
“Apa yang ku lakukan? Ah... Iya rencana Patih Purno!”, Aryo baru saja terbangun dari keterkejutannya, dia lantas mencoba mengingat apa yang harus dilakukannya dan dalam sekejap menemukannya. “Cepat mundur!!!”, Aryo kembali berteriak kepada pasukannya.
Mendengar perintah dari Aryo, pasukan pemberontak langsung bergerak mundur sedangkan pasukan yang berada di dekat lawan bertugas untuk melindungi rekannya dari kejaran pasukan lawan.
Melihat pasukan pemberontak mundur membuat pria misterius tertawa di atas kudanya, belum sampai dia ke medan perang nyali dari lawannya telah membuat mereka lari pikirnya. Dia pikir lawannya mundur karena tidak ingin berurusan dengan pasukan berkudanya yang terkenal sadis di medan perang.
Dia mengumpulkan tenaga dalam lalu mengalirkannya ke pita suaranya, “Musuh sudah kewalahan! Serang mereka habis-habisan!”, perintah pria misterius kepada pasukan berkudanya.
Mereka lantas memacu kuda tersebut menjadi lebih cepat lagi, hentakan demi hentakan dari kaki kuda mereka yang bertemu dengan permukaan tanah membuat debu yang sangat pekat. Patih Purno yang melihat hal itu tersenyum, baginya itu adalah sebuah kesalahan besar.
Pasukan di depan tidak akan mendapat dampak dari debu itu, sementara yang berada di belakang mereka akan mendapatkan satu hal yang buruk. Hal itu pulalah yang sedang Patih Purno tunggu sedari tadi, karena debu yang sangat pekat tentu saja jarak pandang pasukan yang berada dibelakang menjadi sangat terbatas mengingat debu yang mereka dapatkan, ini merupakan sebuah peluang besar dalam rencana Patih Purno.
Patih Purno memberi aba-aba pada pria sepuh untuk bersiap-siap, pria sepuh menanggapi aba-aba dengan berseru lantang, “Pemanah bersiap!”, pria sepuh menyiapkan pasukan yang dipimpinnya. Dia terus melihat ke arah Patih Purno, menunggu aba-aba berikutnya.
"Tuan muda cepatlah mundur", batin pria sepuh berbicara. Matanya silih berganti memperhatikan Patih Purno dan pertempuran yang berlangsung saat ini.
Ingin rasanya ia mendampingi Aryo dalam pertempuran, namun ia sadar jika bergabung disana pasti akan berujung menjadi beban.
***
“Tuan muda saatnya giliran kita yang mundur”, Subani berucap kepada Aryo.
“Baik paman”, Aryo menjawab dengan singkat.
__ADS_1
Keduanya beserta pasukan yang bertugas menahan gerakan lawannya sekarang mundur dengan cepat, mereka berbalik badan dan berlari sekencang-kencangnya ke arah benteng pemberontak.
Pasukan kerajaan Adipura serta aliansinya sempat terpana karena aksi lawan mereka barusan, bagaimana mungkin lawannya memiliki stamina sebesar itu. Mereka berlari begitu cepat seperti sudah berlatih bertahun-tahun dalam ilmu meringankan tubuh, belum lagi mereka yang bertugas menjadi benteng hidup yang tentunya harus melawan banyak prajurit yang ingin merengsek maju ke depan.
“Cepat buka jalan!”, perintah salah satu Patih kepada pasukan kerajaan Adipura. Mereka diminta membuka jalan agar pasukan berkuda pria misterius bisa lewat dengan mudah dan menyerang pasukan lawan yang bergerak mundur dengan cepat.
Tidak butuh waktu lama pasukan berkuda pria misterius telah melewati mereka, “Cepat bergerak! Kita susul dari belakang!”, perintah Patih itu lagi.
Pria misterius tersenyum penuh kemenangan saat melihat lawan mereka kabur dari hadapannya, dia tidak menyangka bahwa perang ini bahkan tidak sempat membuatnya mengeluarkan pedangnya.
Namun baginya musuh yang mundur tetaplah musuh, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan memacu kudanya lebih cepat. Dalam sekejap kudanya berhasil mengejar salah satu pasukan pemberontak yang tertinggal jaraknya cukup jauh dari Aryo dan Subani.
