Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
56. Ketenangan Sesaat II


__ADS_3

Angin malam berhembus pelan mengiringi kesunyian malam ini, beberapa prajurit berdiri atau duduk berkumpul di sisa-sisa bara api sekedar untuk menghangatkan diri.


Masih dalam situasi perang membuat mereka harus selalu waspada baik siang maupun malam. Musuh sudah mengetahui letak markas mereka, bukan tidak mungkin musuh akan menyerang dalam kegelapan malam.


Mereka yang berhasil lolos dari serangan kerajaan Kendala saat Aryo masih menjadi raja kerajaan Adipura masih mengingat jelas peristiwa itu. Karena terlalu terlena dengan hiburan saat diadakan acara pernikahan 7 hari 7 malam lantas membuat mereka menurunkan kewaspadaan.


Hal itu pulalah yang menjadi titik kesalahan terbesar yang telah mereka buat, karena tidak ingin kecolongan lagi mereka yang masih mengingat peristiwa itu lantas berjaga semalaman di benteng.


“Shhhhuuttt.... Tunggu aba-aba dari menteri, jangan ada yang bergerak sendiri!”, perintah Patih yang melapor ke tenda raja Jaka. Kini dia ikut dalam misi penyusupan ke benteng lawan bersama menteri Balda.


Menteri Balda sekarang berada di depannya, ia sedang mengamati penjagaan yang dilakukan pasukan pemberontak. Matanya begitu liar dan sangat cepat, tidak lama kemudian dia berbalik badan ke arah Patih itu, “Sudah saatnya, jalankan sesuai rencana!”, perintahnya dengan nada pelan.


Pasukan pimpinan menteri Balda mulai bergerak atas perintahnya barusan. Mereka bergerak senyap dan pelan agar misi penyusupan ini berhasil dilakukan. Menteri Balda sudah memikirkan matang-matang rencana penyusupan ini, bahkan dia tidak segan meminta dukungan dari wanita muda untuk meminjam pasukan suku kulit hitamnya.


Pasukan suku kulit hitam berlari dengan cepat ke sisi benteng yang minim penjagaannya, menteri Balda memberi perintah agar mereka yang maju duluan untuk mengamankan area itu.


Dengan kekuatan di atas rata-rata pasukan suku kulit hitam ini dengan mudah mendekati sisi benteng tersebut, ketika menurut mereka sudah aman mereka lantas memberi aba-aba untuk pasukan lain untuk segera maju.


“Cepat bergerak dan jangan menimbulkan suara apapun!”, menteri Balda memberi perintah kepada pasukan kembali.


Kemudian pasukannya bergerak berkelompok dengan satu kelompok terdiri dari dua puluh orang lebih. Saat kelompok itu sampai mereka lantas melemparkan tali yang sudah diikat besi berbentuk kail untuk memanjat tembok benteng.


Pasukan ini sangat terlatih, dalam waktu singkat tali-tali itu sudah siap digunakan. Mereka merupakan pasukan yang dikhususkan dalam misi seperti ini, atas ajaran dari menteri Balda sendiri.

__ADS_1


Karena keahlian yang ditunjukkan pasukannya membuat menteri Balda beserta pasukannya dikenal sebagai pasukan serigala hitam, begitu cepat dan senyapnya gerakan pasukan mereka membuat siapa saja tidak akan mengetahui bahwa mereka telah menyusup ke daerah lawan.


“Tali-tali itu sudah siap menteri”


“Bagus, segera panjat dan habisi pasukan penjaga mereka terlebih dahulu!”


“Baik menteri”, Patih yang bersama menteri Balda lantas bergerak menuju arah pasukan yang telah menyiapkan tali untuk memanjat tembok benteng.


Patih itu sendiri adalah orang pertama yang mulai memanjat diikuti oleh beberapa pasukan serigala hitam dan suku kulit hitam. Mereka bergerak perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang akan mengundang pasukan penjaga lawan ke arah mereka.


Tidak butuh waktu lama kini mereka sudah berada di atas tembok benteng, mereka yang telah sampai di atas bertugas untuk berjaga jikalau pasukan penjaga akan ke arah mereka. Waktu berjalan begitu cepat, namun tidak satupun penjaga yang mereka dapati. Dengan kondisi seperti ini memudahkan pasukan yang masih di bawah untuk naik segera ke atas tembok benteng.


