
"Dindaa..."
Aryo melotot ke arah istrinya yang sekarang berdiri di samping tempat ia berdiri tadi, matanya tak berkedip menyaksikan paras cantik dan senyuman manis istri tercintanya.
Sinta tersenyum ke arahnya, "Kanda belum menjawab pertanyaan dinda"
“Te-tentu saja dinda, kanda sudah punya satu nama yang bagus untuk anak kita nanti", Aryo menjawab dengan gugup.
“Mengapa hanya satu kanda?", Sinta tersenyum, "Bagaimana jika anak kita kembar?”
“Apa maksud dinda?”
“Sepertinya kita akan memiliki anak kembar”
“Benarkah? Benarkah ucapan dinda saat ini?”
“Benar kanda, tapi sebaiknya kanda harus tegar nantinya, sebab...”
“Sebab, sebab apa dinda?”
“Sebaiknya kanda pulang untuk mengetahuinya, dinda pamit. Tolong jaga anak kita”, senyuman manis Sinta mengakhiri kata-katanya tersebut.
Kini Sinta kembali lagi menghilang dari pandangan Aryo, namun tidak seperti tadi. Ia menghilang bak seperti kabut, Aryo mencoba meraih tangan istrinya namun yang ia dapati hanyalah kabut yang menyelimuti tubuh istrinya.
“Dinda... Kemana engkau pergi? Kenapa langit iba-tiba mendung! Dinda, dinda jangan pergi!!!!!! Dindaaaa.........!!!!!!!”
***
Aryo tersentak bangun dari tidur lelapnya, nafasnya ngos-ngosan dan tubuhnya kini terasa berat. Ia sempat linglung namun sesaat kemudian ia baru sadar ternyata ia hanya bermimpi.
__ADS_1
Namun mimpi yang ia rasakan barusan seperti kenyataan baginya, paras cantik istrinya serta suasana yang teramat nyaman begitu kental dalam ingatannya. Nafasnya memburu dan kepalanya mulai berkeringat dingin, “Aku bermimpi!”, batinnya berbicara.
Dia kemudian mencoba menenangkan diri agar nafasnya tidak memburu lagi, saat sudah tenang ia mengambil air minum dan menenggaknya dengan perlahan.
“Mengapa di saat seperti ini aku bermimpi seperti itu, apa yang terjadi dengan dinda? Apa semua itu nyata?”, Aryo kembali duduk di tempat tidurnya.
Hati dan pikirannya sedang bergejolak saat ini karena sedang diselimuti rasa khawatir dan penasaran yang teramat besar, batinnya terus bertanya apa maksud dari mimpinya barusan.
“Aaarhhghhhh kepala ku pusing”, karena terlalu keras berpikir membuat kepalanya menjadi sedikit sakit.
Walau masih penasaran dengan makna mimpinya Aryo lantas menepis semua itu, ia mencoba berbaring kembali di tempat tidurnya namun matanya seolah tak ingin terpejam. Karena tidak bisa kembali tidur akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya mencari udara segar, kamarnya sekarang terasa sesak baginya.
Baru saja membuka pintu hembusan angin malam yang serasa menusuk kulit menerpa tubuhnya, begitu kuat dan amat dingin. Tiba-tiba saja firasatnya menjadi tidak enak, keheningan malam ini begitu tidak biasa dari sebelumnya.
“Mengapa terasa begitu hening malam ini, apa semuanya tertidur lelap?”, Aryo mencoba berpikir positif dengan keadaan sekarang, mungkin para pasukannya tertidur lelap karena sudah menempuh pertempuran yang cukup berat hari ini.
Dia berjalan sendirian sambil mengamati pasukannya yang tertidur cukup lelap hanya beralaskan kain seadanya, dia kemudian bergerak ke arah bara api sisa upacara pemakaman tadi siang.
Banyak dari pasukannya yang berada di tempat itu, mereka saling merapatkan barisan dan tertidur dalam kelompok-kelompok kecil dengan senjata lengkap bersamanya. Aryo tersenyum, dia lega melihat wajah para pasukannya yang tidur lelap melepas segala penat akibat pertempuran siang tadi.
