
Setiap serangan yang Aryo lancarkan dengan mudah merenggut nyawa lawan-lawannya yang mencoba menghadangnya. Tidak hanya menggunakan keris Bagaskara, Aryo juga sesekali menggunakan senjata rampasan dari korbannya dalam pertempuran.
Sudah tak terhitung berapa banyak musuh yang telah ia habisi malam ini, dia tidak sedikitpun merasa bangga. Rasa sakit ia rasakan dimana ia harus membunuh orang-orang yang masih ada ikatan persaudaraan karena terlahir di tanah yang sama.
Namun ia harus menerima semua yang telah terjadi dimana alasan ia memberontak agar kehidupan di kerajaan Adipura menjadi lebih baik. Sudah tak terhitung banyaknya rakyat yang menderita atas kepemimpinan saudaranya yakni raja Jaka.
Raja Jaka tidak pernah memikirkan kehidupan rakyatnya bahkan ia berpendapat rakyatnya sendiri adalah beban yang harus ia singkirkan sebisa mungkin. Cerita-cerita tentang penangkapan dan penyiksaan simpang siur dalam kehidupan rakyat, bagaimana tidak jika terdapat rakyat yang menentang perintahnya maka rakyat itu akan menerima ganjaran yang tidak main-main bahkan berakibat fatal.
Sikap keras kepala dan tidak ingin mengalah atau dikalahkan membuat hati saudaranya tersebut berubah menjadi batu. Ia sangat terobsesi dengan kekuasaan yang akhirnya membutakan ia akan hal yang lebih penting.
Sudah banyak saksi mata yang menyaksikan bagaimana kejamnya raja Jaka dalam memimpin kerajaan Adipura, jika terdengar kata tidak dari mulut rakyatnya raja Jaka takkan segan untuk menemukan rakyat tersebut dengan kata kematian yang teramat sakit.
Karena itulah akhirnya Aryo harus turun tangan dan mengakhiri kekejaman ini, rakyat begitu menderita sebab dipimpin dengan hukum seperti di hutan rimba dimana yang kuat akan selalu menang dan lemah akan selalu ditindas.
***
"Aku tidak akan berhenti sampai semuanya berakhir!", batin Aryo berbicara.
Aryo kini memegang keris Bagaskara di tangan kanannya sedang tangan kirinya memegang tombak dari lawan yang telah ia habisi. Permainan tombak serta kerisnya kembali merenggut nyawa lawan-lawannya yang terus mencoba menghadangnya.
"Aarrrgghhkk...."
__ADS_1
Seorang prajurit kerajaan Adipura mendapat luka tebasan pedang dari Aryo, luka itu menganga lebar dan terus mengeluarkan darah segar. Prajurit itu awalnya menyerang Aryo dari belakang namun dengan sigap Aryo menangkis serangan itu dan melancarkan tebasan menyilang tepat di punggung lawannya.
Tidak selesai sampai disitu Aryo kemudian menancapkan keris Bagaskara ke pundak prajurit tersebut sehingga membuat teriakannya menjadi semakin kuat. Aryo melakukan hal ini agar para musuhnya tidak ada yang berani mendekatinya, Aryo sekarang sedang mencoba istirahat sejenak untuk memulihkan diri serta nafasnya yang mulai terasa berat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataan ia menjadi kelelahan dalam menghadapi lautan musuh yang datang kini sedang ia rasakan. Lawannya seperti haus akan darah dirinya sehingga mereka gencar menyerangnya dari segala arah.
Musuhnya yang melihat perbuatan dari Aryo berhenti sesaat, teriakan dari rekannya membuat mereka menahan nafas sejenak. Musuh-musuh Aryo kini memandangi Aryo dengan perasaan benci yang teramat sangat. Mereka mengutuk keras perbuatan Aryo ini dan bertekad membalaskan kematian rekannya tersebut.
Tidak lama kemudian teriakan rekannya tersebut sudah tak terdengar, Aryo telah memenggal kepala lawannya dan kemudian mengangkat pedangnya seraya berucap, "Maju kalian semua", Aryo berteriak lantang setelah mendapatkan waktu yang cukup untuk memulihkan diri.
