
Ki Ratno kembali tersenyum sambil memandangi keris Bagaskara, "Apakah engkau tahu siapa pemilik keris ini sebelumnya?", Ki Ratno balik bertanya.
"Pemilik sebelumnya?", alis Aryo sontak naik ketika mendengar pertanyaan itu.
"Biar ku tebak kau tidak mengetahuinya bukan?"
"Be-benar Ki, aku sama sekali tidak tahu"
"Ahhhh... Sayang sekali, lantas bagaimana engkau menemukan keris ini?"
"Ceritanya mungkin sedikit panjang Ki..."
"Maka dipersingkat saja!", Ki Ratno memotong perkataan dari Aryo.
Aryo sempat menahan nafas sejenak ketika orang tua di depannya memotong kata-katanya. Ia menjadi bingung harus memulai ceritanya dari mana, namun ia segera menemukan bagian-bagian dalam ingatannya untuk dijadikan satu dalam cerita.
Kejadian ini terjadi sekitar 8 tahun yang lalu saat dirinya masih menjadi pangeran mahkota kerajaan Adipura. Saat itu sebagai pangeran mahkota kebiasaan yang sering ia lakukan ialah keluar istana sendirian mengamati kehidupan rakyat yang berada di wilayah kerajaannya.
Ia ingin lebih mengenal kehidupan rakyat jelata karena mereka adalah salah satu tulang punggung dimana kerajaan Adipura bisa berdiri. Pada suatu hari saat dia melihat seorang kakek-kakek yang sudah berumur sedang mengalami kesulitan.
Kakek itu terbaring tak bertenaga sambil memegangi perutnya secara terus-menerus di tepi pasar yang sangat ramai. Aryo mengamati keadaan dimana orang-orang yang berada di pasar enggan untuk mendekati kakek tersebut. Ia memahami alasan dibalik keengganan yang ditunjukkan oleh warga yang lain.
Sangat jelas di mata Aryo bahwa kakek yang terbaring tak berdaya tersebut memiliki sebuah penyakit kulit yang sudah teramat parah. Warga yang lain tidak berani untuk mendekatinya, mereka berpikir akan tertular jika bersentuhan dengannya.
Hati kecil Aryo tak tahan melihat hal itu, dari sekian banyak orang yang berada di pasar itu hanya dirinya yang mau mendekati kakek tersebut. Aryo melangkah perlahan mendekatinya ditemani pandangan orang-orang yang merasa heran atas sikap Aryo kali ini.
Aryi tak menghiraukan pandangan-pandangan orang-orang di pasar itu, ia terus melangkah menuju tempat kakek itu terbaring. Saat sudah dekat Aryo lantas menyapa kakek tersebut, "Kek, ada yang bisa cucu ini bantu?", Aryo bertanya pelan.
"Maakkannnn...... Maaakkkannnn... Maakkannn....", ucap lirih kakek itu.
Aryo sontak terkejut, walaupun suara kakek itu terdengar begitu kecil namun ia bisa mendengar dengan jelas. Ia baru menyadari bahwa tidak hanya tubuh kakek itu yang dipenuhi oleh penyakit kulitnya.
__ADS_1
Namun bagian tubuhnya tidak kalah memprihatinkan, tubuh yang sudah sangat renta itu hanya berisi tulang dan dibalut dengan kulit saja. Sangat jelas terlihat bahwa kakek ini kesulitan bergerak karena sedang menahan lapar.
Aryo menggigit bibirnya tidak tahan dengan suara rintihan laki-laki tua tersebut, tanpa pikir panjang lagi Aryo kemudian memanah tubuh renta tersebut memasuki pasar dan mencari kedai yang menjual makanan.
Tindakan Aryo sempat dihadang oleh para penjaga dari pedagang yang berjualan di pasar. Sontak saja ini membuat Aryo menjadi murka sesaat, ia sempat beradu mulut dengan para penjaga tersebut.
Namun semua itu segera selesai ketika beberapa warga mengetahui identitas dari Aryo yang sebenarnya. Mereka segera memberitahukan kepada yang lain bahwa pemuda yang membantu laki-laki tua tersebut tidak lain adalah pangeran mahkota kerajaan mereka.
Sontak para penjaga yang sempat beradu mulut dengan Aryo bergetar seluruh tubuhnya, mereka akhirnya mengetahui identitas pemuda di depan mereka sekarang. Tanpa menunggu lama mereka meminta maaf dan memberi hormat kepada Aryo sambil berlutut.
