
Aryo dengan segala keterkejutannya mencoba tenang, “Paman, dia sudah tidak bisa diselamatkan! Dia sudah menerima konsekuensi bahwa mati adalah hal pasti di dalam perang ini, dia telah menjadi pendekar terhormat yang tidak pernah takut menghadapi lawan bahkan kematian sekalipun!”, Aryo kembali mengingatkan Subani dengan kata-katanya.
Subani yang awalnya marah akhirnya perlahan menjadi tenang, perkataan dari Aryo adalah hal fakta yang telah terjadi. Ketika seseorang menghadapi perang maka kematian yang akan menemani di segala aktivitas mereka.
Subani paham betul bahwa ini tidak dapat dihindari, dia menghembuskan nafas pelan dan menerima semua yang telah terjadi.
Keduanya berhenti cukup lama, jarak mereka dan pasukan berkuda lawan sudah terpaut cukup dekat. Tidak ada waktu lagi untuk lari, mereka akhirnya memutuskan diam di tempat.
Aryo menggenggam erat kerisnya sementara Subani mengeluarkan golok yang tersarung rapi di pinggangnya, mereka bersiap menghadapi pasukan lawan yang datang ke arah mereka.
“Terjang orang-orang itu!”, perintah pria misterius kepada pasukan berkudanya.
Dua orang mencoba menghadang ribuan pasukan berkuda yang bergerak maju adalah sebuah tindakan yang tidak masuk akal. Tindakan itu sama saja hanya akan mengantarkan nyawa, hanya orang bodoh atau tergolong nekat yang akan melakukannya.
Situasi yang sedang Aryo dan Subani alami sekarang karena faktor kesalahan mereka sendiri. Karena terlalu lama mengulur waktu hingga mereka lupa akan strategi yang telah disusun.
Laripun mereka pasti akan tetap tersusul, menurut Aryo lebih baik menghadapi lawannya sekarang. Begitu pula dengan Subani, ia lebih memilih menghadap ke arah lawan yang datang daripada lari dengan hasil yang mustahil didapat.
Saat jarak lawan mereka sudah hampir dekat tiba-tiba saja ribuan anak panah melesat jatuh ke kerumunan pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Hujan anak panah dengan cepat melesat turun membuat pasukan lawan berjatuhan, baik karena mengenai penunggangnya ataupun kudanya.
***
“Apa yang dilakukan mereka berdua?!”, Patih Purno bertanya-tanya dalam hatinya ketika melihat Aryo dan Subani yang berhenti dan bertengkar saat rencana mundur yang telah direncanakan sedang berlangsung. “Ini buruk, waktu yang diperlukan tidak ada lagi!”, umpatnya dalam hati.
Patih Purno melihat jelas jarak antara kedua rekannya dengan pasukan berkuda musuh telah dekat. Dengan berat hati dia memerintahkan kepada pria sepuh untuk melepaskan anak panah ke arah pasukan berkuda lawan.
Tidak menunggu lama pria sepuh memberi aba-aba pada pasukan pemanahnya, “Sekarang!!!”, perintah pria sepuh.
__ADS_1
Ribuan anak panah terlepas dari busurnya dan melayang di atas udara menuju ke arah lawannya. Patih Purno memerintahkan agar panah tersebut harus ditujukan tepat ke barisan belakang dari pasukan berkuda lawan mereka.
Strategi itu berbuah manis karena debu yang menghalangi pandangan lawan akhirnya panah-panah itu dengan cepat terjun dan menghabisi pasukan lawan yang berada di belakang, bahkan mereka tidak menyadari akan kedatangan hujan anak panah tersebut.
Karena keteledoran dari pria misterius membuat pasukannya menjadi kocar-kacir, pasukan di depan yang bersamanya tidak terkena dampak dari anak panah lawan, hanya beberapa dari mereka yang harus terluka karena serangan tersebut.
Namun barisan di belakang telah menerima serangan telak dari anak panah lawannya tadi. Tidak sedikit pasukannya yang harus menjadi korban serangan itu, ia mengutuk perbuatan lawan mereka dan ingin menuntut balas.
“Gawat!!!”, gerutu pria misterius melihat pasukannya berguguran karena serangan lawan.
"Guru bagaimana ini?"
