Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
14. Pawang Hujan


__ADS_3

"Pria tua ini tahu apa yang engkau pikirkan anak muda, tapi engkau harus tahu tubuh ku dulunya merupakan idaman setiap wanita yang melihatnya", ki Ratno tertawa keras sampai air matanya keluar.


Tawa keras yang dikeluarkan oleh Ki Ratno membuat Aryo dan pria sepuh menjadi sedikit canggung. Sebab ketika Ki Ratno tertawa seolah-olah hujan semakin deras membasahi bumi.


"Ahhhh.... Hampir saja lupa, kalian pasti kedinginan, sebentar aku akan membuat api unggun untuk menghangatkan kalian", ki Ratno mulai beranjak dari tempat duduknya.


Keduanya kini bernafas lega karena orang di depannya tidak mempermasalahkan tujuan mereka lagi dan kini bergerak ke arah kayu kering berniat untuk membuat api unggun di halaman pondok.


"Aku ingin membantu ki"


"Tidak perlu anak muda, pria tua ini masih sanggup membawa putung-putung kayu ini"


Aryo ingin membantu namun Ki Ratno dengan pelan menolaknya, dia berkata tidak akan membutuhkan waktu lama untuk membuatnya. Selesai berucap demikian dia keluar dengan pelan sambil membawa kayu kering dikeluarkan tangannya.


"Apinya sudah menyala!", teriak Ki Ratno dari luar pondok.


Benar saja tidak lama kemudian tumpukan kayu yang dibawa oleh Ki Ratno sekarang sudah tersulut oleh api, Aryo dan pria sepuh keluar dari pondok ketika Ki Ratno berteriak sesudah api mulai hidup. Aryo dan pria sepuh mendekat dan duduk di dekat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


Ki Ratno melihat kedua tamunya masih memasang raut wajah yang terlihat khawatir. Akhirnya dia memutuskan untuk berbicara kepada keduanya.


“Anak muda tenang saja, pria tua ini tidak akan melakukan apapun, aku justru senang ada tamu yang datang malam ini di gunakan tua ku. Sejujurnya sudah bertahun-tahun tidak ada yang bisa mendatangiku”, ucap Ki Ratno mencoba mencairkan suasana.


“Ma-maaf paman jika sikap kami sudah menimbulkan prasangka tidak baik terhadap paman. Sekali lagi kami minta maaf dan terima kasih sudah memberikan kami waktu untuk berteduh disini", Aryo menjawab agak terbata-bata karena ketahuan akan sikap khawatirnya.

__ADS_1


“Maafkan kelancangan kami ini sesepuh, kami seharusnya tidak bersikap seperti ini terhadap orang yang telah menolong kami”, pria sepuh melanjutkan penjelasan Aryo.


“Dengan senang hati pria tua ini menerima permintaan maaf kalian”, Ki Ratno kembali tertawa setelah menyelesaikan perkataannya.


Ki Ratno kemudian mengenalkan dirinya dan mulai bercerita tentang dirinya serta pondok tempat dia tinggal. Ki Ratno bercerita bahwa ia dulu adalah seorang pendekar pengelana yang mempunyai tugas khusus yang tak sembarang orang bisa melakukannya.


Beberapa kali ia menjalankan tugas itu dan berhasil menyelesaikannya, namun suatu ketika ia gagal dalam menjalankan tugas tersebut dan berakhir menjadi sebuah petaka besar. Ia kehilangan beberapa rekan yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri karena gagal dalam tugas.


Akibatnya ia dihukum dengan diasingkan jauh daripada keramaian sebab dari semua orang yang dipimpinnya hanya dia yang selamat. Ki Ratno menerima hukuman itu, sampai saat ini ia menjalani hukuman tersebut.


Dalam hatinya ia berharap bisa memperbaiki semuanya, matanya mulai berkaca-kaca sambil memandangi langit, "Penyesalan selalu datang di akhir", lirihnya.


Aryo dan pria sepuh mendengar cerita tersebut tanpa memotong sedikit pun sampai Ki Ratno berhenti bercerita dan mulai melihat ke atas.