Aryo sempat punya niatan untuk memberi para penjaga itu perhitungan namun suara lirih kakek-kakek yang sedang dipapahnya itu kembali menyadarkannya dari emosi sesaat. Aryo berkata pelan dan memaafkan tindakan mereka barusan, tidak menunggu lama ia kemudian kembali malnjutkan langkahnya mencari kedai makanan yang sedang buka.
***
Kerumunan orang-orang yang berada di pasar sontak segera memberi jalan untuk Aryo, bahkan beberapa dari mereka mencoba mendekat untuk membantunya. Aryo kemudian lantas bertanya dimana kah kedai makanan yang mempunyai makanan enak di pasar itu.
"Mari hamba antarkan kesana pangeran", salah satu warga mengajak Aryo menuju kedai makanan.
Tidak butuh lama akhirnya Aryo sampai di sebuah kedai makanan yang cukup ramai pengunjungnya, tanpa basa-basi ia kemudian meminta warga yang ikut bersamanya memesan tempat dan memesan hidangan untuk kakek yang ia bawa.
Warga itu segera menjalankan perintah dari Aryo, sedangkan Aryo dan kakek tua duduk di kursi paling pojok dari kedai makanan itu. Ia sengaja mengambil tempat itu mengingat sudah beberapa pengunjung yang kini berhenti makan dan memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut.
Hampir separuh pengunjung kedai itu keluar barulah hidangan yang dinantikan oleh Aryo tiba. Dari jauh ia bisa mencium aroma yang sangat wangi dan menggugah selera, kakek yang ia bawa tadi sontak berdiri tegap ketika aroma itu menyerang indera penciumannya.
"Makanannnn....", suara kegirangan jelas keluar dari mulut kakek tua.
"Maaf menunggu lama pangeran, ini hidangan khas kedai kami", wanita muda itu kemudian meletakkan makanan di meja mereka berdua.
Belum sempat Aryo mengucapkan terima kasih kakek tersebut lantas bergerak cepat meraih pot yang terbuat dari tanah liat sebagai tempat makanan itu. Dengan lahap kakek itu memakan habis tanpa ada yang tersisa.
"Aku pesan satu lagi, ahhh... dua lebih bagus", kakek itu memberi arahan dengan menggunakan kedua jarinya.
__ADS_1
Wanita muda itu menoleh ke arah Aryo dan mendapati anggukan kepala dari Aryo tanda setuju dengan permintaan sang kakek. Setelahnya wanita mudah itu berbalik badan dan mulai beranjak menuju dapur kedai kembali.
"Pangeran... Hem... Sepertinya anak muda yang menolong orang tua ini memiliki derajat yang tinggi", kakek tua itu kembali buka suara.
Aryo menoleh ke arah sumber suara dan mendapati tatap mereka kini saling bertemu, "Ak-aku hanya rakyat biasa kek", suara Aryo terbata-bata.
"Ha..Ha..Ha.. Tidak perlu merendahkan diri, orang tua ini bisa mendengar percakapan kalian tadi terutama waktu perdebatan di pasar tadi"
"Ma-maaf kek"
"Untuk apa cucu ku ini minta maaf, justru aku sangat tertolong hahaha", kakek itu menepuk pundak Aryo berulang kali.
Sikap yang ditunjukkan oleh kakek tua ini membuat Aryo canggung sejenak. Walaupun belum lama ini mengenalnya namun sikap tersebut seolah-olah seperti sikap seorang kakek terhadap cucunya.
Wajah dan keriputnya sudah sangat jelas menandakan bahwa kakek tersebut sudah sangat tua. Ia yakin jika dibandingkan dengan umur ayahndanya, perbedaan umur diantara keduanya pasti cukup jauh.
"Orang tua ini mau bercerita sesuatu hal, apa cucu ku ini bersedia mendengarkan cerita ini?"
_____________________________________________
Halo selamat pagi semuanya 😀
Maaf ya udah 4 hari saya gak update episode baru, urusan saya belum sepenuhnya selesai.
Kemarin ada waktu luang sebentar jadi saya mencoba menulis kembali, namun mood berkata lain. Niatnya mau nulis eh ada aja masalah yang bikin malas mau nulisnya.
Tapi hari ini saya coba update 2-3 episode untuk setiap pembaca setia novel Takdir Kerajaan Adipura, terima kasih banyak telah mengikuti cerita karangan saya ini.
Terima kasih sekali lagi saya ucapkan atas like, komentar dan dukungan anda semua yang telah membantu saya untuk terus menulis karya ini dan itu sangat membantu.
Sampai jumpa di episode selanjutnya, salam hangat dari author 😀
__ADS_1