"Apa yang kita harus lakukan senior?"
Tidak ingin larut dalam keadaan yang sesak pria misterius mencoba untuk tenang, “Jangan berhenti! Terus maju!”, pasukan yang masih bisa menunggangi kuda mereka terus maju ke depan mengejar pasukan pemberontak yang sedang mundur.
***
Ia mengetahui siapa dalang dari ini semua, "Bajingan tua sialan!", gerutunya.
Semakin lama perang yang terjadi semakin terlihat bahwa pasukan lawan berhasil mendominasi, ini wajar karena lawan mereka dalam kondisi yang bagus sedangkan pasukan mereka yang berperang sekarang baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Bukannya mengistirahatkan pasukannya, raja Jaka malahan memerintahkan pasukan yang baru saja tiba harus bersiap untuk berperang sesegera mungkin.
Rasa sakit menyerang kepalanya, menteri Balda memijat kepalanya yang semakin lama semakin sakit. Belum reda rasa sakit yang ia derita samar-samar ia melihat pasukan lawan bergerak mundur. Tentu saja itu perihal yang aneh, pasukan yang berhasil menahan bahkan mendominasi perang kemudian bergerak mundur secara tiba-tiba.
Ia mengamati gerakan lawannya dan tidak lama kemudian baru mengerti akan maksud pergerakan lawannya tersebut. Kejadian seperti ini pernah ia alami ketika berperang dengan kerajaan Gundala yang langsung dipimpin oleh musuh lamanya, Patih Purno.
__ADS_1
Sebuah strategi yang mengantarkannya menerima malu karena tidak bisa menaklukkan kerajaan kecil tersebut. Ia hendak bergerak untuk memberi tahu pada pasukan yang berada di garis depan terutama pasukan berkuda rekannya, pria misterius.
Namun semua itu sudah terlambat, ia dapat melihat hujan anak panah dari arah benteng pasukan pemberontak terjun melesat ke arah pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Semua itu tepat seperti ingatannya dulu.
Dengan sekejap ratusan prajurit berkuda itu tumbang ke tanah disertai kuda yang ditungganginya. Panah menancap di tubuh mereka membuat korban dalam pasukan itu tidak terhitung jumlahnya.
"Sudah terlambat, mereka tidak akan bisa ditolong lagi...."
Menteri Balda menoleh ke arah belakang karena mendengar perkataan tersebut. Ia mengetahui siapa pemilik dari suara tersebut yang tak lain adalah wanita muda.
"Apa maksudmu?!", menteri Balda menaikkan alisnya.
Wanita muda tersenyum sejenak sebelum menunjuk ke arah benteng pemberontak, "Aku rasa semuanya sudah terlambat, lihat apa yang menanti di depan mereka", tunjuk wanita muda.
Menteri Balda kembali menoleh ke arah benteng pemberontak dan menemukan sebuah barisan kuda yang ia kenali melangkah maju ke arah pasukan berkuda pimpinan pria misterius.
"Sial!!!", menteri Balda mengepal tangan, "Mereka akan kesulitan disana!", dia ingin segera beranjak dari tempatnya untuk membantu pasukan pria misterius namun segera dihentikan oleh wanita muda.
"Aku pikir seorang menteri akan mempercayai kemampuan bawahannya, tapi ternyata dirinya masih belum mampu untuk melakukan hal seperti itu", wanita muda berkomentar.
Menteri Balda melotot ke arah lawan bicaranya, ia memahami betul maksud dari perkataan wanita muda ini. Ia ingin sekali bergerak untuk membantu, namun jika dia disana secara tidak langsung sama saja akan menghina bawahan yang telah ia percayai di medan perang.
Kepalan tangannya perlahan mulai melemah, dia akhirnya tetap diam di tempatnya mengamati suasana perang yang terjadi. Ia berharap pria misterius mampu memberikan perlawanan bahkan dalam hati terdalamnya mengharapkan rekannya tersebut bisa selamat saat menghadapi pasukan berkuda terlatih dari lawannya tersebut.
_______________________________________________
Terima kasih atas dukungan dan like yang telah anda berikan, salam hangat dari author :)
__ADS_1
Episode selanjutnya akan saya update secara bertahap, silahkan menikmati cerita yang saya sajikan ini.