
"Marda, apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?", menteri Balda berdiri di depan Patih Marda yang kini sudah terduduk lemas.
Pedang menteri Balda kini sudah menempel di lehernya, dengan sisa-sisa tenaganya ia mengangkat kepalanya dan berbicara, "Akan ku tunggu kau di neraka!", ucap Patih Marda lirih.
Menteri Balda menjadi berang dengan ucapan yang dilontarkan oleh lawannya, dengan satu gerakan ia langsung menebas leher Patih Marda hingga putus.
Patih Marda tidak bisa berbuat banyak, selain kurang ahli dalam pertarungan jarak dekat dia juga mengalami luka dibagian kaki yang terus mengeluarkan darah karena harus terus bergerak. Sebab itulah akhirnya Patih Marda harus gugur malam itu dengan sangat mengenaskan di tangan menteri Balda.
Situasi di gerbang hampir didominasi oleh pihak penyerang, kematian Patih Marda membuat penjaga istana kehilangan semangat tempur mereka dan musuhnya mengambil kesempatan itu untuk terus maju sampai ketempat kediaman raja Adipura.
“Jangan lewatkan siapapun, baik itu tamu laki-laki, perempuan, anak-anak yang kalian jumpai. Bunuh mereka semua!” perintah menteri Balda kepada pasukannya.
Pasukan kerajaan Kendala terus menerjang masuk dan menyerang siapa saja yang berhasil mereka temui. Di sekitar gerbang mayat prajurit kerajaan bergelimpangan dan sekarang para tamu yang tidak punya salah apapun juga ikut terkena imbas dari penyerangan ini, mereka dibantai dengan sangat sadis tanpa belas kasihan.
Jeritan ketakutan dan jeritan kesakitan terus menggema malam itu membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi para penyerang seolah menikmati pembantaian itu, seperti ada dendam pribadi ketika pedang dan tombak mereka menusuk dan menebas para tamu kerajaan Adipura.
Prajurit kerajaan Adipura berjumlah 15.000 namun kekuatannya hanya sebatas pendekar serigala tingkat 3. Ketika serangan ini terjadi sebagian nya berada di kediaman raja dan sebagian lagi berjaga di pintu gerbang.
Menang jumlah tidak bisa menutupi kemenangan dalam hal kualitas buktinya setengah dari prajurit kerajaan Adipura sudah banyak gugur dalam penyerangan ini.
Tidak lama setelah pembantaian para tamu pasukan penyerang kembali bergerak ke arah kediaman raja namun dihadang oleh prajurit yang berjaga disana. Tidak banyak yang bisa buat oleh prajurit kerajaan Adipura yang menghadang ini, dikarenakan sekarang posisi mereka seperti dikepit oleh dua kekuatan besar.
__ADS_1
Dari arah gerbang mereka harus berhadapan dengan pihak penyerang dan dibelakang mereka rekan-rekannya sedang menghadapi setan merah yang sedang mengamuk dibantu Patih yang berada di sana.
“Lebih baik mati daripada lari dari situasi ini!”, teriak salah satu prajurit untuk menyemangati rekan-rekannya.
“Keluarkan segenap kemampuan kalian jangan biarkan musuh berhasil melewati kita!”, tambah salah satu prajurit lagi.
Pasukan penjaga pun kini mulai bertempur dengan pasukan penyerang, dengan cepat lautan mayat tercipta menambah kengerian yang terjadi malam ini.
***
Suasana ditempat pelaminan yang awalnya bersih sekarang telah dipenuhi dengan simbahan darah dan kepala yang terlepas dari tubuh pemiliknya. Malam itu setan merah seperti kerasukan dan tidak perduli tentang apapun, ia terus membantai orang yang berada didekatnya dengan begitu kejam bak seperti iblis yang melahap tumbalnya.
Pasukan penjaga serta para Patih saling bahu membahu untuk melawan kebengisan yang setan merah lakukan. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan agar bisa menghentikan aksi setan merah.
Pemandangan yang sangat mengerikan itu sungguh membuat siapapun akan merasa tidak enak dan ingin mengeluarkan isi perut mereka.
