
Saat raja Jaka meminta maaf tiba-tiba terdengar suara wanita muda dari belakang. Suara itu seolah-olah seperti menuju ke tempat raja Jaka berada. “Tidak perlu meneriaki orang seperti itu, lihat wajahnya yang tampan sekarang menjadi begitu pucat. Bukankah sayang jika wajah ini harus selalu terlihat takut ketika melihat engkau”, wanita muda datang dengan kudanya dan sekarang berada di samping raja Jaka.
Menteri Balda yang tahu akan pemilik suara tersebut tidak bersemangat sedikitpun. Ia memilih diam karena percuma berbicara kepada orang telah membuatnya tidak nyaman selama ini.
Melihat reaksi dari menteri Balda membuat wanita muda tersenyum penuh makna. Awalnya ia tersenyum ke arah menteri Balda namun senyuman itu kini ia arahkan kepada rombongan Aryo.
“Perjanjian apa yang ingin kalian diskusikan?”, wanita muda bertanya ke arah rombongan Aryo.
Aryo menoleh ke arah Patih Purno dan Subani yang dibalas dengan anggukkan kepala. Kemudian Aryo mengutarakan hal yang ingin mereka diskusikan, “Kami ingin membuat kesepakatan dengan kalian. Jika perang ini kami menangkan kerajaan Adipura akan kami ambil alih dan kalian dari kerajaan Kendala jangan pernah ikut campur lagi dalam urusan kerajaan kami....”
“Dan jika kalian kalah? Apa yang akan kalian berikan?”, wanita muda memotong penjelasan dari Aryo membuat Aryo sempat kebingungan untuk melanjutkan kata-katanya. Melihat Aryo terdiam tidak bersuara lantas membuat Patih Purno harus turun tangan menanggapi masalah ini.
“Jika kami kalah maka pihak yang menang akan mendapatkan upeti setiap tahun dari kerajaan kami, dengan syarat tidak boleh mengusik wilayah kerajaan kami”, Patih Purno menjawab pertanyaan dari wanita muda. Wanita muda menanggapi pernyataan itu dengan tenang sambil tersenyum sinis.
“Kenapa harus dalam waktu setahun, jika kami menginginkan setiap hari apa yang akan engkau lakukan?”, pertanyaan wanita muda seperti halilintar di siang hari.
Dengan senyuman mengejek yang diarahkannya kepada Patih Purno membuat Patih Purno jadi salah tingkah.
“Mengapa kalian diam? Apakah kalian yakin setelah kalah dalam perang ini kerajaan kalian akan aman nantinya?”, wanita muda terus tersenyum mengejek kepada rombongan Aryo.
__ADS_1
Jika dipikir dengan logika pastinya kerajaan yang kalah akan menjadi bawahan atau budak bagi kerajaan yang memenangkan perang. Aryo, Patih Purno, dan Subani menatap tajam ke arah wanita muda, menurutnya perkataan wanita muda ini terdapat unsur untuk memancing mereka melakukan kesalahan dalam negosiasi saat ini.
Aryo dan Patih Purno saling berpandangan, mereka sama-sama mencari solusi untuk mengatasi masalah ini. Nyatanya pikiran mereka seperti menemui jalan buntu, tidak ada solusi sedikitpun yang keluar dari otak mereka.
Wanita muda yang melihat reaksi lawan bicaranya kini terdiam kembali tersenyum mengejek lagi ke arah mereka, dia merasa puas telah membuat mereka mati kutu dengan pertanyaan yang telah dilontarkannya.
“Tidak hanya upeti yang kami berikan, kami juga akan tunduk di bawah pemerintahan kerajaan yang memenangkan perang ini!”, Subani berseru lantang menjawab pertanyaan dari wanita muda.
Aryo dan Patih Purno secara bersamaan menoleh ke arah Subani, langkah yang telah Subani ambil menurut mereka merupakan suatu hal yang sangat nekat dan tentunya resiko yang ditanggung akan besar pastinya.
