Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
65. Aryo vs Menteri Balda II


__ADS_3

Raja Jaka tak pernah bisa tenang jika saudaranya masih hidup, ia yakin saudaranya akan menghimpun kekuatan untuk menggulingkannya dari tahta kerajaan Adipura. Oleh karena itu selama setahun raja Jaka terus melakukan teror yang ditujukan kepada Aryo dan keluarganya.


Ingatan itu melintas dengan cepat dalam pikirannya, membuat amarah dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Ia menggertakkan giginya bersiap maju untuk menyerang ke arah menteri Balda. Dengan keris Bagaskara serta pedang rampasan Aryo kemudian maju menyerang.


Menteri Balda yang melihat lawannya menuju ke arahnya hanya diam sambil tersenyum mengejek, "Terlalu cepat puluhan tahun untuk kau mengalahkan ku! Akan ku buat kau mengerti binatang!", menteri Balda menarik pedangnya dan kemudian beradu serangan dengan Aryo.


Duel diantara keduanya kini sudah tak terelakkan, berbagai macam jurus serta serangan dikerahkan demi mengalahkan satu sama lain. Aryo dengan segenap kemampuannya menyerang penuh semangat membara untuk membalaskan kematian ayahnya, sementara menteri Balda menanggapi serangannya dengan senyuman mengejek terus terpasang di wajahnya.


Duel mereka berdua menjadi duel terpanas yang sedang terjadi di pertempuran malam ini. Mereka terus bertukar serangan demi serangan dengan sangat gencar sehingga membuat prajurit lain tidak berani berada di dekat mereka berdua.


Aryo menyerang menggunakan pedangnya sementara keris Bagaskara ia gunakan untuk menangkis serangan lawannya. Sementara menteri Balda terus mencoba menahan serangan lawannya. Baginya serangan dari Aryo bukan apa-apa namun ia tidak ingin kecolongan karena terlalu santai.


Permainan pedang dari Aryo memang bagus namun kekuatan diantara keduanya jelas sangat terlihat. Aryo sudah mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menekan lawannya namun satu serangan pun tak berhasil ia torehkan ke tubuh lawannya.


Bahkan permainan pedangnya dengan mudah dipatahkan oleh menteri Balda, ia berkesimpulan bahwa jika terus bertarung lebih lama lagi maka ia yang akan menjadi pihak dirugikan nantinya.


Menteri Balda tersenyum sambil menangkis serangan dari Aryo, "Bakat yang bagus untuk seorang calon mayat", senyuman mengejeknya semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Ia sengaja berkata demikian untuk memancing amarah dari lawannya, dengan itu ia yakin lawannya akan murka dan tanpa sengaja menunjukkan celah untuknya melancarkan serangan mematikan.


Namun Aryo bukan lah tipikal orang yang dipikirkan oleh menteri Balda, dengan didikan yang baik serta dukungan dari keluarga tercintanya membuat watak bijaksananya sudah terbentuk sedari ia masih kecil.


Aryo hanya menanggapi perkataan dari lawannya sebagai angin lalu saja, walaupun lawannya sempat menghina ayah tercintanya namun ia tidak ingin gelap mata. Dalam perang kematian adalah teman terdekat yang selalu menemani disetiap saat.


Aryo lantas tersenyum ke arah menteri Balda, "Apa yang berasal dari tanah, tentu akan kembali ke tanah. Jika takdir sudah ditentukan, maka kematian adalah hal terakhir yang akan kau dapatkan", Aryo bergerak mundur setelah mengucapkan kata itu.


"Harus ku akui bahwa kau lebih bijaksana dari orang yang sedang memerintah kerajaan Adipura saat ini. Dia hanya mementingkan keuntungan untuk dirinya sendiri sampai rela mengorbankan rakyatnya....", menteri Balda menatap ke arah Aryo sejenak sebelum menancapkan pedangnya ke tanah, "Sementara kau berdiri disini mengorbankan jiwa dan raga untuk melawan kejahatan yang telah dibuat oleh saudaramu itu. Bagaimana bisa dua bersaudara begitu jauh sifatnya satu sama lain?", menteri Balda terus menatap ke arah Aryo.


"Apa yang kau bicarakan?!", Aryo menatap tajam ke arah menteri Balda.


