
“Ini demi kebaikanmu”
“Tapi ayah... Aku terlalu lemah”
"Sudah saatnya untuk dirimu memiliki bekal ilmu beladiri"
"Tapi ayah..."
“Sinta... Ayah tidak ingin mengulangi kesalahan dulu yang telah membuat ibumu pergi meninggalkan kita. Ayah sangat menyayangimu, sifat mu sangat mirip dengan ibumu. Apapun yang engkau lakukan ayah tidak akan pernah marah, namun kali ini tolong turuti permintaan ayah”
Sinta terdiam setelah mendengar kata-kata dari ayahnya. Perkataan ayahnya barusan mengingatkannya atas kejadian masa lalunya yang begitu pahit. Kejadian yang harus membuatnya terpisah dari sosok ibu yang sangat menyayanginya.
Ibunya berasal dari kalangan pejabat terpandang dan ayahnya hanyalah seorang pendekar pengelana saat itu. Keduanya bertemu secara tidak sengaja dan berakhir jatuh cinta. Secara terang-terangan mereka menjalin asmara yang membuat siapa saja yang melihat mereka akan berpikir mereka adalah pasangan yang serasi.
Karena sikap terang-terangan ini akhirnya kisah cinta mereka diketahui oleh orang tua ibunya, lantas ibunya dipaksa agar memutuskan hubungan dengan ayahnya.
Namun tembok cinta yang sudah dibangun bersama tidak dapat menggoyahkan keinginan ibunya untuk hidup bersama ayahnya. Dengan tekad yang sudah bulat keduanya lantas bersama-sama menghadap ke depan orang tua ibunya untuk meminta restu.
Tergolong nekat namun itu semua berbuah manis, ayahnya mampu meyakinkan calon mertuanya akan membahagiakan ibunya dan menjaganya sampai ajal memisahkan mereka.
Melihat kesungguhan hati dari ayahnya kala itu membuat kedua orang tua ibunya menjadi luluh. Mereka akhirnya menyetujui hubungan itu namun dengan syarat tidak akan menerima uang apapun dari kedua orang tuanya.
Ayah serta ibunya menyanggupi syarat itu dan hidup seperti rakyat biasa. Kehidupan mereka akhirnya lengkap dengan kehadiran Sinta. Hari-hari mereka terisi dengan tawa riang dan terasa begitu indah sampai kejadian menyayat hati itu datang.
***
Sinta terdiam dan raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca dan Sinta memalingkan wajahnya tidak berani menatap bik Sekar. Bik Sekar yang melihat itu menjadi bingung harus berbuat apa, melihat Sinta kini seolah sedang meratapi masa lalunya membuat bik Sekar menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Bik Sekar lantas memijit punggung Sinta yang membuat Sinta akhirnya menjadi lebih tenang. Tidak lama kemudian Sinta memalingkan wajahnya ke arah depan.
“Non tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa bik, aku hanya teringat kisah masa lalu ku”
“Lebih baik kita pulang saja non”
“Jangan bik, aku masih ingin melihat-lihat kampung ini”
“Apa non masih sanggup berjalan?”
“Aku masih kuat bik, apa bibik yang mulai lelah menemani ku?”
“Ahhh... Bukan begitu non. Melihat non kelihatan sedih barusan membuat bibik merasa salah tingkah. Bibik tidak mengetahui apa yang membuat non bisa bersedih jadi daripada melanjutkan lebih baik non beristirahat saja di rumah”
Sinta kembali terdiam mendengar penjelasan dari bik Sekar. Perasaannya saat ini seperti ingin marah namun di satu sisi juga begitu sedih. Dia kemudian memejamkan mata dan menghembuskan nafas pelan sebelum kembali berbicara.
“Non, jangan terlalu banyak pikiran. Kandungan non sudah dalam usia tua, non harus memperhatikan kesehatan kandungan non”
“Baik bik”
“Berpikir dengan kepala dingin akan membuat semuanya menjadi lebih baik”
“Aku sudah merasa lebih baik bik, terima kasih. Mari kita sambung perjalanan lagi dan aku akan mulai bercerita lagi”, Sinta mengajak bik Sekar untuk melanjutkan perjalanan keduanya. Melihat senyuman Sinta yang begitu manis membuat bik Sekar yakin untuk menuruti permintaan Sinta.
“Jika non ingin seperti itu mari bibik temani” bik Sekar membalas dengan senyuman terbaik yang ia miliki. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan mengelilingi kampung. Sinta kembali menyambung ceritanya yang belum usai dan bik Sekar fokus untuk mendengarkan sambungan cerita tersebut.