Bahkan pria misterius yang menjadi rekan setan merah sedikit merasakan ngeri ketika melihat setan merah yang telah membantai orang-orang serta prajurit sedang meminum darah langsung dari kepala orang terakhir yang telah dipenggal dengan pedangnya.
“Aku sering meminum darah seorang pendekar yang ku bunuh, namun rasanya masih kurang. Mungkin darah seorang bangsawan akan terasa lebih enak” ucap setan merah setelah selesai meminum darah dan melemparkan kepala tersebut kedekat para bangsawan yang mematung karena ketakutan.
Pandangan semua orang tertuju kepada kepala yang menggelinding namun hanya sebentar dan beralih lagi ke arah setan merah. Setelah ucapan setan merah tadi nampak mata setan merah mulai memancarkan sinar merah kehitaman seperti darah.
__ADS_1
Tubuhnya mulai bergetar hebat ditambah erangan yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan bergidik ngeri, tak lama kemudian terjadilah fenomena yang tidak pernah orang-orang lihat sebelumnya.
Perlahan tapi pasti dari balik topeng yang dipakai oleh setan merah, tepat di keningnya mulai timbul tanduk hitam menembus topeng tersebut membuat wajah setan merah akhirnya dilihat oleh lawan-lawannya. Wajahnya tidak seperti manusia lagi namun sudah seperti makhluk demit yang menjadi musuh alami manusia.
Ini merupakan ritual ilmu hitam yang digunakan oleh setan merah dengan kerjasama langsung dari iblis. Setan merah bisa mendapatkan kekuatan lebih ketika dia perlu namun sebagai gantinya banyak nyawa harus menjadi bayarannya. Kini bersama-sama pria misterius setan merah maju serempak dan menyerang raja Aryo dan berniat membunuhnya.
“Lindungi raja!” perintah Patih Yarna kepada semua Patih didekatnya yang segera dilakukan oleh setiap Patih yang ada. Mereka sekarang menjadi benteng hidup untuk melindungi rajanya dari marabahaya.
Pria misterius tidak banyak mempertanyakan kondisi setan merah karena dia tidak mau menyinggung sosok seperti ini. Ilmu hitam atau lebih dikenal ilmu dukun memang tersohor dalam setiap padepokan aliran hitam hanya saja dia tidak menyangka bahwa rekan yang dia ajak untuk penyerangan ini akan menunjukkan ilmu hitam di depan matanya malam ini.
Benteng hidup yang melindungi raja Aryo serta permaisuri nyatanya tidak bertahan lama, satu per satu Patih yang menghadapi setan merah dan pria misterius harus gugur dengan cepat.
Karena situasi terus menerus tidak mendukung, Patih Yarna mengambil tindakan tegas. Ia memerintahkan agar raja Aryo pergi dari tempat ini segera mungkin.
“Pergi paduka! Kami akan menahan mereka disini. Cepat sebelum semuanya terlambat!”, pinta Patih Yarna kepada raja Aryo agar segera pergi mencari tempat perlindungan.
Raja Aryo tidak langsung menuruti permintaan tersebut karena dia sangat ingin membantu para Patih yang menjadi benteng hidup. Namun situasi sekarang tidak mendukungnya, istrinya mulai terlihat lemas dan mungkin sebentar lagi akan pingsan karena pemandangan yang tidak enak dari tadi. Wajahnya memucat dengan mata yang melotot melihat darah mengalir di lantai singgasana raja.
"Percayakan ini semua pada kami!", pinta Patih Yarna kembali. Setelah kembali diyakinkan oleh Patih Yarna akhirnya raja Aryo memilih untuk mengungsikan diri bersama istrinya.
“Dinda kita harus pergi menjauh dari tempat ini”, raja Aryo meraih tangan istrinya lalu mengendong istrinya yang kini sudah lemas dan dingin.
__ADS_1
Benar saja ketika raja Aryo sudah disampingnya ratu Sinta akhirnya pingsan karena sudah tidak kuat lagi dengan keadaan yang persis ia alami saat masih kecilnya.