Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
59. Ketenangan Sesaat V


__ADS_3

Api yang berasal dari obor-obor tadi berhasil membuat pasukan suku kulit hitam kini terlihat keberadaannya. Subani dan pria sepuh akhirnya menjadi paham akan maksud serangan yang dilakukan oleh Aryo dan Patih Purno barusan.


Mereka lantas menyiapkan senjata masing-masing bersiap menghadapi lawan mereka malam ini, sedangkan para prajurit yang lain bersiap-siap menunggu perintah yang akan diberikan pemimpin mereka.


Pasukan suku kulit hitam terkejut melihat api yang tidak padam ketika menyentuh tanah, mereka perlahan menjauh dari kobaran api itu. Walaupun raut wajah mereka tampak tidak jelas karena gelapnya malam, namun Patih Purno dapat menangkap apa yang terjadi dengan lawannya saat ini.


Tidak sampai disitu kemudian Patih Purno kembali memberi perintah untuk prajuritnya melemparkan guci berisi minyak obor ke tempat obor yang dilemparkan barusan. Pasukan kuda besi bergerak cepat dan melemparkan guci-guci itu ke arah yang diperintahkan.


Minyak obor yang bertemu dengan api seketika berubah menjadi kobaran api yang lebih besar. Seketika itu juga pasukan suku kulit hitam langsung mundur menjaga jarak dari lokasi kobaran api tersebut.


Karena gelagat lawannya yang mencurigakan, Patih Purno memahami situasi dimana sekarang musuhnya sedang mengalami keterkejutan atau bahkan ketakutan. Itu sangat jelas sebab mereka berbicara sesamanya dengan nada pelan namun agak sedikit bergetar.


Hanya Aryo dan Patih Purno yang mendengar pasukan suku kulit hitam ini berbicara, sedangkan pasukan yang berada di belakang hanya bisa melihat pergerakan musuh yang seakan menjauh dari kobaran api kecil itu.


"Apa yang terjadi pada mereka patih?", Aryo bertanya karena heran dengan sikap yang ditunjukkan lawan mereka malam ini.


Patih Purno tersenyum sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Aryo, "Sesuai informasi yang saya ketahui bahwa di tanah mereka kepercayaan bahwa api adalah perwujudan dari roh jahat atau orang yang menggunakan ilmu hitam. Mungkin orang-orang ini masih memegang kepercayaan itu, sebuah keajaiban kita dapat melihat mereka malam ini", Patih Purno menutup penjelasannya.


"Ini kesempatan kita tuan muda!", Patih Purno mengingatkan Aryo.


Aryo menganggukkan kepala tanda mengerti, dia kemudian bersama-sama dengan Patih Purno maju ke depan melompati kobaran api dan segera melancarkan serangan kepada lawannya.

__ADS_1


***


Subani tidak tinggal diam, dia kemudian maju ke depan untuk ikut serta dalam aksi Aryo dan Patih Purno. Ketiganya kini menyerang puluhan orang dari suku kulit hitam dan tidak butuh waktu lama ketiganya berhasil mendominasi serangan.


Lawan mereka terus berusaha untuk memberikan perlawanan atau sekadar membalas serangan mereka bertiga namun dengan kombinasi ketiganya kini mereka berhasil mendesak lawannya untuk terus mundur ke belakang.


"Jurus taring macan kumbang!", Aryo mengeluarkan jurus yang ia pelajari dari mertuanya sendiri yaitu ayah Sinta.


Jurus ini tidak dapat dilakukan menggunakan keris Bagaskara sebab jurus ini hanya bisa digunakan dengan pedang sebagai alat perantaranya. Aryo mengambil pedang dari salah satu pasukan suku kulit yang telah tewas akibat serangannya bersama Patih Purno tadi.


Saat masih menjadi murid dari padepokan yang diasuh oleh ayah Sinta sendiri, saat itulah Aryo meminta agar ia diajari sebuah jurus yang cukup mematikan untuk bertarung. Ayah Sinta awalnya menolak mengingat status Aryo sebagai seorang pangeran mahkota kerajaan Adipura tidak akan mungkin bagi seseorang ingin mencoba melukainya.