Mendengar tantangan tersebut membuat pasukan lawan menjadi beringas dan kemudian kembali maju untuk menyerangnya. Aryo dengan segala kemampuannya terus melakukan perlawanan bak seperti pahlawan dalam perang.
Aksi Aryo yang menyerang dalam kerumunan musuh tersebut ternyata mengundang perhatian seseorang, ia baru menyadarinya setelah mendengar teriakan yang sangat kuat di tengah-tengah medan perang.
"Aryo Jayantaka! Aku datang untuk segera memberikan engkau kesempatan bertemu dengan ayahmu, Aryi Wajendra! Ayahmu sudah lama menunggu anaknya dalam kegelapan di neraka!", teriakan menteri Balda begitu keras dan menggema mengisi keriuhan dalam medan perang.
Aryo mendengar jelas teriakan tersebut, ia menoleh ke arah tengah-tengah medan perang tepat dimana sumber suara tersebut berasal. Ia mendapati di tengah riuhnya suasana perang terdapat sebuah aura pembunuh yang begitu pekat disana.
Nama-nama yang telah disebutkan tadi tidak lain adalah nama lengkapnya serta ayah tercintanya. Nama tambahan berupa Jayantaka merupakan pemberian dari ayahnya kepadanya agar Aryo ketika dewasa akan menjadi orang yang bijaksana nantinya.
Sementara nama Wajendra milik ayahnya bermakna seorang raja, sangat pas dengan watak ayahnya yang merupakan sosok pemimpin besar pada era kekuasaannya.
__ADS_1
Aryo kini tersulut emosi yang membara-bara karena teriakan tadi mengandung sebuah kata penghinaan terhadap ayahnya dan akhirnya membuat Aryo murka. Ia ingin mencabik-cabik mulut orang yang menghina ayahnya tersebut.
Ia kemudian bergerak ke arah sumber suara yang ia dengar barusan. Tidak butuh waktu lama ia sudah berada di tempat yang ia rasa merupakan tempat dimana suara itu berasal. Ia kemudian mendapati seseorang sedang menatapnya dengan nafsu membunuh yang begitu kuat.
"Ha... Ha... Ha... Kancil sudah termakan umpan dari pemburunya", menteri Balda mengejek ke arah Aryo yang datang sendirian ke tempatnya.
"Kau!!!", mata Aryo melotot ke arah menteri Balda. Ia kemudian baru menyadari bahwa suara yang ia dengar barusan berasal dari mulut menteri Balda, orang yang jelas bertanggung jawab atas penyerangan di kerajaan Adipura saat ia masih menjadi raja dua tahun yang lalu.
Ingatan buruk kembali menyerangnya karena melihat sosok yang sangat ia benci ini. Sosok ini lah yang membuat rakyat menjadi menderita dengan perantara saudaranya, raja Jaka. Tidak sedikit rakyat yang berujung menjadi budak dan harus bekerja tanpa menerima upah sedikitpun bahkan di mata mereka rakyat kerajaan Adipura tak ada bedanya dengan binatang.
Kelaparan dimana-mana dan menjadi musibah besar dalam riwayat kerajaan Adipura yang telah berdiri selama hampir ratusan tahun. Penyakit kulit ikut menyerang para budak yang dipaksa untuk bekerja, karena tidak adanya ketersediaan air yang bisa menampung banyaknya budak yang dipekerjakan menjadikan kata mandi sebagai hal yang langka.
Sebab itu penyakit kulit ikut menjadi wabah yang sangat mengerikan di tanah kerajaan Adipura, karena tidak ingin ambil pusing raja Jaka lantas memerintahkan agar prajurit kerajaan membakar hidup-hidup para penderita penyakit kulit yang sudah kronis sementara yang masih bisa bekerja dipaksa untuk tetap bekerja bagaimanapun caranya.
Tidak hanya itu, selama setahun dalam masa pelarian sambil mengumpulkan kekuatan untuk melakukan pemberontakan, berbagai macam teror selalu menghantui hidupnya kala itu. Ia mengetahui bahwa teror tersebut berasal dari pasukan yang diperintahkan saudaranya sendiri untuk segera membunuhnya.
_____________________________________________
Jangan lupa like dan terus ikuti cerita Takdir Kerajaan Adipura, semoga para pembaca terhibur dengan cerita dalam novel ini.
Salam hangat dari author :)
__ADS_1