
"Cu-cucu bersedia mendengarkan kek", Aryo gugup sesaat.
Aryo mendadak gugup saat kakek ini ingin bercerita kepadanya, auranya jelas tidak mengenakkan saat dimana kakek itu mulai membaguskan posisi duduknya dan mentap langit sesaat.
"Sebelum itu orang tua ini ingin bertanya, mengapa engkau mau menolong orang tua penyakitan seperti diriku?".
"Iii-itu...", Aryo menjadi bingung untuk menjelaskannya, "Aku tidak tega melihat ada orang tua yang kesusahan, itu saja alasan ku", Aryo duduk tegap setelahnya.
"Hahaha... Kenapa cucu ku gugup sekali, sudah jangan terlalu dipikirkan. Aku bersyukur masih ada manusia berhati lembut seperti dirimu, mungkin sudah takdir dari dewa kita dipertemukan hari ini", senyuman kini terukir di wajah kakek tua itu.
Aryo batuk sesaat karena tersipu malu atas pujian dari kakek itu, ia sudah banyak membantu rakyat lain dan mendapati ungkapan terima kasih dari orang-orang yang telah ia bantu.
Dari banyak ungkapan terima kasih yang ia dapatkan hanya ungkapan dari kakek di depannya ini yang bisa membuatnya tersipu malu. Ia sempat terheran karena baru kali ini ia mendapati reaksinya seperti itu.
"Ayahanda yang selalu mengajarkan ku untuk menolong setiap orang yang membutuhkan uluran tangan", Aryo membalas senyuman kakek tua.
"Ayahanda mu pasti seorang yang tidak kalah baik hati, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya".
"Terima kasih kakek telah berkata demikian".
"Ahh... Iya, orang tua ini hampir lupa ingin menceritakan sesuatu. Bagaimana jika kita saling memperkenalkan diri terlebih dahulu, bagaimana aku menyebut namamu cu?", kakek itu kembali bertanya.
"Namaku Aryo Jayantaka kek, bagaimana dengan kakek?".
"Namaku Prabaswara Sadali, engkau bisa memanggilku Ki Wara".
"Baik Ki Wara", Aryo tersenyum hangat.
"Engkau pastinya punya pertanyaan yang banyak melihat kondisi ku yang seperti ini, dengan senang hati orang tua ini akan menceritakan kisah hidup ku".
Belum sempat Aryo menanggapinya Ki Wara lantas mulai bercerita tentang kisah hidupnya.
__ADS_1
***
Kisah bermula saat Ki Wara masih berumur muda dan saat itu ia adalah seorang pemuda biasa dari keluarga petani di sebuah kampung yang amat sederhana. Walaupun hidup sedikit susah namun keluarga mereka tetap menikmati hidup itu.
Ayah dan ibunya hanyalah petani sedangkan ia merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Umur diantara keduanya tidak terpaut jauh, mengingat orang-orang jaman itu menganggap banyak anak akan membawa barokah yng tak kalah banyak juga.
Kedua kakak beradik ini begitu dekat dan menjalani hidup mereka dengan tawa riang, walau masalah sering menerpa namun lambat laun mereka akan kembali akur lagi. Namun semua itu berubah ketika malapetaka besar datang ke hidup keluarga kecil ini.
Suatu hari ayah Ki Wara meminta pada kedua anaknya untuk mencari kayu bakar di hutan tak jauh dari kampungnya. Perintah ayahnya disanggupi oleh mereka berdua dengan senang hati.
Kegiatan itu merupakan rutinitas bagi keduanya, mereka berjalan beriringan menuju hutan tempat mencari kayu bakar. Saat sudah dekat samar-samar keduanya mendengar sebuah suara tangisan dari dalam hutan.
Tentu saja itu adalah hal aneh, mengingat hutan itu hanya sedikit yang berani memasukinya. Adik Ki Wara sempat jantungan sesaatmendengar tangisan lirih di dalam hutan itu, ia meminta kepada kakaknya agar tidak jadi masuk ke dalam hutan.
Nyatanya Ki Wara hanya membalas ajakan itu dengan senyuman, ia berkata kepada adiknya bahwa mungkin ada warga kampungnya yang tersesat di dalam hutan.
