Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
16. Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Aryo dan pria sepuh kini melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kuda masing-masing. Keduanya melambaikan tangan ke arah Ki Ratno dan kemudian langsung memacu kuda mereka dengan cepat, tidak butuh waktu lama keduanya mulai hilang dari jarak pandang Ki Ratno.


Ki Ratno masih memperhatikan mereka berdua sampai keduanya hilang dari pandangannya. Matanya terus mengarah ke jalan yang dituju oleh Aryo dan pria sepuh. Dia menghela nafas pelan sebelum mulai berbicara, “Sampai kapan kalian terus bersembunyi seperti ini?”, Ki Ratno berucap pelan.


Tidak lama kemudian kabut mulai datang dan menyelimuti sekitar pondok Ki Ratno, dari kabut tersebut mulai tampak dua sosok yang memakai baju begitu indah dengan penuh hiasan yang menyilaukan mata.


Sosok itu memiliki kulit bersih seperti susu dan saat melihatnya orang-orang akan takjub akan ketampanan ataupun kecantikan yang terpancar di wajah mereka.


“Engkau memang memiliki hati yang lembut Bayu, namun harus kau mengerti ini sudah garis takdir anak muda itu”, ucap seorang wanita dari balik kabut dan perlahan mulai menunjukkan wujudnya.


“Betul yang dikatakan Dewi Banyu, kita hanya harus menjalankan tugas dan menjaga sampai waktu kelahiran. Aku tahu betapa sedihnya engkau Bayu, namun bayi dari anak muda itu akan menjadi anak yang istimewa serta memiliki tugas penting untuk dunia ini”, lanjut pria yang terlihat masih muda dan memiliki wajah sangat bersih namun tegas.


“Tapi...”, Ki Ratno mencoba menyela namun omongannya langsung dipotong oleh pria tadi.


“Cukup Bayu, ini perintah Dewa Akasa. Engkau pasti tidak ingin hidup terlalu lama di dunia ini bukan?", potong pria itu.


Ki Ratno terdiam sejenak, suara dari pria itu seperti petir yang menyalak di samping telinganya, melihat reaksi lawan bicaranya demikian membuat pria tadi kembali melanjutkan omongannya, "Ingatlah bahwa keegoisan mu dahulu telah membawa mu kedalam kondisi seperti ini. Sekarang cukup jalani tugas mu sekarang sebagai syarat penghentian hukuman yang sedang kau jalani", sambung pria tadi.


Ki Ratno kini terdiam dan menundukkan pandangannya ke bawah mengingat dia sedang menjalani hukuman dari Dewa Akasa untuk hidup di bumi. Dia masih mengingat jelas apa yang menyebabkan ia harus menjalani hukuman ini, dia memejamkan mata lalu menghembuskan nafas pelan.


Dia lalu menatap kedua sosok di depannya yang tidak lain adalah Dewi Banyu yang merupakan dewi air dan Dewa Bledheg atau biasa disebut dewa petir. Sedangkan Ki Ratno sendiri adalah Dewa Bayu yang memiliki tugas mengendalikan angin.

__ADS_1


Ki Ratno kembali menghela nafas pelan dan raut wajahnya mulai menunjukkan harapan agar semuanya membaik dan sesuai dari coretan takdir dimasa depan.


“Baiklah jika ini memang yang terbaik aku akan menjalankan perintah Dewa Akasa”, Ki Ratno berkata pelan.


"Bagus, seharusnya itu yang engkau katakan sedari tadi"


"Mari kita pergi dari tempat ini"


Setelah ucapan itu Dewi Banyu dan Dewa Bledheg menganggukkan kepala bersama dan seketika petir besar menyambar ke arah mereka dengan sangat cepat.


Dalam sekejap tubuh ketiga orang itu hilang tanpa jejak dan hanya meninggalkan pondok tua milik ki Ratno sebelumnya.


***


“Paman kenapa ada petir disiang hari begini? Bahkan tidak ada awan hitam jika memang ada hujan sebentar lagi”, Aryo bertanya karena penasaran.


