
Tookkk... Toookkk... Tookkk...
Aryo terbangun dari tidurnya setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya dan terdengar suara seseorang yang sedang memanggilnya saat ini.
"Siapa yang mengetuk pintu sepagi ini?", Aryo bangkit dari tempat tidurnya dan mulai melangkah menuju arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu dan mendapati seorang Patih menunggunya dengan pakaian siap tempur.
“Maaf telah mengganggu waktu istirahat tuan muda, ada perihal yang harus saya sampaikan", Patih itu memberi hormat kepada Aryo dan langsung menyampaikan pesannya.
"Silahkan Patih", Aryo mempersilahkan Patih di depannya untuk menyampaikan pesan tersebut.
"Tuan muda, mohon segera hadir ke halaman markas. Ada hal penting yang harus tuan muda ketahui”, ucap Patih itu kembali.
“Baik, mari kita segera ke sana”, jawab Aryo singkat dan mulai melangkah ke depan.
Keduanya kini mulai berjalan menuju halaman markas dan ketika sampai Aryo menemukan pria sepuh sudah berada di sana terlebih dahulu. Aryo menyapa pria sepuh dan dibalas dengan senyum oleh pria sepuh tersebut. Keduanya kini sedang berdiri dan menghadap ke gerbang markas mereka.
“Kenapa begitu ramai di pagi hari paman? Ini seperti tidak biasanya” , tanya Aryo membuka pembicaraan.
“Tuan muda, sebenarnya ada hal yang tak terduga terjadi tadi malam. Pasukan kita yang berjaga tadi malam menemukan hal aneh yang baru kali ini mereka lihat”, pria sepuh menjawab pertanyaan dari Aryo.
__ADS_1
“Hal aneh? Apa itu paman?”, tanya Aryo kembali.
Pria sepuh kini menjelaskan apa yang telah terjadi. Menurut pengakuan prajurit yang bertugas menjaga markas, malam itu mereka berhasil memergoki dua orang tak dikenal yang diam-diam sedang mengawasi markas mereka dari gelapnya malam. Awalnya para prajurit tidak mengetahui bahwa markas mereka sedang diawasi oleh orang asing, namun semua itu tidak bertahan lama setelah salah satu Patih mencium bau yang asing dan terasa sangat menyengat.
Patih itu tidak lain adalah Patih yang bersama Aryo barusan, Patih itu pulalah yang akhirnya menemukan bahwa ada orang asing yang mengintai markas mereka. Dengan sigap ia serta para prajurit yang berjaga malam itu mengatur jebakan untuk menangkap orang asing tersebut.
Jebakan tersebut ternyata berhasil dan salah satu dari orang asing tersebut berhasil tertangkap namun sayangnya seorang lagi dapat melarikan diri, bahkan untuk menangkap satu orang asing ini beberapa prajurit harus terluka walaupun tidak terlalu parah.
“Dan satu hal lagi tuan muda, orang yang telah ditangkap tersebut baru kali ini hamba melihatnya”, ucap pria sepuh mengakhiri penjelasannya.
“Maksud paman?", Aryo menoleh ke arah pria sepuh karena penasaran akan pernyataan terakhir dari teman bicaranya.
“Mari tuan muda saya bawa ke tempat orang itu kami tahan”, ajak pria sepuh yang melangkah ke depan tanpa melihat wajah Aryo yang sedang penasaran.
Aryo sejenak memandangi wajah para penjaga ruangan tersebut, melihat kedatangan pria sepuh yang ditemani oleh Aryo para penjaga memberi hormat kepada mereka. Kini mereka berdua memasuki ruangan yang tidak terlalu disinari oleh cahaya bahkan bisa dikatakan ruangan itu agak sedikit gelap, sementara Patih yang bersama Aryo tadi berjaga di luar ruangan bersama prajurit penjaga yang lain.