Tapi setelah dipikir kembali jika memang mereka kalah, lebih baik ikut menjadi bagian daripada ditindas atau dijadikan budak oleh kerajaan yang menang. Keduanya lantas sepakat dengan pendapat dari Subani barusan, tidak banyak yang bisa dilakukan selain berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenangkan perang ini.
Sikap genit dari wanita muda membuat bulu kuduk menteri Balda berdiri, dia kemudian meyakini perubahan sikap dari raja Jaka pasti karena wanita ini.
“Jika tidak ada lagi yang perlu disampaikan kami akan menerima perjanjian itu. Dengan ini perang akan kita mulai, persiapkan pasukan kalian! Kami tidak akan segan kali ini!”, setelah berucap demikian menteri Balda lantas berbalik arah ke tempat pasukannya berada dan segera diikuti oleh pria misterius.
Dia tidak ingin terlalu berlama-lama dekat dengan wanita muda itu, menurutnya jika sampai berhubungan dengan orang itu maka malapetaka akan datang menghampirinya.
“Aku akan mencari kau di dalam sana!”, raja Jaka menunjuk ke arah wajah Aryo dan setelahnya ia berbalik arah mengikuti menteri Balda dari belakang.
__ADS_1
Wanita muda tersenyum sinis ke arah rombongan Aryo sebelum ikut mengikuti raja Jaka dari belakang, “Aku akan bersenang-senang dengan tubuh kalian nanti”, wanita muda mengedipkan matanya lalu pergi.
Kedipan mata dari wanita muda membuat Aryo dan dua temannya menjadi tegang, sebab bulu kuduk mereka seakan berdiri membuat tubuh ketiganya merinding.
“Sepanjang perjalanan hidup ku tidak sedikit aku melihat orang aneh, tapi lawan kita hari ini benar-benar aneh menurut ku”, Subani berkomentar terhadap watak lawannya.
Patih Purno menggelengkan kepala pelan, “Walaupun aneh tapi mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa disepelekan”, Patih Purno ikut berkomentar.
Karena negosiasi telah usai ketiganya lalu memacu kuda masing-masing menuju markas pemberontak, para prajurit bersiaga penuh dengan senjata masing-masing. Semangat yang membara terlihat jelas dari mata mereka, bagi mereka yang masih muda tekad kuat untuk menang telah mengisi hati serta jiwanya.
Sedangkan bagi mereka yang sudah berumur hidup atau mati adalah kehendak dewa. Walaupun jumlah musuh lebih banyak dari mereka namun tekad mereka sudah bulat untuk berperang dengan seluruh kemampuan yang ada.
“Dengarkan hal ini semuanya!”, pekik Aryo kepada pasukannya, “Perang sudah di depan mata, kuatkan semangat kalian dengan harapan bahwa kita akan menang. Keluarga kita menanti kabar kemenangan kita, mari kita torehkan sebuah cerita yang akan diceritakan sampai tujuh generasi bahwa hari ini adalah perang dimana keadilan tidak akan diam melihat kebatilan yang terus merajalela! Takut bukan pilihan, satu-satunya pilihan adalah harapan agar hidup anak serta cucu kita lebih baik nantinya! Mari kita tunjukkan semangat juang dari cahaya kebaikan!!!”, suara lantang Aryo menggema di setiap telinga pasukannya.
Pria sepuh hampir meneteskan air matanya, dia terbaru dengan semangat juang dari tuan mudanya itu. Walaupun masih tergolong muda namun sifat kepemimpinannya sudah terlihat jelas dan baginya begitu berkharisma.
Dia kemudian memandang ke arah langit seraya berucap, “Andaikan mendiang raja Aryi masih hidup, beliau pasti akan sangat bangga dengan sifat kepemimpinan dari salah satu anaknya ini”.
Sorak-sorai dari pasukan pemberontak terdengar sampai ke telinga pasukan kerajaan Adipura dan aliansinya. Awalnya mereka menganggap musuh akan kehilangan semangat tempur karena jumlah pasukan mereka.
__ADS_1
Namun kenyataannya sangat berbalik di medan perang, mereka yang awalnya merasa yakin bahwa akan mendapat kemenangan yang mudah lantas berpikir dua kali ketika melihat semangat dari lawannya.