
Sinta tampak terlihat begitu senang ketika melihat ayahnya menjadi pemenang dalam pertarungan itu. Ayahnya yang terkenal sebagai pendekar tingkat tinggi telah menoreh banyak kemenangan dalam sebuah pertarungan.
Karena itulah Sinta bertekad sedari kecil ingin menjadi seperti ayahnya, namun ayahnya tidak mengizinkan ia menjadi pendekar. Wajar saja ayahnya bertindak demikian, ia takut akan terjadi hal buruk jika anaknya menginjakkan kaki di dunia persilatan yang terkenal kejam dan bengis jika tidak memiliki kekuatan yang mumpuni.
Rasa bahagia meluap-luap dalam hatinya menyaksikan kemenangan ayahnya. Ia kemudian berontak dari pelukan ibunya dan segera berlari secepat mungkin ke tempat ayahnya berada berniat memberikan pelukan hangat.
Ibu Sinta terkejut dengan sikap anaknya, tanpa dapat berbuat apa-apa Sinta kini lepas dari pelukannya. Sinta lantas berlari secepat mungkin ke arah ayahnya sedangkan ibunya mencoba mengejarnya dari belakang. Senyuman manis menghiasi wajah keduanya, malam itu mereka pikir semuanya telah berakhir.
“Ayah... Ayah... Ayah...”, pekik Sinta sambil berlari ke arah ayahnya. Walau dengan langkah kecilnya tidak menutupi kelincahannya dalam berlari.
Ibunya bahkan sampai kewalahan untuk mengejarnya dari belakang. Ia memaklumi sikap anaknya yang begitu sayang kepada ayahanda nya.
"Terima kasih Dewa", batin ibu Sinta.
Perasaan tenang yang ia rasakan sekarang hanyalah ketenangan sesaat. Setelahnya yang terjadi tidak akan pernah dirinya pikirkan sebelumnya, sebuah takdir yang telah disiapkan oleh keluarga ini akhirnya terjadi.
***
Wajah riang serta teriakan gembira dari anaknya samar-samar terdengar di telinga ayah Sinta. Pandangannya yang awalnya gelap perlahan mulai bisa melihat walau samar-samar. Dari jauh tampak anak dan istrinya berlari ke arahnya.
__ADS_1
Yang lebih mengejutkan anaknya berlari sangat cepat ke arahnya, dia tersenyum melihat hal itu. Ayah Sinta pikir semuanya telah berakhir, dan dia berhasil menyelamatkan keluarganya malam ini.
Tapi takdir berkata lain, ketika jarak anaknya dan setan merah hampir dekat. Tanpa mereka sadari, setan merah terbangun dari kondisi yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya setan merah mencabut sebuah cakar dari tangannya.
Rasa sakit tentu saja ia rasakan namun melihat sebuah peluang untuk membalaskan dendam anaknya ia menahan rasa sakit itu. Setelah cakar itu berhasil ia lepas kemudian ia melemparkannya ke arah Sinta. Cakar itu terbang lurus mengarah ke Sinta, ayah dan ibunya terperanjat melihat hal itu.
Ayah Sinta mencoba bangkit dari posisi berlututnya untuk menghalau serangan itu, namun tubuhnya seperti tertimpa sebuah batu besar. Begitu berat dan sakit yang terus menerus datang akibat luka yang dialaminya.
Dia berusaha bangkit sebisa mungkin tapi nyatanya dia tidak berhasil, akibat terlalu memaksakan akhirnya ia jatuh terbaring di tanah karena terus memaksakan diri. Dirinya hanya bisa melihat cakar itu terus melesat ke arah anaknya.
“SINTAAAAAA!!!!!!!!”, pekik ayahnya ketika cakar yang terarah kepada Sinta sudah berjarak dekat dengannya.
Dia tidak ingin kehilangan buah hatinya yang sangat dia cintai, perasaan sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu saat membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
Dan yang terjadi sudah bisa ditebak, cakar itu kini bersarang di tubuh ibunya Sinta, tepat di arah jantungnya namun tidak sampai menembus tubuhnya.
“Ibu... Ibu...”, Sinta memandang ke arah ibunya, tubuh ibunya mulai bergetar membuatnya khawatir. “Ibu tidak apa-apa? Tolong jawab ibu”, Sinta terus menatap wajah ibunya yang kini mulai pucat.
Dengan senyuman lembut ibunya membalas pertanyaan dari anaknya, “Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya kedinginan”, balas ibunya dengan pelan sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
Namun senyuman itu tidak bertahan lama, tidak lama kemudian ibunya jatuh ke tanah. Darah mengalir keluar dari tepi bibir ibunya membuat Sinta menjerit histeris, “Ibu! Ibu! Mengapa ada darah di mulut ibu? Ayah tolong ibu, ayah!”, Sinta menjerit sejadi-jadinya sambil menangis di depan ibunya.
Tangisan Sinta akhirnya pecah malam itu, dia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap ibunya. Hatinya seperti teriris oleh pisau melihat ibunya terbaring kesakitan di depannya. Dia yang masih kecil tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menangis di dekat ibunya.
Dia menggenggam erat tangan ibunya dan sesekali menariknya, “Ibu bangun ibu, ibu!”, dia terus menangis sejadi-jadinya.
Ibunya yang melihat serta mendengar tangisan dari anaknya mencoba untuk bersikap tenang. Walaupun tubuhnya saat ini terasa sakit dan tidak berhenti bergetar, dia mencoba tersenyum ke arah anaknya.
Dengan lembut dia membelai rambut Sinta sambil berkata, “Nak, tolong jaga ayah mu. Maaf ibu tidak bisa melihat mu tumbuh dewasa, jangan terlalu bersedih. Jadilah pribadi yang baik nanti...”, ucap ibunya kepada Sinta yang masih menangis.
Bagaikan disambar petir ucapan dari ibunya membuat Sinta menjadi semakin histeris. Tangan ibunya yang membelai rambutnya dengan lembut kini jatuh ke tanah di hadapannya. Sinta terdiam sesaat sebelum memeluk tubuh ibunya yang kini sudah terbujur kaku, ibunya menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah tersenyum kepadanya.
Ayah Sinta yang melihat dari kejauhan mulai meneteskan air mata. Perasaan sedihnya tak bisa dibendung lagi, kehilangan sosok wanita yang ia cintai sungguh membuat hatinya menjadi sakit.
Namun sesuai takdir yang berlaku dimana ada pertemuan di situ pula akan ada perpisahan. Tapi tentu saja hatinya masih tidak terima harus dipisahkan seperti ini, kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga harus menerima takdir seperti ini.
Suara anaknya terus memanggilnya meminta dirinya untuk secepatnya ke tempat istrinya berada. Dia kemudian merayap dengan sisa-sisa tenaga yang berusaha dia kumpulkan. Pelan tapi pasti dia terus merayap untuk mendekati istri serta anaknya berada.
Rasa sakit di tubuhnya seolah-olah hilang dan digantikan oleh perasaan sedih yang tiada tara. Tidak lama kemudian dia sampai di tempat istrinya berada, dia menggenggam tangan istrinya yang kini sudah terasa dingin seraya berucap, “Maafkan kanda, ini semua salah kanda” tangisannya pun pecah saat memandangi wajah istrinya.
__ADS_1
“Ayah, ibu ayah”, ucapan itu terus diulangi oleh Sinta ketika ayahnya sudah berada di dekatnya.
Karena terlalu syok akhirnya Sinta pingsan di samping ibunya dengan tangan masih menggenggam erat tangan ibunya.