Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
9. Duel


__ADS_3

Raja Aryo menggendong istrinya dan menjauh dari pertempuran membawa para beberapa bangsawan dan beberapa prajurit kerajaan yang menjadi pengawalnya. Dia berniat mencari tempat aman untuk pengikutnya lalu berniat kembali untuk membantu Patih Yarna dan yang lainnya.


Namun baru setengah perjalanan langkahnya terhenti karena sebuah pisau yang terbang ke arahnya dengan cepat, dengan mudah dia menghindarinya dan pisau tersebut menancap di tanah tepat di posisinya berdiri. Ia kemudian bergerak mundur dari lokasi pisau tersebut.


“Mengapa terlalu terburu-buru, bermain lah dulu dengan ku. Kalian masih ada waktu bukan?", Suara itu terdengar jelas di telinga raja Aryo dan tidak lama sosok wanita misterius menampakkan diri dengan senyum lebarnya.


“Tolong bawa ratu keluar istana dan carilah tempat yang aman. Bersembunyi lah sampai keadaan aman, aku akan melawan wanita ini!”, titah raja Aryo kepada pengikutnya.


“Ahhh... Mencoba kabur? Dimana letak tata krama kalian?”, wanita itu kembali berucap disertai tawa nya yang menjengkelkan. Dia berjalan perlahan mencoba menghentikan arah pelarian dari rombongan itu.


“Jangan usik mereka! Aku lawan mu sekarang! Dan kau bertanya dimana letak tata krama? Seharusnya pertanyaan itu kau tunjukkan untuk mu sendiri!” jawab raja Aryo dengan jari telunjuk mengarah ke muka wanita tersebut.


Raut wajah wanita tadi yang awalnya senang akhirnya perlahan berubah dan mulai menunjukkan keseriusan. Namun dia kembali buka suara dengan sedikit tertawa mengejek.


“Ahhh... Sepertinya itu memang benar, seharusnya pertanyaan itu ditunjukkan kepadaku”, wanita itu kemudian mengeluarkan pisau yang menjadi senjatanya.


“Sebelum pertarungan kita, bukan kah hal umum sebagai sesama pendekar memperkenalkan namanya kepada lawan tandingnya?”, raja Aryo bertanya kepada wanita yang kini berada di depannya dan jarak mereka tidak terlalu jauh.


“Hahaha... Terlalu membosankan tapi tidak apa. Namaku Liva Parvati dan aku lebih dikenal sebagai pendekar pisau darah di kerajaan Kendala”, wanita itu menjawab sambil menjilat pisau yang ada tangannya.


“Pendekar pisau darah, ternyata kau dari padepokan di kerajaan Kendala. Padahal kami tidak pernah ikut campur urusan kerajaan kalian tapi kalian selalu mencari masalah agar konflik ini terjadi!”, raja Aryo menjadi marah setelah tahu bahwa lawannya berasal dari kerajaan yang selalu memusuhi kerajaan Adipura.

__ADS_1


“Raja kami sangat tergiur oleh kebudayaan dan kesejahteraan kerajaan kalian yang lebih maju dari kerajaan kami. Dan hari ini kami akan menghadiahkan kepala mu kepada raja kami nanti”, pisau darah menjelaskan maksud tujuan kedatangan mereka, setelah itu dia langsung bergerak menyerang ke arah raja Aryo.


Raja Aryo tidak tinggal diam, dengan keris pusaka nya dia mulai bertukar serangan dengan pisau darah. Keduanya menunjukkan kekuatan yang berimbang dan terus bertukar jurus demi jurus, keduanya mengeluarkan segenap kemampuan untuk mengalahkan lawannya masing-masing.


Sudah hampir 50 jurus keduanya bertukar dan semakin lama raja Aryo berhasil mendominasi pertarungan itu. Walaupun kekuatan mereka sama namun keunggulan raja Aryo adalah karena ada keris pusaka di tangannya.


Keris ini dinamai keris Bagaskara yang memiliki arti matahari, keris ini dibuat oleh mpu Jaya, seorang pria tua yang umurnya sudah mencapai satu abad dan tersohor sebagai pembuat senjata pusaka tingkat tinggi.


Dengan keris tersebut tidak perlu waktu lama akhirnya raja Aryo mampu membuat lawannya terdesak, pisau darah terkejut karena kemampuan yang ditunjukkan lawannya yang tidak pernah ia duga.


Tidak hanya keris pusaka yang menjadi senjatanya, sebagai seorang raja yang dididik dengan tekun membuat pengetahuan yang dikuasai oleh raja Aryo sangatlah besar.


Walaupun dikenal baik dan ramah, raja Aryo akan menunjukkan sifat yang berseberangan ketika menghadapi situasi seperti ini.