“Hamba tidak yakin tuan muda, sepertinya tempat kita berteduh kemarin dan orang yang menempatinya bukan orang biasa", pria sepuh menjawab pertanyaan dari Aryo dengan ragu.


Keduanya berhenti sambil memandang satu sama lain, "Hamba tidak terlalu yakin tuan muda, sedari tadi malam kita sudah menemukan banyak keanehan yang baru kita lihat sampai sekarang. Menurut hamba sesepuh yang kita jumpai ialah pendekar tingkat tinggi yang sudah lama hidup di dunia ini”, pria sepuh menerangkan.


“Sepertinya perkataan paman benar, selama hidup ku baru kali ini aku menemui fenomena seperti itu. Aku harap ke depannya tidak akan pernah menemui hal itu lagi”, gumam Aryo karena masih merasa merinding membayangkan peristiwa yang dialaminya belum lama ini.

__ADS_1


Walaupun sampai sekarang mereka tidak menemukan hal yang dapat mencelakai mereka namun perasaan takut tidak dapat mereka hindari.


“Mari tuan muda kita lanjutkan perjalanan, kita harus sampai secepat mungkin di markas", ajak pria sepuh.


Aryo menjawab dengan anggukan kepala, dia dan pria sepuh kembali memacu kudanya dengan harapan segera tiba di markas lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.


Keduanya terus bergerak tanpa berhenti, melewati jalan khusus di hutan yang sepi dimana markas mereka tersembunyi dengan sempurna. Tepat siang hari akhirnya keduanya berhasil sampai di markas tempat mereka menyusun rencana untuk memberontak atas kepemimpinan pemerintahan raja Jaka yang terkenal bengis dengan rakyat.


Baru saja mereka masuk ke dalam markas, saat itu pulalah seorang prajurit menghampiri mereka seraya memberi hormat. Prajurit itu langsung menyampaikan bahwa di dalam ruang rapat sudah menunggu raja Gandi dari kerajaan Gundala, raja Pawan dari kerajaan Benggawan, serta ratu Arum dari kerajaan Surka.


Ketiga penguasa ini sepakat membantu Aryo untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan raja Jaka serta mengambil kembali hak dari Aryo sebagai raja kerajaan Adipura yang sah.


Ketiganya raja dan ratu ini merasa punya hutang budi kepada mendiang ayahnya Aryo yakni raja Aryi Wajendra dan menganggap mendiang sangat berjasa dalam kemajuan kerajaan mereka.


Semasa kepemimpinan beliau ketiga kerajaan ini dirangkul menjadi satu sehingga menumbuhkan rasa persaudaraan yang begitu kuat dimana kerajaan Adipura sebagai kakak tertuanya.


Setelah raja Jaka berhasil melakukan kudeta dan mengusir Aryo dengan paksa dari istana, raja Jaka mulai melakukan politik yang menguasai berbagai sektor industri dan mulai menekan ketiga kerajaan kecil ini dengan berbagai cara licik yang ia punya.


Raut wajah ketiganya terlihat khawatir karena permasalahan yang mereka hadapi sangat buruk dan berakibat fatal nantinya. Pertemuan ini bertujuan untuk mendiskusikan langkah selanjutnya yang akan mereka lakukan nantinya.


Salah satu prajurit dari kerajaan Gundala memasuki ruang rapat, "Tuan muda Aryo telah datang!", prajurit itu memberi tahu kepada setiap tamu yang ada di dalam ruangan rapat.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Aryo ditemani pria sepuh masuk ke dalam ruangan rapat, semua tamu berdiri dan memberikan hormat kepadanya. Aryo menanggapi dengan senyuman hangat dan setelahnya ia berjalan menghampiri tempat duduk dimana pemimpin dari tiga kerajaan aliansinya.


“Maaf membuat raja dan ratu menunggu kedatangan saya, saat diperjalanan kami menemui sedikit kesulitan sehingga terlambat sampai disini”, Aryo memberi hormat kepada ketiga raja dan ratu serta menyampaikan permohonan maafnya.


__ADS_2