Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
27. Tarian Falabea


__ADS_3

Suasana hening sejenak, orang itu sedang memandangi sekitarnya dan tak lama pandangannya tertuju kepada pria di depannya yang tak lain adalah Patih Purno. Dia melihat tombak di tangannya lalu menggenggam erat tombak tersebut. Dengan satu tarikan nafas dia meloncat ke arah lawannya.


Semua mata melotot menyaksikan kejadian tersebut. Bagaimana tidak jarak orang itu dari Patih Purno sejauh 10 meter. Namun dengan satu lompatan orang itu berhasil mendekat dan melancarkan serangan bertubi-tubi dengan tombaknya tepat ke arah Patih Purno.


Patih Purno berdecak kagum sesaat setelah melihat lawan duelnya bersungguh-sungguh dalam menghadapinya. Dari informasi dan pengalaman yang telah dia dapat orang ini memang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Menurutnya jika digolongkan dalam kekuatan pendekar, kekuatan orang ini setara pendekar serigala tingkat 5 atau akhir.


“Kekuatan fisiknya sangat besar, ini akan menjadi hal yang perlu ku catat”, batin Patih Purno. Dalam hatinya ia terus merasa kagum dengan serangan dari lawannya, namun rasa kagum itu tidaklah membuatnya menjadi terlena. Patih Purno terus menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan lawannya dan sesekali membalas serangan lawannya tersebut.


Setelah beberapa menit keduanya terus bertukar serangan, lawannya tersebut mundur dengan meloncat sebanyak tiga kali. Walaupun beberapa luka kini sudah menghiasi tubuhnya namun tubuhnya tetap tegap dan pandangannya tidak teralih kan sama sekali dari lawannya.


Orang itu kini diam di tempat sambil berusaha mengatur nafasnya, dia melihat luka-luka yang telah dibuat lawannya tersebut. Dia menggeram dan pandangannya kembali tertuju ke Patih Purno. Patih Purno menanggapinya dengan santai seolah-olah siap untuk melanjutkan.


Para penonton sudah tidak sabar apa yang akan terjadi berikutnya, bagaimana tidak dibalik ketegangan itu bagi beberapa orang itu adalah sebuah tontonan yang menarik di kala suntuk-suntuknya. Mereka berharap tontonan ini akan makin lebih seru berikutnya.


Orang tersebut kembali maju menyerang ke arah Patih Purno dengan gencar, luka yang menghiasi tubuhnya tidak menurunkan kelincahan yang dimilikinya. Patih Purno masih dalam posisi bertahan dengan sesekali melancarkan serangan balasan kepada lawannya.


Orang-orang yang melihat pertarungan itu berpikir kekuatan dari keduanya adalah sama, namun sebenarnya Patih Purno sengaja menahan kekuatannya. Dia ingin lebih mengenal pola serangan dari lawannya agar bisa mendapat sebuah informasi yang bisa digunakan ke depan.


Suara tombak yang beradu menggema malam itu menambah keseruan dalam duel tersebut. Para prajurit meneriaki agar Patih Purno segera menyelesaikan pertarungan tersebut. Aryo yang mendengar para prajuritnya berani berkata seperti itu hanya menggelengkan kepala, dia ingin menghentikannya namun suara para prajuritnya terus menggema di keheningan malam.


"Patih!"


"Purno!"

__ADS_1


"Patih!"


"Purno!


Kata-kata itu saling bersautan dan mengisi pertarungan tersebut sehingga menjadi lebih panas. Lawan Patih Purno menjadi berang karena teriakan dari para penonton pertarungan mereka. Dengan emosi yang meluap-luap dia lantas menyerang dengan lebih gencar tanpa memperdulikan luka di tubuhnya yang kian waktu bertambah banyak.


"Bagus! Keluarkan semua kemampuan mu!"


Patih Purno berseru lantang ke arah lawannya, walaupun sebenarnya lawan dirinya tidak genting akan perkataannya barusan namun dia berharap lawannya tersebut akan menunjukkan kemampuan penuhnya kali ini.


“Aku tidak menyangka kekuatan orang itu sebesar ini paman. Kita harus berunding setelah duel ini selesai!”, Aryo berkomentar ketika melihat pertarungan di depannya.


“Hamba juga terkejut tuan muda, ini bisa jadi bahaya kalau kita membiarkannya”, jawab pria sepuh setuju dengan pendapat dari Aryo.