Salah satu orang itu adalah pasukan yang dibawa oleh Subani dari padepokannya, dia adalah salah satu orang yang memiliki usia paling muda dari semua pasukan yang dibawa Subani.
***
Pemuda itu kemudian bersiap menghadapi lawannya, dia memasang kuda-kuda dan memegang golok yang menjadi senjatanya. Jarak diantara keduanya sudah dekat, dengan seluruh tekadnya dia melompat ke arah pria misterius berniat menebas lawannya dengan golok di tangannya.
Namun karena kekuatan yang terpaut sangat jauh membuat serangan itu menjadi sia-sia sahaja. Dengan mudah pria misterius menghindar dan memberikan luka tebasan tepat di perut pemuda itu.
Pemuda tersebut kemudian jatuh ke tanah dengan luka yang cukup parah, pria misterius memang tidak ingin membunuhnya. Dia ingin menyiksa lawannya tepat di depan mata pasukannya agar mereka menjadi bersemangat lagi.
Pria misterius lantas berbalik arah menuju laki-laki muda itu terkapar di tanah. Darah mengalir deras dari luka tebasan yang ia miliki, ia ingin berteriak namun tenaganya sudah habis untuk menahan sakit yang ia rasakan.
__ADS_1
Saat sudah dekat pria misterius kemudian turun dari kudanya membawa sebuah tali panjang yang dia sembunyikan di balik pelana kudanya. Pria misterius berniat mengikat lawannya namun melihat tatapan lawannya yang mengandung unsur kebencian terhadapnya membuat ia mengurungkan niatnya sementara.
"Hei bocah! Apa kau tidak takut mati?!", pria misterius berjongkok tepat di depan pemuda tersebut.
Cuuihhhh....
Pemuda itu meludah ke arah pria misterius tepat mengenai wajahnya. Dia kemudian tersenyum terkekeh karena telah meludahi wajah lawan yang telah membuatnya sekarat saat ini.
Mata pria misterius menjadi merah padam, dia kemudian berdiri lalu menendang kepala dari pemuda tersebut. Karena tidak punya tenaga untuk menghindar tendangan itu tepat mengenai kepala pemuda itu dengan telak.
Tendangan itu pulalah yang akhirnya mengakhiri nyawanya hari itu, pria misterius mengumpat. Ia sebenarnya ingin menyiksa terlebih dahulu lawannya, namun lawannya sudah meregang nyawa karena tendangan nya barusan.
Pasukan berkudanya baru saja tiba di tempatnya, mereka berhenti untuk menunggu aba-aba dari pemimpinnya. Dengan sigap pria misterius mengikat kaki dari pemuda itu dengan erat dan setelahnya dia menaiki kudanya. Dia memacu kudanya sekencang-kencangnya membuat tubuh pemuda yang sudah tak bernyawa itu terseret di permukaan tanah.
Subani yang melihat perbuatan dari lawannya kepada salah satu pasukan yang ia bawa membuat hatinya menjadi geram, dia mengutuk perbuatan yang telah dilakukan oleh lawannya tersebut.
Subani ingin berbalik arah menuju ke arah lawannya datang, namun dengan sigap Aryo menghalau gerakan dari Subani, “Aku tahu kemarahan yang paman rasakan. Tapi kita tidak ada waktu, rencana sudah disiapkan paman. Menghadapi mereka sekarang hanya akan mengantarkan nyawa! Sebelumnya kita sudah ditugaskan harus mundur apapun situasinya”, Aryo mencoba mengingatkan Subani yang ingin maju ke arah lawan.
“DIA MASIH SANGAT MUDA!!! AKU HARUS MENOLONGNYA!!!”, pekik Subani kepada Aryo.
Amarahnya benar-benar tidak dapat dibendung melihat perbuatan dari lawannya terhadap bawahannya barusan. Matanya merah melotot ke arah Aryo, Aryo yang melihat hal itu lantas terkejut dengan sikap dari Subani.
Menurutnya itu wajar karena barusan dia juga mengalaminya, amarah yang timbul akan membuat seseorang yang bahkan periang pun akan berubah menjadi liar karena amarah itu tadi.
__ADS_1