Aryo menaikkan alisnya karena merasa heran mengapa pria sepuh membawanya ke ruangan yang tidak ada apapun di dalamnya. Hanya ada sebuah obor yang menyala dengan api kecil sebagai penerangan dalam ruangan tersebut.
“Tuan muda pasti keheranan dengan suasana di ruangan ini sekarang. Tunggu sebentar hamba akan menyalakan obor yang lain untuk menerangi ruangan ini”, pria sepuh buka suara dan kemudian mulai berjalan ke arah salah satu obor yang berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
***
Mata Aryo mulai memperhatikan seisi ruangan yang sudah diterangi cahaya obor tersebut. Saat matanya sampai dipojok ruangan sebelah kanan alangkah terkejutnya dia karena dalam kegelapan seperti ada sepasang bola mata yang sedang menatapnya dengan tajam.
Aryo yang terkejut dan tanpa ia sadari ia mundur dua langkah dan langsung menarik keris Bagaskara dari sarungnya. Ia bisa merasakan ada nafsu membunuh dari tatapan tajam yang sedang ia lihat sekarang, ia sudah bersiap jika terjadi hal yang tidak terduga saat ini.
“Tuan muda tidak perlu khawatir, dia tidak akan macam-macam. Prajurit kita sudah mengikatnya dengan rantai”, pria sepuh buka suara setelah melihat reaksi dari Aryo.
Pria sepuh sudah menduga reaksi Aryo akan seperti itu, karena sebelumnya dia juga mengalaminya hal yang serupa. Pada saat dia sedang istirahat di kamarnya saat waktu menjelang pagi, beberapa prajurit datang dan memberitahukan bahwa mereka menangkap seorang mata-mata. Pria sepuh langsung bergegas untuk memeriksa orang yang ditangkap dan sejurus kemudian reaksinya tidak jauh berbeda dari Aryo saat ini.
Kini dengan bantuan beberapa prajurit, mata-mata itu dipindahkan dari posisinya yang awalnya dipojok ruangan kemudian digeser ke bawah obor yang menjadi penerangan dalam ruangan. Aryo masih belum menurunkan kerisnya sampai dia melihat rantai yang mengikat orang itu dan membuatnya sedikit tenang.
Ketenangan itu hanya bertahan sesaat dan kini tergantikan oleh kebingungan dengan apa yang ia lihat sekarang.
“Paman? Siapa orang ini? Baru kali ini aku melihatnya, darimana asal orang ini? Dan mengapa dia diikat dengan rantai seperti itu!?”, pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Aryo tanpa henti kepada pria sepuh.
“Tuan muda, jujur hamba juga terkejut saat pertama kali melihatnya. Hamba juga tidak tahu darimana asal orang ini. Dia adalah orang asing yang telah ditangkap oleh para prajurit yang berjaga tadi malam. Bahkan untuk menangkapnya beberapa prajurit kita harus terluka saat mencoba menangkapnya, hanya dengan rantai ini pergerakannya dapat kami atasi”, pria sepuh mulai menjelaskan situasi yang telah terjadi.
Aryo kembali menatap orang yang ditangkap para prajuritnya saat ini, dia mengamatinya dari bawah sampai atas. Orang tersebut berperawakan tinggi dan memiliki badan yang kekar dengan tatapan penuh nafsu membunuh ke arah keduanya.
__ADS_1
Namun yang menjadi identitas tersendiri dari orang itu adalah kulit badannya yang seperti gelapnya malam. Hanya menyisakan mata dan gigi yang masih kelihatan putihnya, Aryo benar-benar baru kali ini melihatnya.
Sepanjang hidupnya dia tidak mengetahui keberadaan orang di depannya ini, hatinya terus bergejolak dengan pertanyaan darimana asal orang tersebut. Tidak hanya kulitnya yang hitam dari badan orang tersebut keluar bau yang tidak kalah mengherankan, bau yang jarang ia cium namun ia tahu bahwa bau itu berasal dari bau sesosok hewan penunggu hutan.