Aryo sempat dibuat keheranan karena tingkah laku lawannya saat ini, saat keduanya sedang panas-panasnya bertarung mengapa sekarang ia terlihat begitu santai tanpa beban apapun.


Dan pertanyaan yang dilontarkan oleh lawannya begitu mengganjal baginya, ia kemudian menancapkan pedangnya ke tanah dan menyarungkan keris Bagaskara sebelum menjawab pertanyaan dari lawannya tersebut.


"Dia saudara ku namun kami dilahirkan oleh ibu yang berbeda, dia memiliki watak ibunya yang juga keras kepala dan itu menurun kepadanya", Aryo mulai menjelaskan jawaban dari pertanyaan lawannya.

__ADS_1


"Ha... Ha... Ha... Pantas saja sikapnya sangat susah diatur, jika dapat memilih kembali kami tidak akan membantu orang seperti itu yang memimpin dengan tangan besi. Haahhh.... Memikirkannya saja sudah membuat ku pusing", menteri Balda menggelengkan kepala berulang kali.


"Bicara apa kau!!! Aku yakin dibalik kesengsaraan rakyat kerajaan Adipura ada campur tangan dari kalian orang-orang kerajaan Kendala!!! Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan, aku tahu bahwa kalian bertindak dibalik layar dalam kepemimpinan Jaka!!!", Aryo menjadi geram sesaat, namun emosinya itu kemudian perlahan menurun.


"Apa yang dimaksud dari pembicaraan tadi?!", batin Aryo.


Seolah tahu dengan isi hati Aryo, menteri Balda lantas berbicara kembali, "Aku tidak sepenuhnya mendukung rencana kudeta saat kau masih menjadi raja dahulu, hanya saja tugas ku sebagai tangan kanan kerajaan Kendala harus membuatku mematuhi segala perintah yang ditanggungkan kepadaku. Aku tidak punya kuasa untuk menolak perintah langsung dari raja kami untuk membantu saudara kau dulu", menteri Balda menerangkan alasannya membantu kudeta raja Jaka dua tahun yang lalu.


Aryo mendengarkan penjelasan dari menteri Balda hingga selesai, setiap ucapan dari menteri Balda berhasil ia tangkap maksudnya. Namun ia lantas tak ingin terlalu cepat percaya.


"Kalau memang demikian lantas apa pengaruhnya?! Kerajaan Kendala tidak pernah ingin berhubungan baik dengan kerajaan Adipura. Kami tidak pernah membuat kesalahan apapun terhadap kalian dan mengapa kalian teramat membenci kerajaan kami?!", nafas Aryo naik turun menahan emosinya yang hendak meledak.


"Untuk permasalahan itu aku tidak punya hak untuk menjawabnya, ada yang lebih pantas dalam hal itu", menteri Balda menarik pedangnya yang tertancap dari tanah, "Jika kau mampu mengalahkan ku akan ku bawa kau ke hadapannya. Namun aku beritahu lebih dulu, itu akan menggunakan usaha yang tidak main-main. Nyawamu adalah taruhannya! Ha... Ha... Ha..."


Aryo hampir mengumpat mendengar tawa dari lawannya saat ini namun ia segera menyiapkan diri karena lawannya sudah mengambil sikap untuk bertarung kembali. Tidak lama kemudian ia ikut mencabut pedangnya sementara keris Bagaskara tetap berada di sarungnya, ia berencana menggunakan keris Bagaskara di saat-saat genting saja.


Aura pertarungan diantara keduanya kembali mengisi udara membuat prajurit yang sedang bertarung enggan untuk berada di dekat pertarungan mereka berdua.

__ADS_1


Menteri Balda bergerak lebih dahulu untuk menyerang lawannya sementara Aryo bersiap menerima serangan dari lawannya. Pedang mereka kini beradu dan menciptakan percikan api yang membuat suasana duel mereka menjadi semakin panas.


Tidak ada yang memikirkan situasi perang sekarang berada di pihak mana, mereka berdua lebih fokus untuk saling bertarung dengan kemampuan yang ia miliki. Menteri Balda sempat dibuat terkejut dengan ketahanan dari Aryo, padahal kekuatan diantaranya terpaut cukup jauh namun Aryo bisa bertahan dari tiap serangan yang ia lancarkan.


__ADS_2