Walaupun terlambat menyadari serangan dari lawannya, orang asing tersebut berhasil menghindar sedikit sehingga luka tusukan tersebut tidak terlalu dalam mengenai pahanya. Dia kemudian melompat mundur untuk menjaga jarak sambil mengatur nafasnya yang mulai sedikit berat.


Pandangannya masih terfokus ke arah Patih Purno yang tersenyum seolah menikmati pertarungan mereka. Dia mengumpat dengan bahasanya dan tidak lama kemudian dia yang awalnya diam di tempat kini mengangkat tombak ke atas. Patih Purno mengira orang itu akan menyerang lagi namun serangan itu tak pernah sampai.


“Apa yang dia lakukan?”, ucap seorang prajurit yang menonton.


“Aku tidak tahu, ini baru aku lihat”, jawab prajurit di dekatnya.


“Gerakannya aneh”, timbal prajurit lain.

__ADS_1


Orang suku kulit hitam itu sekarang sedang melakukan sebuah tarian yang baru kali ini para prajurit lihat. Dia mulai menggerakkan kakinya dengan diayunkannya ke depan dan gerakan berikutnya menyilang. Dia melakukannya berulang kali sambil menyebutkan sebuah kata dengan nada seolah bersenandung.


“Falabea... Falabea... Falabea...” , orang asing itu mengucapkan kata-kata itu berkali-kali sambil menari.


Tarian yang terasa asing dan baru pertama kali dilihat lantas membuat semua orang keheranan atas apa yang dilakukan oleh orang tersebut tidak terkecuali lawannya yakni Patih Purno. Butuh beberapa saat untuk Patih Purno mengingat apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Setelah cukup lama berfikir akhirnya ia mengingatnya, menurut pengetahuannya orang itu sedang melakukan sebuah tarian perang yang merupakan tarian terhormat bagi seorang pejuang dari suku kulit hitam.


Tarian ini berasal dari tanah bagian timur dan merupakan tarian yang digunakan untuk keadaan seperti ini. Fungsinya tidak lain adalah untuk memotivasi diri sendiri atau meminta roh leluhur membantu mereka dalam sebuah pertarungan bahkan perang, mengingat kehidupan mereka tidak luput dari perang antar suku yang terus berkecamuk.


Dan ada satu hal yang menjadi inti dari tarian tersebut, lewat tarian ini seseorang yang melakukannya telah siap menghadapi maut jika kalah dalam sebuah duel maupun perang.


“Benar-benar seorang pejuang tangguh, akan ku berikan sebuah pertarungan yang berkesan untuk mu”, Patih Purno tersenyum ke arah lawannya yang kini masih menari.


***


Tarian itu tidak berlangsung lama, orang itu kini berhenti dan memasang kuda-kuda untuk maju menyerang. Saat itu pulalah ada sebuah bau yang terasa menyengat menyeruak di udara, Patih Purno sempat tersedak karena menghirup bau tersebut.


Setelah beberapa saat barulah ia mengetahui bahwa bau tersebut berasal dari tubuh lawannya, dia mengerutkan dahi melihatnya. Pada saat pertarungannya dahulu tidak pernah ia menemukan hal seperti ini, menurutnya ini merupakan sebuah keganjalan.


Tidak beberapa lama orang itu menghentikan tariannya tersebut. Saat tarian itu berhenti dengan cepat orang itu kembali bergerak menuju ke tempat Patih Purno berdiri. Semua orang kembali terkejut karena setelah tarian aneh tadi orang itu langsung berlari dengan begitu cepat tidak seperti sebelumnya seolah-olah ia baru saja mendapat kekuatan baru.


Mereka tidak mengetahui bahwa kegunaan tarian itu adalah membakar semangat dalam diri orang itu. Orang itu sudah memantapkan hatinya dan berniat mati dalam duelnya jika memang diperlukan. Lawan sekuat apapun tidak akan membuatnya gentar sedikitpun, dia terus maju dan melancarkan serangan yang lebih cepat daripada sebelumnya.


Patih Purno tidak tinggal diam, ia juga mulai bergerak untuk menahan serangan dari lawannya. Namun nyatanya butuh beberapa saat bagi Patih Purno untuk mengimbanginya. Ini dikarenakan serangan dari lawannya begitu liar seolah tak memperdulikan kondisi tubuhnya maupun lawannya.

__ADS_1


__ADS_2