Melihat gerak-gerik lawannya yang mencurigakan membuat raja Aryo menjadi waspada, ia yakin luka yang telah ia torehkan kepada lawannya telah berhasil membuat mental lawannya menjadi ciut.


Saat pisau darah ingin segera kabur dri pertarungan itu saat itu pulalah raja Aryo berlari ke depan untuk melancarkan serangan kepada pisau darah.


“Penebar maut!”, raja Aryo mengeluarkan salah satu jurus mematikannya mengarah ke titik vital lawannya tersebut.


Serangan itu begitu cepat dan tidak mampu pisau darah hindari semuanya, akibatnya ada dua tusukan mendarat di bahu dan sekitar tulang rusuknya. Darah mengalir deras dari lukanya membuat pisau darah terjatuh dalam posisi berlutut sambil menutupi luka dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Sudah berakhir, kematian mu sudah dekat!”, raja Aryo menghunuskan kerisnya tepat di atas kepala pisau darah. Dia telah berhasil membuat lawannya bertekuk lutut, namun dengan bayaran staminanya yang sudah habis.


Tidak mudah untuk menaklukkan pisau darah sampai membuat raja Aryo harus mengeluarkan jurus mematikannya. Jurus tersebut menyerap setengah tenaga dalam yang dia miliki dan paling bisa hanya digunakan sebanyak dua kali.


Kini tenaga dalamnya telah habis sebab setengahnya lagi dia gunakan ketika bertarung bersama Patih Yarna untuk menghadapi pria misterius. Raja Aryo mendekat ke arah pisau darah dan tanpa menunggu lebih lama ia menancapkan keris Bagaskara tepat di kepala pisau darah yang membuatnya mati seketika.


Raja Aryo mencabut kerisnya dari kepala pisau darah dan setelah tercabut tubuh pisau darah kemudian jatuh ke tanah. Malam ini menjadi malam terakhir pisau darah untuk menghirup udara segar yang diberikan oleh alam, setelahnya ia tidak akan pernah merasakannya lagi.


“Tenaga dalam ku sudah habis, aku tidak bisa kembali ke tempat Patih Yarna", batin raja Aryo berbicara. Nafasnya mulai tak teratur karena telah melewati dua pertarungan yang bisa dibilang cukup berat.


"Aku harus memulihkan diri terlebih dahulu, lebih aku mencari keberadaan dinda dan para bangsawan lain memastikan mereka dalam keadaan aman”, raja Aryo menyarungkan kerisnya lalu mulai beranjak dari tempat pertarungannya menuju tempat persembunyian para pengikutnya.


Raja Aryo memerintahkan pengikutnya untuk keluar dari istana dan mencari tempat yang aman. Walaupun kerajaan Adipura tak pernah terlibat perang antar kerajaan sekalipun namun persiapan untuk hal darurat seperti ini sudah mereka siapkan.


Ketika keadaan darurat ada sebuah jalur khusus untuk keluar dari istana, tidak banyak yang tahu kecuali keluarga kerajaan dan para bangsawan tingkat tinggi. Jalur itu langsung menuju ke sebuah rumah yang terbuat dari kayu yng dilindungi semak belukar disekitarnya.


Melewati jalur itu akhirnya raja Aryo berhasil menemukan para pengikutnya, wajah para pengawalnya menjadi cerah setelah melihat raja mereka kembali tanpa luka sedikitpun.


Mereka yakin raja Aryo telah mengalahkan wanita yang menghadang langkah mereka tadi, sebenarnya mereka ingin membantu tapi raja Aryo meminta mereka untuk pergi bersembunyi membawa permaisuri dan membiarkan keduanya bertarung.


Raja Aryo memahami reaksi dari para pengawalnya, walaupun rasa lelah yang ia rasakan sekarang, melihat senyuman dari para pengawalnya membuat ia menjadi tenang. Ia lantas berjalan menuju salah satu pasukannya tersebut, "Pergilah kembali ke istana, bawa beberapa rekanmu untuk menemanimu kesana", raja Aryo memberikan titah kepada pengawalnya.

__ADS_1


"Baik paduka, hamba mengerti", pengawal itu menjawab dengan penuh hormat perintah dari rajanya. Ia kemudian memilih rekan-rekannya sendiri untuk menemaninya kembali ke istana.


Raja Aryo melihat kepergian beberapa pengawalnya yang ia tugaskan untuk mencari informasi tentang situasi di istana sekarang. Menurutnya akan lebih bagus ketika ia kembali setelah memulihkan diri mendapat informasi penting tentang situasi yang sedang terjadi.


__ADS_2