Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
63. Termenung


__ADS_3

Pertanyaan dari Patih Purno membuat Subani menahan nafas sejenak, dia kemudian memandangi wajah rekannya yang kini terdapat sebuah tawa yang sedang ditahan.


"Saat-saat genting seperti ini mengapa engkau harus membahas istri ku! Kau ingin berkelahi sekarang?!", Subani menjadi sedikit emosi karena pertanyaan Patih Purno barusan.


Tawa Patih Purno tak dapat dibendungnya lagi, rekannya sudah termakan umpang pancingnya yang telah ia buat, "Hahahaha....", Patih Purno mengusap air matanya yang keluar, "Maaf aku tidak bermaksud, aku hanya memastikan bahwa teman ku masih fokus dalam menghadapi lawan kita malam ini", jawab Patih Purno sambil menepuk pundak rekannya berulang kali.


Subani yang mendengar hal itu lantas menepis tangan rekannya dan kemudian mendaratkan sebuah pukulan tepat di lengan kanan rekannya, "Itu balasan karena kata-kata engkau tadi", setelah berkata demikian Subani lantas ikut tertawa bersama Patih Purno.


Tawa Subani dan Patih Purno dapat didengar oleh pasukan menteri Balda. Mereka keheranan melihat tingkah laku lawannya yang saat ini masih bisa tertawa setelah menghabisi seluruh pasukan suku kulit yang bergabung dengan mereka dalam misi penyusupan malam ini.


Menteri Balda sendiri hanya terdiam memperhatikan kedua lawannya yang saat ini tertawa lepas tidak jauh dari tempatnya. Menteri Balda menggigit bibir bawahnya, ia mengerti makna dari tawa kedua lawannya tersebut. Itu adalah tawa pahit dimana sepasang sahabat sejati telah melewati manis dan pahitnya hidup di dunia ini.


Tawa yang didengarnya membuat menteri Balda termenung sesaat, pikirannya kini melayang membayangkan seseorang yang sangat ia rindukan. Sosok itu tidak lain adalah rekannya ketika masih muda yang kini sudah lama pergi jauh darinya.


Perasaan rindu menyeruak keluar dari sanubarinya, ia merindukan sosok itu. Kenangan manis dan pahit bersama rekannya terngiang jelas di pikirannya, selama hidupnya ia tidak pernah menemukan pengganti dari sosok tersebut.


"Ahhh... Bagaimana kabar mu disana?", menteri Balda menatap ke arah langit yang gelap, "Apa engkau juga merindukan kebersamaan kita dahulu?"


Perasaan menteri Balda kini bercampur aduk menjadi satu, "Mungkin sebentar lagi kita akan bertemu, tunggulah sebentar lagi. Ada satu urusan penting yang harus aku lakukan sekarang", senyuman pahit kini terukir di wajah menteri Balda.

__ADS_1


Tanpa ia sadari matanya mulai berkaca-kaca mengingat betapa kehilangannya ia saat sosok yang dirindukannya telah pergi menghadap dewa. Saat ia masih membayangkan masa-masa indah saat dahulu tidak lama kemudian Patih yang ia selamatkan dari hukuman mati menghampirinya.


"Ampun menteri, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?", Patih itu bertanya kepada menteri Balda.


Sebenarnya ia enggan untuk mengganggu menteri Balda yang terlihat sedang menatap ke arah langit tanpa mengekedipkan mata sekalipun.


Renungan menteri Balda menjadi terhenti setelah mendengar pertanyaan dari Patih yang ia bawa tersebut, "Tidak perlu menunda lagi, serang dengan kekuatan penuh. Biarkan takdir yang berbicara apa yang akan terjadi setelahnya", perintah menteri Balda dengan suara pelan.


Suara menteri Balda sedikit parau dipendengaran Patih itu, karena penasaran ia secara diam-diam memandangi wajah menteri Balda. Ia tertegun sesaat saat mendapati bahwa sekarang wajah dari pimpinannya begitu sendu dengan mata tampak sedang berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang baru kali ini ia lihat.