"Kita harus memastikannya dik".
"T-ta-tap-i kak!".
Kemudian Ki Wara bersama adiknya berjalan sambil bergandengan tangan memasuki hutan tersebut. Langkah mereka pelan sambil mengikuti suara tangisan yang terkadang terdengar dan kadang hilang begitu saja.
Walaupun hari itu masih siang namun suasana di hutan itu sangatlah tidak enak, biasanya hutan diisi dengan suara kicauan burung dan hembusan angin yang menyejukkan kini semua itu lenyap bagaikan ditelan bumi.
Suasana hutan begitu sunyi dan terasa mencekam, Ki Wara yang saat pertama kali masuk merasa percaya diri kini menjadi was-was terhadap situasi yang mereka alami sekarang.
"Hikkkssss.... Hiikkkkkssss...."
Suara tangis yang sudah berhenti kini terdengar di telinga mereka berdua, sontak saja reaksi keduanya menjadi begitu waspada. Suara tangis itu cukup lama berhenti namun sekarang tiba-tiba saja hadir kembali dan seperti berada tak jauh dari mereka.
"Kak! Kak! A-aa-ku ing-ngin pu-pu-pulang", lirih adiknya.
__ADS_1
"Engakau laki-laki! Jangan takut! Tunggu disini sebentar, aku akan memeriksa ke arah sana", tunjuk Ki Wara ke sebuah rimbunan bambu yang menjulang tinggi.
Ia merasa hadirnya suara itu bersumber di balik rimbunan bambu yang berada tak jauh dari tempatnya, namun belum sempat ia melangkah suara itu kembali terdengar.
"JANGAN MENGGANGGU!!! PERGI!!!"
Kini suara itu terdengar jelas di telinga mereka berdua, begitu kuat dan menggema mengisi udara.
"Whaaaahhhhhhhhhkkkkk!!!!! Demittttt!!!!!!!!"
Adik Ki Wara lantas berlari sendirian meninggalkan kakaknya yang diam terpaku di tempat mereka tadi. Dia berlari dengan sekuat tenaganya tanpa menoleh ke belakang, di dalam pikirannya hanya ada kata 'lari' jika ingin selamat dari musibah yang akan datang.
Lain halnya yang dialami oleh Ki Wara, ia tidak dapat beranjak dari tempatnya sebab kakinya seperti ditahan oleh sesuatu. Ia hanya dapat menyaksikan bagaimana adiknya berlari sangat cepat tanpa menoleh ke belakang.
Hatinya terasa sesak sesaat, adiknya pergi meninggalkan ia tanpa sepatah katapun. Ia mencoba berontak namun kakinya seolah tak bisa mengikuti kemauannya, saat masih berusaha berontak itulah tiba-tiba saja terdengar bunyi langkah kaki dari balik rimbunan bambu di depannya.
Crakkk.... Crakkkk... Craakkkk...
Suara langkah kaki yang menginjak daun bambu yang sudah kering sangat jelas terdengar membuat hati Ki Wara berdetak tak karuan. Ia sadar itu bukanlah detakan karena rasa cinta namun karena rasa takut yang sedang ia rasakan sekarang.
Ki Wara tak tahan dengan detakan jantungnya yang sudah tak karuan, ia ingin berteriak meminta tolong namun mulutnya ikut tak mau menuruti kemauannya. Semakin jelas suara itu terdengar semakin hebat pula tubuhnya bergetar, tidak ada pilihan lain baginya sekarang.
Ia kemudian memutuskan untuk memejamkan mata berharap semua ini hanyalah mimpi, namun ia juga tidak bisa membantah bahwa kejadian yang ia alami sekarang begitu nyata baginya.
Namun harapan yang ia punya kini menjadi pupus, sebuah telapak tangan dingin kini menyentuh wajahnya.
"Wahhhhhhkkkkkggg!!!! Jangan makan aku, aku pahit!!!!"
____________________________________________
Prabaswara bermakna cahaya bintang yang menggambarkan kehidupannya yang terang seperti cahaya bintang
__ADS_1
*Prabaswara bermakna cahaya
*Sadali bermakna bintang