengejek kini terukir di wajah Patih Purno.


Ia mengenali sosok tersebut yang merupakan musuhnya dahulu saat berperang melawan kerajaan Kendala yang mencoba mengusik kehidupan kerajaan Gundala. Saat perang diantara kedua kerajaan ini terjadi Patih Purno sempat menghadapi pendekar dari pihak musuh yang dikenal sebagai pendekar pedang kembar.

__ADS_1


Julukan itu diberikan karena pendekar ini merupakan saudara kembar yang berhasil menaikkan namanya dalam dunia persilatan, tidak hanya wajah mereka yang kembar namun pedang yang mereka gunakan juga memiliki kesamaan yang sama persis.


__ADS_2