“Bagaimana situasinya?”, tanya Patih kepada prajurit yang ditugaskannya melihat pergerakan penjagaan pasukan pemberontak.


“Semuanya terkendali sampai saat ini Patih, musuh belum mengetahui bahwa kita sudah berhasil menyusup ke markas mereka”, prajurit itu menyampaikan pengamatannya dengan sedikit berbisik.


“Baik Patih!”


“Menyebar!”, perintah Patih menutupi pembicaraan.


Kini pasukan serigala hitam mulai menyebar dan mulai melancarkan aksi penyusupan mereka. Pasukan pemberontak yang berjaga di atas benteng tidak pernah menyangka bahwa malam ini akan menjadi malam yang penuh darah nantinya.


Keheningan malam serta angin yang berhembus pelan membuat mereka agak sedikit menurunkan kewaspadaan, rasa lelah dan kantuk menyerang saat hembusan angin itu menerpa tubuh mereka.

__ADS_1


Pasukan serigala hitam terus menyusup ke dalam markas musuh, tiap prajurit pasukan pemberontak yang mereka temui akan mereka habisi dengan cepat. Pembunuhan yang sangat singkat serta teratur membuat aksi penyusupan itu berjalan dengan mulus, tidak sedikit pasukan pemberontak yang menjadi korban dari aksi penyusupan pasukan lawan malam ini.


***


Aryo berlari dalam ruang yang gelap, nafasnya terengah-engah sebab sudah lama ia berlari namun ruangan itu seolah menguncinya dan tidak ingin membiarkannya keluar.


Matanya liar mencari jalan keluar dari ruangan gelap tersebut namun semua usaha yang ia lakukan semuanya hanya sia-sia.


Ketika ia hendak menyerah tiba-tiba saja sebuah cahaya kecil muncul dari salah satu sudut ruangan gelap tersebut. Dengan penuh harapan ia kemudian melangkah perlahan menuju sumber cahaya itu dan mendapati bahwa cahaya itu menuntunnya keluar dari ruangan gelap yang menjebaknya.


Matanya menyipit begitu ia keluar dari ruangan gelap itu, setelah mengikuti cahaya kecil itu ia mendapati keberadaannya sekarang berada di sebuah taman yang begitu indah.


Taman itu begitu lengang namun suasana yang terasa sangat nyaman dan menyejukkan hatinya. Rasa lelah yang ia alami ketika berada di ruangan gelap tadi kini sudah menghilang, ia masih berjalan menyusuri sebuah jalan yang menuntunnya ke sebuah danau yang begitu indah.


Angin menghembus pelan menerpa wajahnya, begitu nikmat dan menenangkan. Saat masih menikmati angin yang berhembus tiba-tiba saja dari arah belakang ia mendengar lantunan lagu yang sangat merdu.


Aryo mengenali lantunan lagu tersebut begitu pula suara merdu yang mendayu itu, iya betul itu suara dari istri tercintanya, Sinta. Ia berbalik badan dan segera menemukan istrinya duduk tak jauh dari posisinya berdiri.


Dengan wajah riang dan rindu yang teramat dalam Aryo lantas melangkahkan kakinya menuju tempat istrinya berada. Saat dirinya mencoba mendekat saat itu pulalah tiba-tiba istrinya menghilang dari pandangannya.


"Dindaaaa..."


Aryo terperanjat karena istrinya kini sudah menghilang, ia melihat ke sekeliling mencoba mencari keberadaan Sinta namun usahanya hanya sia-sia. Wajahnya menunjukkan tanda kepanikan sebab baru saja ia merasa bahagia namun kini kehilangan sedang melanda hatinya.

__ADS_1


“Kanda, anak kita sebentar lagi akan lahir. Apa kanda sudah memikirkan nama yang bagus untuk anak kita nanti?”


Aryo terperanjat dari posisinya berdiri, suara seorang wanita begitu jelas terdengar di samping telinganya. Ia melompat menjauh dari posisi awal dan ketika ia melihat ke arah sumber suara jantungnya berdetak sangat kencang.


__ADS_2