__ADS_1
***
Permasalahan hidup akan selalu menimpa setiap manusia di muka bumi ini. Suka tidak suka setiap orang yang hidup akan mengalami suatu masalah baik kecil maupun besar. Begitupun dengan kehidupan keluarga Sinta tak luput dari masalah.
Keluarga mereka yang awalnya bahagia dan hanya hidup biasa saja menjadi penuh waspada setelah berita kedua orang tua ibunya yang sudah sepuh ingin membagikan harta warisan kepada anak-anaknya. Disinilah petaka besar itu muncul dan membuatnya harus kehilangan sosok ibu yang begitu ia cintai.
Ibunya memiliki seorang adik perempuan yang begitu tergila-gila dengan harta. Sosoknya yang begitu sombong akan kekayaan orang tuanya membuat siapa saja akan mencibirnya. Namun dia tidak merasa aneh, malah ia terus memamerkan segala perhiasan yang dipakainya ke khalayak ramai.
Sikapnya yang seperti itu membuat orang tuanya terus mengalami masalah dan hanya bisa menggelengkan kepala. Orang tua ibunya kala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dikekang atau dimarahin oleh orang tuanya, saudari ibunya akan mengamuk sejadi-jadinya.
Tak jarang saudari ibunya akan mengamuk jika hadiah yang ia dapat kualitasnya lebih rendah daripada ibunya. Ia akan memaksa ingin bertukar hadiah tersebut bagaimanapun caranya.
Bahkan saat acara pernikahan ayah serta ibunya yang diadakan sederhana saudari ibunya tersebut datang dengan wajah yang sangat tidak mengenakkan. Walaupun acara itu diadakan dengan sederhana namun banyak rakyat yang menghadiri bahkan kalangan pejabat yang mengenal ibunya dengan baik.
Banyak hadiah yang diberikan kepada pasangan suami istri baru tersebut, hal itu pulalah yang membuat saudari ibunya menjadi sangat iri. Dia datang sebagai tamu paling akhir, namun bukannya mengucapkan selamat atau membawa hadiah, melainkan ia menadahkan tangan seolah meminta jatah kepada kakaknya sendiri.
Perbuatan yang tidak mengenakkan itu membuat ayah sinta menjadi sedikit berang, ia yang awalnya hanya menahan kini tidak bisa membandingkan lagi amarahnya. Dia hendak memaki saudari ibunya yang sudah menjadi adik iparnya tersebut.
Perdebatan terjadi diantara keduanya, bukannya merasa bersalah saudari ibunya seolah menjadi korban dalam pertengkaran tersebut. Perdebatan yang akhirnya ricuh itu membuat beberapa tamu yang masih hadir menjadi khawatir akan suasana yang sedang terjadi.
Beberapa tamu bahkan tidak ragu untuk segera angkat kaki dari acara pernikahan itu, namun ada juga tamu yang akhirnya mendekati kedua orang yang sedang berdebat berniat melerai mereka.
Saat keduanya hendak dilerai tiba-tiba saja saudari ibunya jatuh terduduk dan kemudian menangis sekencang mungkin dan menuduh ayahnya telah memakinya dengan perkataan kotor. Sontak ayah Sinta terkejut dengan hal itu, begitupun para tamu yang hendak melerai.
Mata ayah Sinta memerah karenanya, ia hendak menghampiri saudari ibunya dan ingin menampar orang yang memiliki mulut busuk tersebut. Namun saat hendak bergerak tangan istrinya menahan gerakannya.
Ibu Sinta melihat ke sekeliling dan menyampaikan permintaan maaf kepada semua tamu. Ibunya berkata bahwa permasalahan ini hanya salah paham saja. Tentu saja ayahnya tidak terima namun ibunya kembali meyakinkan agar ayahnya tenang dan hanya mendengarkan.
__ADS_1
Keadaan menjadi lebih terkendali setelah ibunya menghampiri dan mengatakan akan memberikan hadiah pernikahannya kepada saudari tersebut. Dalam sekejap tangisan itu berhenti dan raut wajah saudarinya kini berubah.
Senyuman kemenangan terukir di wajah saudari ibunya kala itu, dia telah berhasil membuat katanya menuruti permintaan yang terkesan memaksa tersebut. Ayahnya ingin menolak apa yang ibunya katakan kepada adiknya, namun ibunya memilih jalan itu agar permasalahan ini tidak akan berlanjut terus menerus.