Sosok yang sangat dihormati di kerajaan Adipura setelah raja Jaka yang terkenal tegas dan pemberani ini ternyata juga mempunyai sisi lemahnya seperti itu. Merasa suasana tidak bagus Patih tersebut segera berucap, "Baik menteri"


***


Aryo bersama pria sepuh dan pasukan pemberontak baru saja tiba di tempat Subani dan Patih Purno berada. Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa pasukan musuh berduyun-duyun bergerak maju ke arah mereka dengan sangat cepat.


Tak ada keraguan yang terlihat di wajah lawannya saat ini, ia yakin pasukannya malam ini akan mengalami kesulitan menghadapi pertempuran yang sebentar lagi terjadi.


"Patih...", Aryo mencoba berbicara kepada Patih Purno.

__ADS_1


Patih Purno tidak menjawab melainkan segera memberi komando berupa gerakan tangan yang memerintahkan agar pasukan pemberontak ikut bergerak maju menghadapi lawan.


Teriakan penuh semangat juang mengiri langkah pasukan pemberontak menghadapi lawan-lawannya. Pertumpahan darah pun akhirnya tidak dapat terelakkan lagi, pasukan pemberontak pimpinan Aryo dan pasukan kerajaan Adipura serta Kendala pimpinan menteri Balda kemudian bertemu di medan laga dan memulai pertempuran.


Menteri Balda datang bukan hanya untuk melihat kali ini, ia kemudian ikut maju menerjang ke arah musuhnya bersama dengan pasukan serigala hitam. Sementara Patih Purno yang melihat lawannya maju juga tidak ingin ketinggalan, ia ditemani Subani dan Aryo ikut bergabung dalam pertempuran.


Suasana malam yang awalnya gelap dan sunyi kini riuh dengan teriakan semangat juang setiap prajurit yang bertempur. Tidak hanya itu teriakan bahkan jeritan kesakitan juga ikut mengisi keriuhan dalam pertempuran tersebut.


Dalam waktu singkat dari puluhan menjadi ratusan mayat kini tergeletak di tanah tak bernyawa disebabkan luka yang mereka terima dari lawan-lawannya. Tanah yang menjadi medan laga kini dialiri oleh darah setiap prajurit yang terluka bahkan mati dalam pertempuran bau amis darah juga ikut menghiasi kengerian dalam pertempuran kedua belah pihak.


Menteri Balda terus membunuh setiap musuh yang mencoba untuk mendekatinya, dengan dibantu oleh pasukan serigala hitam membutuhkan mereka menjadi mudah dalam mengalahkan bahkan menghabisi setiap lawan yang mereka temui. Begitu pula di kubu Aryo yang ditemani Patih Purno dan Subani tidak kalah hebat dalam menghabisi setiap lawan-lawan mereka.


Keris, tombak serta golok dari ketiganya kini sudah berlumuran darah dari lawan-lawannya, tidak hanya itu pakaian yang mereka kenakan juga terdapat simbahan darah segar dan belum sempat mengering. Pertempuran baru berjalan beberapa saat namun lautan mayat sudah menghiasi tempat terjadinya pertempuran.


Kombinasi ketiganya dengan mudah menghabisi setiap lawan yang mencoba menyerangnya dari segala arah. Namun tak disangka-sangka Aryo lantas memisahkan diri dari kombinasi ketiganya. Ia kemudian bergerak maju ke depan lebih dalam dari sebelumnya, dia kemudian menyerang dengan seluruh kemampuan yang ia miliki.


Lawan-lawannya tidak bisa berbuat banyak, mereka seperti sedang dihadapkan dengan seekor harimau yang sedang lapar. Serangan Aryo begitu gesit ditambah keris Bagaskara di tangannya membuat siapa saja yang ia temui akan menemui ajalnya malam ini.


Ia menyadari bahwa jika terlalu lama mengulur waktu pasukannya yang akan menjadi rugi sebab pasukan musuh berkali-kali lipat jumlahnya dari pasukannya saat ini. Jika tidak menggunakan seluruh kemampuan tinggal menunggu waktu saja pasukannya akan terdesak karena jumlah mereka yang semakin berkurang.

__ADS_1


__ADS_2