Ia kemudian hendak beranjak ke tempat lain namun tiba-tiba saja ia mencium sebuah bu yang teramat aneh, bau itu semakin lama semakin kuat. Aryo pun menyadari bahwa bau tersebut begitu kental dan tepat dari arah gerbang markasnya dan benar saja dugaannya itu tepat, “Kenapa ada bau **** disini, seingat ku tidak pernah ada yang menangkap atau memakan ****”
Kening Aryo mengerut sebab sangat aneh ketika bau **** itu sangat pekat malam ini seolah ada **** yang bergerombol di dalam markas mereka. Saat masih dalam kebingungan yang ia rasakan tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
“Patih!!!”, Aryo melompat ke depan untuk menjaga jarak, dia tidak menyangka bahwa orang yang telah menepuk pundaknya adalah Patih Purno.
Patih Purno berdiri di belakangnya dengan pakaian lengkap seperti hendak berperang, “Maaf Patih aku tidak tahu kalau Patih ada di sekitar sini”, Aryo mencoba bersikap tenang.
Sikapnya barusan dia lakukan karena terkejut karena tepukan tadi, Aryo tidak pernah menduga bahwa Patih Purno akan menjumpainya malam ini. Dan yang lebih menarik perhatiannya mengapa Patih Purno memakai pakaian lengkap berperangnya.
__ADS_1
Melihat tidak ada reaksi balasan dari Patih Purno membuat Aryo menjadi linglung, ia pikir Patih Purno sedang tersinggung dengan sikapnya barusan.
Ia kemudian kembali berbicara untuk mencairkan suasana, “Ada apa Patih? Mengapa Patih masih terjaga saat tengah malam seperti ini?, Aryo bertanya kembali.
Patih Purno diam sesaat sebelum balik bertanya kepada Aryo, “Apa tuan muda mencium aroma yang aneh saat ini?”, Patih Purno memandang ke arah Aryo.
Aryo yang mendengar pertanyaan itu sontak kaget, ternyata Patih Purno mencium juga apa yang ia cium barusan. “Apa itu seperti aroma ****?”, tanya Aryo untuk memastikan.
“Benar tuan muda”, Patih Purno membalas singkat, "Sepertinya ada yang salah dengan aroma yang kita cium saat ini", tambahnya.
Aryo menatap ke arah Patih Purno, pandangan Patih Purno kini tertuju ke arah gerbang markas mereka. Perasaan Aryo sekarang menjadi kalut, sebab aroma itu kini kian kuat dan terasa terus mendekat.
“Persiapkan diri tuan muda, kita kedatangan tamu tak diundang malam ini!”, Patih Purno memberi arahan kepada Aryo.
“Tamu tak diundang?”, Aryo bertanya-tanya dalam hatinya, apa maksud dari perkataan Patih Purno barusan, “Jangan-jangan...?”, Aryo berbalik badan menghadap arah aroma itu datang, perlahan tapi pasti aroma itu menjadi begitu kuat dan terasa dekat membuatnya menjadi waspada.
Aryo dengan sigap menyiapkan diri dan kini keris Bagaskara sudah ia genggam dengan erat, ia kemudian bersiap sesuai arahan Patih Purno barusan.
***
Patih yang memimpin aksi penyusupan ke dalam markas pemberontak merasa di atas angin. Dia takjub dengan ketangkasan dari pasukan serigala hitam serta pasukan suku kulit hitam. Kombinasi kedua pasukan ini membuat siapa saja yang mereka temui akan kehilangan nyawa dengan cepat tanpa korbannya sadari.
Mereka membunuh dengan senyap tanpa suara, dengan hanya berinteraksi menggunakan gerakan tangan pergerakan mereka terus berhubungan satu sama lain.
Pasukan penyusup akhirnya telah menghabisi semua penjaga di pintu gerbang, kini tugas mereka akhirnya selesai. Berikutnya adalah membuka pintu gerbang agar pasukan bala bantuan pimpinan menteri Balda bisa masuk ke dalam markas pemberontak.
Penyusupan ini seperti halnya saat penyerangan di istana Adipura yang dipimpin langsung oleh menteri Balda saat Aryo masih menjadi raja. Saat itu tugas penyusupan ia serahkan kepada beberapa pendekar aliran hitam yang dikenal sebagai 13 pendekar pembunuh malam, namun usaha mereka saat itu sempat mengalami kebuntuan akibat kurangnya persiapan.
Oleh karena itulah misi kali ini ia rancang semaksimal mungkin agar semuanya berjalan sesuai rencananya.
__ADS_1