“Maaf paman, apakah engkau bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di pondok ini? Terutama dinding tembus pandang di atas kita?”, tanya Aryo untuk mencairkan suasana.


*


Mata keduanya melotot seolah tak percaya akan penjelasan dari Ki Ratno yang begitu asing dan tidak pernah mereka dengar sekalipun. Ki Ratno menjelaskan bahwa dinding gaib yang menahan hujan saat ini adalah ajian bernama dinding hujan. Keduanya masih mendengarkan sampai suatu perkataan menghentikan keterkejutan mereka.


“Ajian pawang hujan?”, Aryo dan pria sepuh bertanya serempak kepada Ki Ratno. Baru kali ini mereka mendengar bahwa ada sebuah ajian seperti itu.


“Ajian ini adalah jurus turun temurun yang keluarga kami kuasai dan sudah menjadi tugas kami untuk menjalankannya”, Ki Ratno menjawab dengan cepat.

__ADS_1


Ki Ratno kembali menjelaskan bahwa dengan ajian ini orang yang menguasainya akan mendapatkan kekuatan mengendalikan angin. Dengan cara ini hujan bisa dipindahkan dan bisa menarik hujan ke tempat diinginkan.Mendengar penjelasan itu akhirnya menjelaskan fenomena yang saat ini mereka lihat.


“Bolehkah aku bertanya satu hal padamu anak muda?”, Ki Ratno bertanya kepada Aryo. Ia menatap Aryo dengan pandangan penuh harap sambil melemparkan batang kayu ke bara api yang masih menyala.


“Apa itu Ki?”, Aryo menjawab dengan ragu.


“Apakah tidak lama lagi akan lahir seorang bayi dari keluargamu?”, tanya Ki Ratno kembali, dia masih melemparkan batang kayu membuat api di depan mereka menjadi besar seketika namun langsung berubah menjadi kecil seperti biasanya.


Mata Aryo melotot karena terkejut, dia tidak menyangka pertanyaan yang dilontarkan Ki Ratno kepadanya. Bukan hanya itu api yang berubah dari besar menjadi kecil dalam sekejap membuat ia menjadi sedikit terguncang.


Aryo tidak segera menjawab dan terus diam karena keterkejutannya, pria sepuh yang melihat reaksi Aryo akhirnya mulai angkat bicara.


“Benar Ki, tidak lama lagi anak pertama tuan muda Aryo akan lahir. Tapi bagaimana Ki Ratno mengetahui hal ini?”, pria sepuh menjelaskan dan bertanya balik kepada Ki Ratno.


“Ahhhh bisa dibilang aku sedikit tahu kisah hidupnya kelak”, Ki Ratno menjawab dengan tawanya yang keras.


Tawa Ki Ratno yang keras membuat keduanya terkejut, karena ketika Ki Ratno tertawa angin berhembus keras mengiringinya. Perlahan tawa Ki Ratno mulai berhenti diikuti angin yang berhembus tadi. Ki Ratno kini memasang sebuah wajah yang menunjukkan kesedihan yang amat mendalam.


“Aku punya permintaan kecil, sudikah anak muda memenuhinya?”, ucapan Ki Ratno kembali memecahkan keterkejutan keduanya.


“Apa yang Ki Ratno inginkan?”, tanya Aryo dengan cepat.


Ki Ratno terdiam sesaat, wajahnya yang menunjukkan kesedihan serta mata yang tertuju ke arah api membuat perasaan Aryo menjadi serba salah. Ia ingin segera tahu apa yang ingin disampaikan oleh orang tua ini, namun melihat kesedihan yang terdapat diwajahnya membuat Aryo memutuskan lebih baik diam mendengarkan.

__ADS_1


“Aku sudah lama hidup di dunia ini, tubuh ku semakin rapuh dan semakin lelah. Tidak ada yang membuat ku bahagia sampai berita anak mu akan dilahirkan ke dunia ini. Permintaan kecil pria tua ini sederhana saja, aku ingin anak mu yang mewarisi ajian pawang hujan ini, akan ku pastikan ajian ini akan membantunya kelak dari segala perjalanan hidupnya”, Ki Ratno menjelaskan panjang lebar permintaannya tersebut.


__ADS_2