Namun mengingat pengalaman pahit yang pernah ayah Sinta rasakan saat dimana seorang manusia terlalu lemah dalam melindungi diri sendiri akan berimbas kepada orang lain bahkan keluarganya sendiri. Karena itulah ayah Sinta lantas mengiyakan permintaan dari Aryo saat itu.


Gerakan Aryo sontak menjadi lebih cepat dan gesit dengan serangan terfokus pada area vital lawannya. Lima orang suku kulit hitam yang menghadapi Aryo saat ini harus menelan ludah karena kekuatan mereka tidak mampu menandingi kekuatan Aryo bahkan jika mereka bergabung sekalipun.


"Aaargghhhghghhh..."


"Uuuggghhuukk"


Serangan Aryo berhasil membuat dua dari lima lawannya mendapat luka parah di perut dan dada mereka masing-masing. Karena luka yang sangat parah membuat lawannya langsung jatuh ke tanah dan tidak lama kemudian mati setelahnya.

__ADS_1


Salah satu suku kulit hitam yang berkekuatan setara pendekar harimau belang mencoba memisahkan diri saat dia dan kedua rekannya sibuk dalam pertarungan dengan Patih Purno.


"Tidak akan aku biarkan kalian pergi!", Patih Purno berseru lantang kepada ketiga lawannya, dia kemudian menaikkan tempo serangannya. Lawannya kini tidak dapat berkutik karena serangan-serangan dari Patih Purno semakin lama semakin cepat.


***


Tiga orang suku kulit hitam yang menjadi lawan Patih Purno sekarang menjadi kesusahan bernafas akibat serangan tanpa jeda yang diarahkan Patih Purno kepada mereka. Serangan itu terus datang dan mengincar area kaki mereka, Patih Purno berniat melukai kaki lawannya agar pergerakan mereka menjadi lambat nantinya.


Dengan pengalaman yang luas serta tombak sebagai senjatanya Patih Purno mendominasi pertarungannya tersebut. Lawannya sempat mengimbangi serangannya namun itu berlaku hanya sebentar saja.


Tidak butuh waktu lama kini serangan dari Patih Purno berhasil menorehkan luka di kaki lawannya membuat pergerakan mereka menjadi sedikit melambat akibat luka-luka yang terus mengalirkan darah. Patih Purno tidak menunggu lebih lama lagi, dia kemudian melompat ke atas dengan postur siap memukul dengan tombaknya


"Pematah besi!!!", Patih Purno mengeluarkan jurus andalannya lagi, ketiga lawannya mencoba untuk menghindari serangan itu namun luka yang mereka terima tidak mampu membuat keadaan berubah sesuai keinginan mereka.


Karena tidak bisa berbuat banyak salah satu dari mereka mengumpulkan sisa-sia kekuatannya untuk menahan serangan Patih Purno.


Namun seperti langit dan bumi perbedaan kekuatan ketiganya dengan Patih Purno sangatlah jauh. Bahkan sudah terlihat jelas sejak pertarungan pertama mereka, namun semangat mereka sebagai pejuang tidak menggoyahkan perbedaan kekuatan itu.


Ayunan tombak dengan pola seperti memukul benda dari atas dengan sekuat-kuatnya segera bertemu dengan pedang dari salah satu pasukan suku kulit hitam itu. Pedang yang bertemu dengan tombak Patih Purno kemudian patah menjadi dua, tidak sanggup menahan kekuatan dari ayunan tombak Patih Purno.


Lantas tombak itu terus meluncur ke bawah menuju ke tanah tempat kaki ketiga lawan Patih Purno berpijak. Saat tombak itu menyentuh tanah saat itu pulalah terjadi ledakan energi yang membuat ketiga lawan Patih Purno terpental ke belakang.

__ADS_1


Tanah yang dihantam tombak itu meledak dari bawah dan kemudian beterbangan ke udara, lawan Patih Purno yang berada di area serangan harus menjadi korban akibat ledakan itu.


__ADS_2